Menu
Sign in
@ Contact
Search
Investor berada di kantor cabang Mandiri Sekuritas, Jakarta. (BeritaSatu Photo/David Gita Roza)

Investor berada di kantor cabang Mandiri Sekuritas, Jakarta. (BeritaSatu Photo/David Gita Roza)

Kisi-kisi Pergerakan Saham dalam Sepekan ke Depan

Minggu, 4 Des 2022 | 22:26 WIB
Ghafur Fadillah (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham Gabungan (IHSG) diprediksi cenderung menguat dengan kisaran pergerakan pada level 7.000 hingga 7.350 dalam sepekan ke depan. Pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh berbagai sentimen mulai dari pelonggaran lockdown di Tiongkok hingga kebijakan the Fed.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee memaparkan, setelah akhir pekan ditutup melemah tipis 1,16 poin (0,01%) pada level 7.019, IHSG berpotensi menguat untuk menguji level resistance 7.100-7.252 dengan support di level 6.955-6.805.

Baca juga: Bakal Ada Window Dressing, Berikut Saham Bank yang Akan Kena Efeknya

Ada beberapa data yang akan memengaruhi gerak IHSG, salah satunya peningkatan angka non-farm payrolls yang dikhawatirkan mendorong sikap agresif the Fed. “Meski begitu, faktor kekhawatiran kenaikan suku bunga the Fed di bulan Desember sudah diantisipasi pasar,“ jelas dia kepada Investor Daily, yang dikutip pada Minggu (4/12/2022).

Advertisement

Hans menuturkan, rilis data non-farm payrolls pada periode November memicu prediksi the Fed akan mempertahankan jalur kenaikan suku bunga untuk mengatasi inflasi. Laporan data pekerjaan Departemen Tenaga Kerja menunjukkan non-farm payrolls naik 263.000 atau di atas ekspektasi 200.000 dan pertumbuhan upah dipercepat, bahkan saat kekhawatiran resesi meningkat.

Lebih lanjut, data lain juga menunjukkan bahwa tingkat pengangguran AS tidak berubah, seperti yang diperkirakan sebesar 3,7% dengan pertumbuhan upah berada dalam tren naik sejak Agustus.

Baca juga: Siap-siap Ada Window Dressing, Saham-saham Komoditas Ini Bakal Kasih Cuan!

Menurut Hans, pelaku pasar saat ini berharap tren kenaikan upah dan data tenaga kerja tersebut dapat menahan the Fed untuk kembali meningkatkan suku bunga.

Untuk sentimen positif pasar saham diproyeksikan datang dari pelonggaran protokol karantina Covid-19 di Tiongkok. Hal ini cenderung positif bagi aset berisiko dan harga komoditas, di mana kenaikan harga komoditas cenderung menguntungkan Indonesia. “Pelaku pasar juga menanti kepastian pembatasan harga minyak Rusia,” ujar dia.

Sementara itu, secara teknikal, analis BCA Sekuritas Ahmad Yaki memperkirakan IHSG mampu rebound pada level 7.275-7.350, dengan level moderat 7.150-7.200. Potensi pelemahan IHSG akan dipengaruhi oleh tekanan jual saham GOTO yang bakal ikut menyeret IHSG.

Baca juga: Intip Daftar Rekomendasi dan Target Harga Saham GOTO

“Hanya ada rilis data forex reverse dan consumer confidence index dari dalam negeri. Dari regional masih akan memperhatikan kondisi di Tiongkok,” kata dia.

Namun demikian, hal berbeda disampaikan oleh Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Maximilianus Nico Demus. Menurut dia, IHSG selama enam pekan terakhir sudah bergerak pada rentang yang sama, yakni di 7.000-7.100 dan diproyeksikan berlanjut dalam sepekan ke depan.

Ada beberapa hal yang akan memengaruhi gerak IHSG dalam sepekan ke depan, pertama dari pertemuan the Fed dalam waktu dekat yang diprediksi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25–50 bps atau lebih rendah dari sebelumnya. Ekspektasi ini mendorong optimisme di pasar.

Baca juga: TERPOPULER: Heboh GOTO Dijual Rp 2 per Saham hingga Nasib Kripto

Kedua, tingkat inflasi AS yang diharapkan kembali turun, dan itu akan terjadi pada 13 Desember mendatang atau dua hari sebelum pengumuman bunga acuan oleh the Fed. “Kedua hal ini seharusnya menjadi sebuah dorongan sentimen positif bagi pelaku pasar dan investor,” tutur Nico.

Window Dressing

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian mengatakan, IHSG masih berpeluang menguat hingga akhir 2022 ke level 7.300. Penguatan nantinya ditopang oleh sentimen window dressing menjelang akhir tahun.

“Investor bisa mulai mencermati saham-saham di sektor konsumsi, perbankan, dan ritel dengan strategi averaging down atau buy on weakness,” kata Fajar.

Senada dengan itu, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengungkapkan bahwa potensi terjadinya window dressing masih 50:50. Hal itu lantaran pergerakan IHSG masih cenderung sideways dan berada pada rentang 6.955-7.100. “Untuk window dressing biasanya akan mulai tampak pada pertengahan Desember,” pungkas dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com