Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Layar elektronik menampilkan indeks harga harga saham di Bursa Efek Indonesia, di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Layar elektronik menampilkan indeks harga harga saham di Bursa Efek Indonesia, di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Kinerja Emiten bakal Cepat Pulih, IHSG Bangkit pada Semester II

Thereis Love Kalla, Rabu, 1 Juli 2020 | 10:02 WIB

JAKARTA, investor.id – Kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang semester I-2020 atau selama Januari-Juni turun 22,1%. Catatan tersebut diiringi oleh aksi jual bersih (net sell) saham oleh investor asing sebesar Rp 32 triliun di pasar reguler, sedangkan di semua pasar tercatat net sell Rp 15 triliun.

“Sentimen utamanya adalah ekspektasi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditranslasikan ke perlambatan dan penurunan laba emiten akibat pandemi Covid-19,” kata Equity Analyst Phillip Sekuritas Indonesia Anugerah Zamzami Nasr kepada Investor Daily, Selasa (30/6).

Zamzami menegaskan, pandemi Covid-19 yang berdampak pada perlambatan ekonomi dan situasi yang tidak pasti, mendorong investor menjauhi aset-aset berisiko seperti saham. Terlebih, Indonesia adalah negara emerging market.

Menurut Zamzami, sektor konstruksi, properti, dan real estat menjadi sektor yang paling terpuruk akibat Covid-19, dengan penurunan sebesar 36,1%. Lalu, sektor agrikultur dengan koreksi sebesar 32,6%. Sedangkan sektor barang konsumsi menjadi sektor yang mampu menahan penurunan tidak terlalu dalam, dengan koreksi sebesar 12,6%.

“Yang mampu bertahan memang sektor barang konsumsi, khususnya yang staples dan sektor infrastruktur, khususnya telekomunikasi. Secara historis, kedua sektor ini ketika masa perlambatan ekonomi, EPS-nya selalu stabil,” jelas Zamzami.

Dia memperkirakan, hingga akhir tahun ini, IHSG bisa mencapai level 5.600. Menurut dia, aktivitas pembukaan kembali ekonomi dan earnings recovery emiten akan lebih cepat, serta rebound harga komoditas akan menjadi faktor pendorong IHSG pada semester II.

Secara terpisah, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, selama semester I, perekonomian global terimbas pandemi Covid-19, kemudian berdampak pada kinerja emiten. “Sehingga pada Januari-Maret 2020, kita dapat kita penurunan IHSG yang cukup dalam hingga ke level 3.911,” ujar dia.

Herditya menegaskan, pergerakan IHSG pada semester II akan bergerak mendatar atau sideways. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan adanya penguatan atau koreksi di dalamnya. Dia pun memperkirakan, IHSG hingga akhir tahun ini akan ditutup pada kisaran yang tidak terlalu jauh dengan penutupan tahun lalu.

Sementara itu, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengungkapkan, pada semester II, pasar saham masih akan penuh dengan volatilitas. Dia memperkirakan, IHSG akan berkisar 5.550 hingga 6.000 sampai dengan akhir tahun 2020. “Naik turunnya masih akan tajam pada semester II,” ujar Rudiyanto.

Dia mengungkapkan, laporan keuangan emiten secara garis besar akan mengalami kontraksi pada kuartal II-2020 akibat terhambatnya aktivitas ekonomi yang disebabkan oleh Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dimulai Maret lalu.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN