Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah menunggu pelayanan di Bank Syariah Indonesia (BSI) di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten.   Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah menunggu pelayanan di Bank Syariah Indonesia (BSI) di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Konsolidasi BSI (BRIS) dan UUS BTN, Suntikan Tenaga untuk Industri Keuangan Syariah

Kamis, 23 Juni 2022 | 11:35 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id –  Keputusan pemerintah mendorong PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mengakuisisi unit usaha syariah (UUS) PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) merupakan langkah tepat untuk memperkuat industri keuangan syariah.

Anggota Komisi VI DPR RI Achmad Baidowi mengatakan, rencana konsolidasi seluruh bank syariah pelat merah dalam satu atap akan medukung pengembangan industri syariah di Indonesia. “Saya kira bagus karena tinggal BTN Syariah yang belum dilebur ke BSI,” kata Achmad dalam pernyataan tertulis yang diterima, Kamis (23/6/2022). 

Baca juga: BSI (BRIS) Akuisisi BTN Syariah, Berikut Sejumlah Keuntungannya

Advertisement

Menurut dia, hadirnya BTN Syariah di tubuh BSI akan menjadi suntikan tenaga baru bagi industri keuangan syariah. Aset dan keahlian khusus BTN dalam menggarap pembiayaan perumahan akan menjadi modal kuat BSI masuk dalam daftar 10 bank syariah terbesar di dunia.

Bergabungnya BTN Syariah di tubuh BSI juga akan meningkatkan aset bank secara signifikan. Per Maret 2022, aset UUS milik BTN sebesar Rp 37,35 triliun. Oleh karena itu, Indonesia sudah sepatutnya memiliki bank syariah berstatus BUMN dengan kemampuan yang komprehensif. Potensi ekonomi syariah di negara ini terbilang komplit.
Saat ini, Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia. Jumlah penduduk muslim di Tanah Air mencapai 229 juta jiwa atau sekitar 87,2% dari total populasi.

Selain itu preferensi masyarakat pada perbankan syariah tergolong kuat. Hanya perlu sedikit dorongan dan dukungan dari berbagai pihak agar industri syariah di Tanah Air bertumbuh signifikan.

Potensi lain adalah industri halal di Indonesia yang nilainya kurang lebih Rp 4.375 triliun. Dari total nilai tersebut, industri makanan dan minuman halal menyedot porsi terbanyak, yaitu senilai Rp2.088 triliun disusul aset keuangan syariah senilai Rp1.438 triliun.

Pandangan positif juga diungkapkan anggota Komisi VI DPR RI Amin Ak. Menurut dia, penyatuan seluruh bank syariah BUMN dalam satu atap akan melahirkan kekuatan baru bagi industri. Konsolidasi akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat. 

Amin pun mendukung langkah pemerintah asalkan BSI dapat berkomitmen untuk memperbesar pembiayaan kepada UMKM. Menurutnya sejauh ini penyaluran pembiayaan dari bank syariah untuk sektor tersebut masih tergolong kecil.

Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran pembiayaan dari bank umum syariah dan UUS kepada UMKM per Februari 2022 Rp78,59 triliun, naik 11,5% secara tahunan (yoy). Jumlah ini berkontribusi sebesar 19,1% dari total pembiayaan syariah.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Fathan Subchi mengatakan akuisisi BTN Syariah oleh BSI sesuai tren saat ini, di mana bank-bank sudah harus melakukan konsolidasi. “Skenario ambil alih BTN syariah juga diharapkan dapat membuat pasar syariah ke depan semakin berkembang. Oleh sebab itu saya mengimbau, akuisisi ini harus bisa dilakukan dengan lancar, dan sesuai Good Corporate Governance (GCG),” ujar Fathan.

Dia menilai langkah tersebut juga perlu dilakukan guna memperkuat kapasitas BSI di kancah global. “Saya juga melihat upaya BSI ini bisa mendorong rencana BSI yang mau menjadi bank 10 besar bank syariah di dunia," jelas Fathan.

Pertumbuhan Aset

Dalam 10 tahun terakhir pertumbuhan aset bank syariah, rata-rata, selalu di atas industri perbankan secara umum. Pada 2017 misalnya, saat aset bank konvensional tumbuh kurang dari 10% yoy, bank syariah melesat 18,8% yoy.
Begitu pula dalam 4 tahun setelahnya di mana aset bank syariah selalu tumbuh di atas 10% yoy, tetapi bank konvensional rata-rata kurang dari 9% yoy.

Baca juga: Soal Akuisisi Unit Syariah BTN oleh BSI (BRIS), Ada Info Barunya nih!

Kendati demikian pangsa pasar bank syariah tidak terkerek jauh. Sejak 2012 hingga Februari 2022, penguasaan pasar bank yang menjalankan bisnis berdasarkan asas Islam ini hanya bergerak dari 4,37% menjadi lebih dari 6%.
Bila melihat tren, sejak 2012, pertumbuhan aset bank syariah melambat. Pada 2012 bank syariah sempat mencatat kenaikan 24,1% yoy. Kemudian hingga Februari 2022, bank syariah melaporkan pertumbuhan aset lebih dari 20% yoy hanya satu kali yakni pada 2016, sedangkan sisanya berkisar antara 8%–14% secara tahunan.

Sementara itu dari sisi pembiayaan, bank syariah juga terpantau mengalami tren perlambatan pertumbuhan. Per Februari 2022, total pembiayaan naik 7,6% yoy. Pada 2016 fungsi intermediasi bank syariah tumbuh 16,4% yoy.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN