Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Produk Indofood di pasaran.

Produk Indofood di pasaran.

Konsistensi Indofood Mencetak Laba

Rabu, 27 Januari 2021 | 04:28 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Pertumbuhan daya beli masyarakat seiring pemulihan ekonomi, kenaikan margin keuntungan setelah akuisisi Pinehill Company Ltd (PCL), dan peningkatan harga jual minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) diharapkan menjadi penopang kinerja keuangan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) tahun ini.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto mengungkapkan, Indofood bakal mampu mencetak pertumbuhan kinerja keuangan tahun ini, terlebih didukung oleh anak usahanya, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Dia memproyeksikan peningkatan laba bersih Indofood Sukses Makmur menjadi Rp 5,73 triliun pada 2021 dibandingkan perkiraan tahun 2020 yang sebesar Rp 5,24 triliun.

Pendapatan juga diproyeksikan naik menjadi Rp 80,91 triliun dari estimasi Rp 76,59 triliun. Begitu juga dengan EBITDA diharapkan meningkat menjadi Rp 15,87 triliun dari estimasi Rp 14,25 triliun.

“Proyeksi pertumbuhan kinerja keuangan Indofood didasari oleh peningkatan kontribusi Indofood CBP setelah Pinehill terkonsolidasi. Konsolidasi tersebut juga diharapkan berdampak pada peningkatan margin keuntungan tahun ini,” tulis Natalia dalam risetnya.

Kegiatan di pabrik Indofood. Foto: dok Investor Daily
Kegiatan di pabrik Indofood. Foto: dok Investor Daily

Selain itu, Indofood bakal ditopang oleh peningkatan konsumsi masyarakat setelah dimulainya program vaksinasi Covid-19. Perseroan juga kemungkinan mulai mendapatkan keuntungan dari bisnis tepung terigu setelah sempat terpuruk tahun lalu. Peluang kenaikan kinerja keuangan perseroan juga bakal didukung oleh rata-rata harga CPO yang diprediksi naik tahun ini.

Meski demikian, menurut Natalia, peningkatan pendapatan dan margin keuntungan Indofood bakal mendapat tantangan dari kenaikan biaya keuangan dan rugi kurs. Hal itu dipicu oleh lonjakan beban utang Indofood CBP dalam rangka mengakuisisi Pinehill pada 2020.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham INDF dengan target harga Rp 8.100. Target harga tersebut merefleksikan PE INDF tahun ini sebesar 12,5 kali. Target harga tersebut juga mempertimbangkan konsolidasi Pinehill oleh IndofoodCBP.

Produk Indofood. Foto: DEFRIZAL
Produk Indofood. Foto: DEFRIZAL

Sementara itu, tim riset Sinarmas Sekuritas juga mengungkapkan, Indofood masih akan ditopang oleh Indofood CBP. “Begitu juga dengan bisnis komoditas perseroan yang diperkirakan menguat sejalan dengan kenaikan harga CPO. Sama halnya dengan outlook bisnis Bogasari,” tulis tim riset Sinarmas Sekuritas.

Adapun harga CPO telah rally ke level tertinggi 3.300 ringgit Malaysia per ton akibat penurunan pasokan dibandingkan level terendahnya tahun lalu sebesar 2.000 ringgit Malaysia per ton. Tahun ini, harga CPO diproyeksikan bertahan di level 3.050 ringgit Malaysia per ton, sehingga Indofood akan mendapatkan tambahan keuntungan dari divisi agribisnis.

Berbagai faktor tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham INDF dengan target harga Rp 8.500. Target harga tersebut mempertimbangkan ekspektasi membaiknya perekonomian nasional yang bakal mendorong pertumbuhan daya beli masyarakat.

Adapun laba bersih Indofood tahun ini diperkirakan naik menjadi Rp 6,17 triliun dibandingkan perkiraan tahun lalu senilai Rp 5,23 triliun. Pendapatan juga diperkirakan naik menjadi Rp 94,57 triliun dari estimasi tahun lalu Rp 81,14 triliun. Begitu juga dengan laba per saham diperkirakan naik menjadi Rp 704 dari Rp 596.

Reorganisasi Aset

Indofood. Foto: IST
Indofood. Foto: IST

Sebelumnya, Indofood Agri Resources Ltd (Indo Agri), anak usaha Indofood Sukses Makmur, bersiap melakukan reorganisasi dan penggabungan aset-aset serta operasi bisnis gula di Brasil. Aksi Grup Salim ini bertujuan untuk persiapan ekspansi di masa mendatang dengan struktur perusahaan yang lebih efisien.

Indo Agri memiliki dua anak usaha hasil joint venture, yakni Companhia Mineira de Açúcar e Álcool Participações (CMAA) and Canápolis Holding SA.

Adapun saham CMAA dikuasai oleh Indo Agri Brazil, Apia SP Participações SA, dan JFLIM Participações S/A. Kemudian, CMAA mengendalikan dua anak usaha, yakni Vale do Tijuco Açúcar e Álcool SA (UVT) dan Vale do Pontal Açúcar e Etanol Ltda (UVP).

Secara umum, UVT dan UVP memiliki bisnis budidaya dan pengolahan tebu untuk bahan produksi etanol dan gula. UVT dan UVP masingmasing mengoperasikan satu pabrik di Minas Gerais, Brasil.

Pabrik tersebut memiliki kapasitas penghacuran tebu masing-masing 4,5 juta ton 2,5 juta ton per tahun. Selain itu, UVT dan UVP juga punya masing-masing 2.481 hektare (ha) dan 1.012 ha lahan perkebunan hak milik.

Indofood. Foto: DEFRIZAL
Indofood. Foto: DEFRIZAL

Sementara itu, Canapolis Holding mengendalikan dua anak perusahaan, yakni Canápolis Açúcar e Etanol SA (UCP) dan Terra Forte Empreendimentos e Partici pações SA (Terra Forte). UCP memiliki pabrik gula di Minas Gerais, Brasil dengan kapasitas peremukan tebu 1,8 juta ton per tahun, sedangkan Terra Forte menguasai 5.881 ha lahan perkebunan hak milik.

Dengan demikian, CMAA dan Canapolis memiliki total gabungan kapasitas pabrik penghancur tebu sebesar 8,8 juta ton per tahun, serta menguasai 9.374 ha lahan perkebunan.

Pabrik-pabrik di Minas Gerais membentuk klaster yang kuat, sehingga memungkinkan terjadinya sinergi operasi dan manajemen. Pada bagian lain, Rio Grande Investment Pte Ltd, yang juga bagian dari Grup Salim bersama JF Family, memiliki perusahaan patungan bernama Livakovic Participações SA (Sugarcane Newco). Perusahaan tersebut menguasai 5.984 ha lahan tebu yang ditanam di lahan pihak ketiga.

Perkebunan ini berjarak sekitar 20 kilometer (km) dari pabrik milik UVT. Sugarcane Newco sebelumnya telah mengadakan perjanjian bersama CMAA untuk memasok tebu ke UVT dengan sejumlah persyaratan komersial

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN