Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi pengepakan obat - Kimia Farma (Foto: Antara).

Ilustrasi pengepakan obat - Kimia Farma (Foto: Antara).

Kimia Farma Pertahankan Belanja Modal Rp 500 Miliar

Jumat, 8 Januari 2021 | 21:31 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 500 miliar tahun ini atau hampir sama dengan anggaran tahun lalu yang mencapai Rp 547 miliar. Perseroan berupaya menjaga anggaran investasi tetap efisien di tengah pandemi Covid-19.

Sekretaris Perusahaan Kimia Farma Ganti Winarno mengatakan, pengembangan bisnis dan investasi perseroan harus efektif di tengah kondisi saat ini untuk mendukung kinerja perseroan ke depan. Salah satu bentuk ekspansi tahun ini adalah rencana pembangunan pabrik parasetamol hasil kerja sama dengan PT Kilang Pertamina Internasional, anak usaha PT Pertamina (Persero).

“Investasi fasilitas produksi parasetamol ini sekitar Rp 600 miliar dan bersifat multiyears. Strategi pendanaan berasal dari pemerintah melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) dan fasilitas perbankan,” kata dia kepada Investor Daily, Jumat (8/1).

Akhir tahun lalu, kesepakatan antara Kimia Farma dan Kilang Pertamina ditandai dengan penandatanganan head of agreement. Kedua perusahaan akan melakukan kajian skema kerja sama bisnis berdasarkan hasil joint study, termasuk penyediaan bahan baku benzene, rencana offtake, serta skema transaksi dan kajian komersial.

Selain itu, perseroan juga menyusun strategi pengembangan proyek, yang bertujuan untuk mendukung kemandirian farmasi di dalam negeri, dimana sekitar 95% kebutuhan bahan baku obat saat ini masih impor. Pabrik farmasi parasetamol ini akan memiliki kapasitas 3.800 ton per tahun, dari turunan produk petrokimia, yakni benzene.

Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, Kilang Pertamina dan Kimia Farma berinisiasi mengolah lebih lanjut benzene dan propylene yang berasal dari kilang refinery unit (RU) IV Cilacap untuk dikembangkan dan diproduksi menjadi para amino fenol (PAF). Nantinya, PAF ini akan menjadi bahan baku farmasi, salah satunya parasetamol.

“Kerja sama ini membantu percepatan kemandirian industri farmasi nasional dan menurunkan defisit neraca perdagangan Indonesia melalui produksi paracetamol, serta meningkatkan sinergi dan kolaborasi antar BUMN, baik dari aspek bisnis, riset dan teknologi, hingga pengembangan sumber daya manusia (SDM) nasional yang profesional,” kata dia.

Seperti diketahui, upaya pengurangan bahan baku impor telah masuk dalam peta jalan Holding BUMN Farmasi. Sebelumnya, Kimia Farma menggandeng mintra strategis asal Korea Selatan, Sungwun Pharmacopia Co Ltd, untuk mendirikan PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia yang mengelola pabrik bahan baku obat di Indonesia.

Berdasarkan roadmap, Kimia Farma dan Sungwun berharap dapat mengurangi hingga 24% impor bahan baku di Indonesia pada 2024. Tahun lalu, perseroan sudah memproduksi lima produk yang ditargetkan menurunkan level importasi sebesar 2,7% pada tahun pertama.

Suntikan Dana

Adapun PT Biofarma (Persero), yang memimpin Holding BUMN Farmasi, menerima suntikan dana dari pemerintah melalui PMN senilai Rp 2 triliun. Hal ini telah ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah No 80 Tahun 2020.

Dalam beleid yang ditandatangani Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 30 Desember 2020 tersebut dijelaskan, PMN yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tahun lalu itu bertujuan memperbaiki struktur permodalan dan meningkatkan kapasitas usaha Bio Farma.

Bio Farma yang dibantu Kimia Farma dan PT Indofarma Tbk (INAF) memiliki peran sentral dalam pengadaan dan distribusi vaksin Covid-19. Biofarma mulai mendistribusikan tiga juta dosis vaksin Covid-19 buatan Sinovac ke 34 provinsi di Indonesia pada 3 Januari untuk persiapan pelaksanaan program vaksinasi tahap pertama. Bahkan, Presiden Jokowi dijadwalkan akan menjalani suntik vaksin Covid-19 buatan Sinovac pada 13 Januari.

Sebelumnya, pemerintah mengungkapkan lima sumber pengadaan vaksin Covid-19 di Indonesia, yakni dari perusahaan Tiongkok Sinovac sebanyak 125 juta vaksin, dari perusahaan Amerika Serikat dan Kanada Novavax sebanyak 100 juta dosis, dari perusahaan Inggris AstraZeneca sebanyak 100 juta dosis, dari perusahaan Jerman dan Amerika Pfizer sebanyak 100 juta dosis, serta Global Alliance for Vaccines (GAVI) sebagai bentuk kerja sama multilateral – dimana Indonesia dapat memperoleh 16-100 juta dosis secara gratis.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN