Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Peluncuran 2 indeks ESG baru, yakni ESG Sector Leaders IDX KEHATI dan ESG Quality 45 IDX KEHATI. (IST)

Peluncuran 2 indeks ESG baru, yakni ESG Sector Leaders IDX KEHATI dan ESG Quality 45 IDX KEHATI. (IST)

Kolaborasi Yayasan Kehati dan BEI dalam Investasi Hijau

Jumat, 28 Januari 2022 | 15:04 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Produk reksadana dan exchange traded fund (ETF) berbasis ESG cukup berkembang di Indonesia. Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Hasan Fawzi menyebutkan, pada 2017, baru ada tujuh produk reksadana dan ETF berbasis ESG dengan dana kelolaan sebesar Rp 730 miliar. Namun, pada Oktober 2021, jumlah produk bertambah menjadi 15 dengan dana kelolaan mencapai Rp 3,38 triliun.

Peningkatan dana kelolaan itu tidak terjadi tiba-tiba. Hasan mengatakan BEI sudah merancang indeks saham yang bisa menjadi acuan dalam investasi berkelanjutan. Acuan dibuat, bekerjasama dengan lembaga yang peduli pada keuangan berkelanjutan seperti Yayasan Sri Kehati. Dari kerjasama itu, BEI meluncurkan dua indeks, yaitu IDX ESG Leaders dan indeks saham Sustainable and Responsible Investment (SRI) Kehati. Pada 20 Desember 2021 lalu, BEI kembali meluncurkan dua indeks baru, yakni ESG Sector Leaders IDX Kehati dan Indeks ESG Quality 45 IDX Kehati. 

Menurut Hasan, penerapan ESG dalam berinvestasi seharusnya tidak bisa dihindari. Di luar negeri, ia mencontohkan, ada sanksi atau hukuman kepada perusahaan tercatat yang belum menerapkan  ESG. Di Indonesia, sanksi memang belum ada, namun bursa sudah mewajibkan pelaporan sustainability report secara bertahap.

"Tahun 2021 lalu, ada 153 emiten yang menyampaikan sustainability report atau hampir 20 persen dari total perusahaan tercatat," kata dia dalam sebuah webinar akhir tahun lalu.

Baca juga: ESG dan Persaiangan Sawit

Hasan optimistis akan semakin banyak emiten yang menyampaikan sustainability. Sebab, saat ini baru emiten besar (aset di atas Rp 250 miliar) yang wajib menyampaikan laporan. Pada 2022, emiten berkategori medium (dengan aset Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar) juga akan diwajibkan. Selanjutnya, pada 2024, atau untuk pelaporan 2025, seluruh emiten harus mengirimkan laporan.

Ia mengatakan kesadaran akan pentingnya ESG ini yang harus lebih dulu ditekankan pada perusahaan tercatat. "Biar mereka bersaing untuk bisa masuk ke indeks ESG. Kalau tidak masuk, nanti jadi malu sendiri.”

BEI juga mewadahi emiten ini dalam bentuk ESG scoring yang bisa menjadi acuan seberapa ‘hijau’ perusahaan tersebut. Emiten ini juga bisa memamerkan prestasinya dalam website yang dirancang khusus, yakni Microsite ESG. "Situs ini bisa dilihat investor lokal dan global, seberapa jauh emiten menerapkan ESG.” Juga tersedia materi yang bisa menjadi bukti, bila ada pertanyaan kepada perusahaan tersebut.

Untuk mendorong penerapan ESG, BEI memberikan stimulus bagi emiten yang menerbitkan instrumen investasi hijau seperti green bond. Insentif berupa diskon 50% biaya pencatatan tahunan, bila emiten menerbitkan obligasi atau sukuk ramah lingkungan.

Baca juga: Bank Mandiri akan Rilis Green Bond US$ 300 Juta

Direktur Eksekutif Yayasan Kehati Riki Frindos menyatakan, dana kelolaan reksadana dan ETF di tingkat domestik saat ini masih cekak. Namun di tingkat global, sudah lebih dari separuh manajer investasi yang menerapkan ESG dalam prinsip investasi mereka. "Dalam 5-10 tahun mendatang, ESG bukan lagi fitur, tapi bagian terintegrasi dalam produk investasi," dia memaparkan.

Riki menjelaskan, sebagai lembaga yang peduli pada investasi berwawasan lingkungan, Yayasan Kehati meluncurkan produk ETF pertama yang berbasis ESG pada 2014 lalu. Per Desember 2021, Kehati sudah bekerjasama dengan 11 manajer investasi di Indonesia dengan dana kelolaan sebesar Rp 2,7 triliun.

Dalam membuat indeks, Kehati mendapat banyak masukan dari berbagai manajer investasi. Salah satunya, membuat indeks yang terdiri dari saham terbaik di sektornya dan mewakili lebih dari 50 persen kapitalisasi saham di bursa. Pertimbangan ini pula yang mendasari peluncuran dua indeks ESG terbaru pada 20 Desember lalu. "Kami mensurvei beberapa investor dan berusaha memenuhi aspirasi mereka.”

Riki mengatakan peluncuran indeks baru harus diimbangi sosialisasi yang masif. Makanya, Kehati terus menggeber program edukasi mengenai indeks ESG kepada para investor, manajer investasi, dan komunitas lain. Targetnya, tidak hanya menjaring investor institusi tapi juga investor ritel.

Anggota tim ESG Yayasan Kehati, Aulia Nurul Huda, menambahkan Yayasan Kehati memiliki ESG scoring untuk menentukan emiten yang layak masuk indeks. ESG scoring meliputi aspek lingkungan (30%), aspek sosial (30%), dan aspek tata kelola (40%).

Faktor Penentu ESG

ESG Factors, Foto: Yayasan Kehati

Saham yang masuk indeks harus memiliki tingkat likuiditas dan rasio keuangan yang solid. Misalnya, nilai aset di atas Rp 1 triliun, tidak pernah rugi selama tiga tahun berturut-turut, sudah tercatat di bursa lebih dari setahun, dan memiliki free float atau saham yang beredar di publik lebih dari 10%.

"Juga bukan termasuk saham dalam negative sector seperti rokok, pornografi, senjata tajam, alkohol, batubara, nuklir, judi dan pestisida," kata Aulia.

Ia meyakinkan, performa indeks yang diluncurkan Sri Kehati bisa bersaing dengan indeks lain seperti IDX30 dan LQ45, tapi belum bisa mengungguli IHSG. Namun, bila memperhitungkan tingkat risiko yang bisa timbul bila tidak menerapkan ESG, indeks Sri Kehati jauh melampaui IHSG.

Editor : Gita Rossiana (gita.rossiana@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN