Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fasilitas offtake jalur pipa Kalija. Foto: Bakrie & Brothers.

Fasilitas offtake jalur pipa Kalija. Foto: Bakrie & Brothers.

Konsorsium Bakrie & Brothers Cari Pendanaan US$ 2,2 Miliar

Farid Firdaus, Senin, 30 Maret 2020 | 19:30 WIB

JAKARTA, investor.id – Konsorsium PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dan YTL Jawa Energy BV menargetkan bisa meraih komitmen pendanaan sekitar US$ 1,9-2,2 miliar untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Jati A pada Juni 2020. Mayoritas pendanaan akan dicari dari penerbitan sukuk di pasar Malaysia.

Bakrie & Brothers dan YTL Jawa Energy menggarap PLTU Tanjung Jati A melalui perusahaan patungan bernama PT Tanjung Jati Power Company. Kepemilikan masing-masing perusahaan sebesar 20% dan 80%.

Direktur Utama Bakrie Brothers Anindya Novyan Bakrie mengatakan, pemerintah Indonesia telah memberikan business viability guarantee letter untuk PLTU Tanjung Jati A berkapasitas 2x660 megawatt (MW) pada Januari 2020. Pembebasan lahan untuk proyek yang berlokasi di Cirebon, Jawa Barat ini telah mencapai 239 hektare (ha).

“Kami harap financial closing selesai tahun ini. Kemudian dalam waktu satu setengah hingga dua tahun ke depan bisa operasional. Proyek ini memang sudah kami nanti-nantikan,” jelas dia dalam teleconference di Jakarta, Senin (30/3).

Menurut Anindya, YTL Jawa Energy bertanggung jawab mencarikan pendanaan untuk PLTU lantaran perusahaan asal Malaysia tersebut menguasai mayoritas saham Tanjung Jati. YTL diperkirakan telah menyiapkan rencana pencarian dana semenjak proses akuisisi lahan PLTU yakni pada periode 2017-2018.

Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Amri A. Putro menambahkan, dari total nilai investasi PLTU yang sebesar US$ 2,8 miliar, pendanaan ekternal akan mengambil porsi 70-80%. “Mayoritas akan dari sukuk dan diatur penerbitannya di Malaysia,” ujarnya.

Selain PLTU, perseroan juga fokus pada proyek pembangunan jaringan pipa gas yang telah ditetapkan pemerintah sebagai salah satu proyek strategis nasional. Perseroan tengah bersiap menggarap pembangunan dari Bontang, Kalimantan Timur ke Takisung, Kalimantan Selatan dengan jarak sekitar 600 kilometer (km).

Di proyek infrastruktur jalan tol, anak usaha perseroan yakni PT Cimanggis-Cibitung Tollways juga melanjutkan pembanguan jalan tol Cimanggis-Cibitung. Fase pertama sepanjang 3,2 km rencananya akan difungsikan sebelum Lebaran 2020.

Total panjang tol ini mencapai 26 km, dan merupakan bagian dari proyek Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta 2. Fase kedua proyek ini telah selesai lebih dari 70% dan keseluruhan proyek diperkirakan dapat diselesaikan pada tahun depan.

Sebagai informasi, ruas Cimanggis-Cibitung merupakan proyek yang digarap Bakrie & Brother dengan kepemilikan saham 10% bersama PT Waskita Toll Road yang menguasai 90%. Total investasi proyek mencapai Rp 11 triliun, dan 70% pendanaan berasal dari sindikasi pinjaman bank.

Di luar bisnis yang sudah ada, Bakrie & Brothers melalui PT Bakrie Autoparts juga melebarkan sayapnya dalam mengembangkan moda transportasi bus listrik. Proyek ini telah melewati serangkaian ujicoba dan memenuhi persyaratan teknis dari TransJakarta.

Dalam pengembangan bus listrik, Bakrie Autoparts mengadakan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan operator bus domestik dan perusahan perakit bus. Menurut Amri, Bakrie Autoparts bertindak sebagai pemegang merek dan hanya mengeluarkan modal kerja dalam proyek bus listruk. Sementara dana investasi ditanggung oleh para operator yang menjadi mitra perseroan.

Untuk menopang berbagai ekspansi tahun ini, Bakrie & Brothers menyiapkan belanja modal sekitar Rp 800 miliar. Menurut Amri, anggaran tesebut semula disusun tanpa menghitung faktor pandemi Virus Korona dan pelemahan harga minyak dunia. “Pendanaan belanja modal sebagian besar dari internal kas, dan sisanya bisa dari pinjaman bank dan mitra strategis,” jelas dia.

Tantangan 2020

Sementara itu, Anindya menyadari tahun 2020 merupakan tahun yang penuh tantangan karena adanya dampak dari Covid-19, perang harga minyak dan juga perang dagang. Oleh karena itu, perseroan berupaya mengantisipasinya dengan menangkap peluang dari bisnis di luar sektor minyak dan gas. “Misalnya sebagai produsen pipa baja, kami menyalurkan produk untuk sektor migas dan general market. Kita ingin ekspansinya proposional, jadi tidak terlalu tergantung pada satu sektor,” jelas dia.

Pada 2019, perseroan berhasil meraih laba bersih Rp 852,95 miliar dibanding tahun 2018 saat perseroan masih mencatatakan rugi bersih Rp 1,26 triliun. Sementara, restrukturisasi utang yang dilakukan dalam satu tahun terakhir turut membuahkan hasil positif. Tercatat, beban keuangan dan bunga perseroan berkurang menjadi Rp 175 miliar pada 2019, dari Rp 350 miliar pada 2018.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN