Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wijaya Karya,

Wijaya Karya,

Kontribusi Bisnis Luar Negeri Wika Hampir 10%

Gita Rossiana, Minggu, 13 Oktober 2019 | 19:26 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) optimistis bisnis luar negeri bisa berkontribusi 9% terhadap pendapatan perseroan tahun ini. Dalam jangka panjang, kontribusi bisnis luar negeri ditargetkan mencapai 10%.

Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya atau Wika Mahendra Vijaya menjelaskan, untuk bisa meningkatkan kontribusi bisnis luar negeri, perseroan terus memperluas ekspansi. Selain memperluas ekspansi ke kawasan Afrika, perseroan berencana memperluas ekspansi ke negara lain.

"Selain di Afrika, Wika juga ada proyek di Malaysia, Filipina, Taiwan, dan UEA (Dubai)," kata Mahendra kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Dia menegaskan, perseroan tengah mengerjakan sejumlah proyek di negara-negara tersebut sampai akhir tahun ini. Khusus di Taiwan, perseroan sedang mengerjakan pembangunan jembatan dan stasiun. "Kami juga mengikuti tender untuk proyek bandara di Taiwan," jelasnya.

Dengan berbagai proyek tersebut, Mahendra berharap bisnis luar negeri bisa berkontribusi 9% tahun ini. Sedangkan ke depannya, dia berharap bisnis luar negeri bisa berkontribusi 10%. "Kami berharap bisa berkontribusi 10% dengan dukungan dari Indonesia Eximbank yang bisa mendukung ekspor perusahaan Indonesia di luar negeri," jelas dia.

Sementara itu, Wika bersiap untuk membangun fasilitas terminal pelabuhan cair dan curah senilai US$ 30-40 juta di Zanzibar, Tanzania, Afrika. Perseroan juga mendapatkan tawaran untuk menggarap proyek tambang bersama empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang lain di Madagaskar.

Sebelumnya, Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan, pembangunan fasilitas terminal yang akan digarap Wika dinilai dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Zanzibar. “Kami terus mendorong agar BUMN dapat menjadi mitra strategis negara-negara di Benua Afrika. Diharapkan, kerja sama antara Indonesia dan Zanzibar dapat mempererat hubungan bilateral kedua negara,” kata Rini.

Selain Zanzibar, Wika juga mendapatkan kerja sama proyek pembangunan kawasan bisnis terpadu di Senegal senilai US$ 250 juta dan proyek pembangunan rumah susun di Pantai Gading senilai US$ 66 juta.

Rini pun menawarkan berbagai kerja sama kedua negara di sektor transportasi, pengelolaan bandara, energi, industri farmasi, infrastruktur perkeretaapian, pelabuhan dan perkebunan. Di sektor energi, PT Pertamina (Persero) memiliki mitra ventura yang merupakan produsen gas di Tanzania.

Adapun sebelum kunjungan ke Zanzibar, Rini lebih dulu bertandang ke Madagaskar. Dalam kunjungan ke negara tersebut, Rini mengajak lima BUMN untuk menggarap proyek tambang. Selain Wika, BUMN lain yang mendapatkan tawaran adalah PT Timah Tbk, PT INKA (Persero), PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT LEN Industri (Persero).

Di Madagaskar, Rini melakukan pertemuan dengan Presiden Madagaskar Andry Rajoelani. pihaknya berkomitmen untuk mendorong BUMN membantu Madagaskar dalam pembangunan infrastruktur. Kunjungan kerja ini merupakan arahan langsung Presiden Jokowi dalam membantu pembangunan infrastruktur negara-negara Afrika.

Pada Juni lalu, Wika juga berhasil merampungkan pembangunan proyek Bandara Internasional Oecusse di Timor Leste. Bandara pertama yang dibangun perseroan di luar Indonesia dengan ruang lingkup yang lengkap ini memiliki nilai kontrak sebesar US$ 119 juta.

Lingkup pekerjaan perseroan pada proyek bandara internasional ini meliputi pembuatan runway baru sepanjang 2,5 km, pelebaran dan perluasan wilayah bandara agar bisa menjadi bandara komersial.

Pekerjaan tersebut termasuk pemutakhiran sistem radar dan navigasi serta standar keamanan bandara internasional. Selama periode 2015–2018, proses pembangunan ini melibatkan lebih dari 500 tenaga kerja gabungan Indonesia dan Timor Leste.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA