Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi bisnis.

Ilustrasi bisnis.

Korporasi RI Raup Dana Rp 175 Triliun dari Emisi Obligasi Global

Selasa, 20 Oktober 2020 | 12:34 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Sebanyak 13 perusahaan asal Indonesia telah merealisasikan penerbitan 14 obligasi global (global bond) senilai total US$ 11,93 miliar atau Rp 175,3 triliun selama Januari-Oktober 2020. Mayoritas surat utang tersebut diterbitkan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni 6 perusahaan, dengan perolehan dana sebesar US$ 8,35 miliar atau Rp 122 triliun.

Nilai penerbitan tersebut masih bisa bertambah menjelang sisa waktu tahun ini. Terdekat, PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) mengupayakan penerbitan global bond hingga US$ 485 juta. Obligasi baru ini akan jatuh tempo pada 2024 dan 2025, dan rencananya ditukar dengan obligasi lama perseroan yang jatuh tempo pada 2021 dan 2022. Perseroan telebih dahulu diwajibkan menerima persetujuan minimal 85% dari para investor obligasi lama.

Potensi penerbitan global bond turut tercermin dari sejumlah emiten yang telah menerima persetujuan pemegang saham atas aksi tersebut. Namun, sampai sekarang aksi tersebut belum direalisasikan. Semisal, PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) yang mengincar emisi hingga US$ 400 juta. Lalu, PT Surya Esa Perkasa yang membidik emisi sebesar US$ 650 juta.

Sementara itu, beberapa BUMN juga memiliki program penerbitan global bond yang bisa diterbitkan sewaktu-waktu, Sebagai contoh, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebelumnya telah mendaftar kepada Bursa Efek Singapura (SGX) atas program Euro Medium Term Notes (MTN) sebanyak-banyaknya US$ 2 miliar. PT Hutama Karya juga punya sisa MTN US$ 900 juta dari total US$ 1,5 miliar, sedangkan PT Pertamina menyisakan plafon MTN global sekitar US$ 7,05 miliar dari total US$ 10 miliar.

Head of Fixed Income Research Department BNI Sekuritas Ariawan mengatakan, realisasi penerbitan global bond korporasi tahun ini menjadi yang tertinggi, setidaknya dalam lima tahun terakhir. Pihaknya melihat, penerbitan terjadi di tengah meningkatnya minat investor global terhadap instrumen obligasi berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS), khususnya dari korporasi di negara berkembang. Hal ini lantaran tingkat imbal hasil yang menarik.

“Karena kalau di AS saat ini yield US Treasury bertenor 10 tahun saja cuma 0,75%, yield global bond Pemerintah Indonesia tenor 10 tahun saat ini sekitar 2,1%, maka yield global corporate bond tentu di atas itu,” jelas dia kepada Investor Daily, Senin (19/10).

Global Bond Januari-Oktober 2020.

Menurut Ariawan, ketika tidak adanya currency risk bagi investor global yang memang dana portofolio dalam dolar AS, maka global bond korporasi menjadi sangat menarik. Pihaknya memprediksi, penerbitan global bond tetap cukup tinggi pada 2021.

Hal tersebut didukung sejumlah faktor, semisal suku bunga global yang masih di level rendah. Selain itu, potensi permintaan terhadap instrumen global bond tetap tinggi lantaran likuiditas yang besar di pasar global. Banjir likuiditas tersebut dipicu adanya program stimulus ekonomi dari beberapa negara.

Sementara itu, Head of Research & Market Information Department Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Roby Rushandie mengatakan, realiasi penebitan global bond korporasi tahun ini memang menjadi yang terbesar. Pihaknya melihat aksi penerbitan yang meningkat signifikan dibanding tahun lalu, lantaran basis investor sudah cukup besar.

Demand investor global terhadap obligasi global korporasi Indonesia justru saat ini tinggi memberikan imbal hasil yang atraktif. Sebab, di kondisi suku bunga rendah pada negara-negara maju saat ini, tentunya sulit bagi investor global untuk mendapatkan imbal hasil yang menarik,” jelas dia.

Namun, lanjut Roby, memang sejauh ini baru korporasi besar dengan fundamental bagus yang berniat menerbitkan global bond, terutama BUMN besar. Apalagi Menteri BUMN telah mendorong para BUMN untuk mencari pendanaan dari pasar modal global.

Motivasi utama menggalang dana lewat global bond kebanyakan untuk refinancing dan membiayai modal kerja. Pada 2021, peluang besarnya penerbitan global bond masih dapat berlanjut, terutama oleh BUMN.

Permintaan Tinggi

Minat tinggi investor luar negeri terhadap obligasi global emiten Indonesia biasanya terekam pada pesanan yang masuk selama emiten melakukan penawaran maupun bookbuilding. Apalagi, jika jenis surat utang yang ditawarkan termasuk yang jarang diterbitkan.

Baru-baru ini, Group CEO Star Energy Geothermal Group Hendra S. Tan mengatakan, penawaran green bond 2020 senilai US$ 1,11 miliar oleh Star Energy Geothermal Salak Ltd dan Star Energy Geothermal Darajat II Ltd adalah yang terbesar yang pernah dihimpun oleh Star Energy Geothermal Group.

“Di tengah pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung, green bond yang kami terbitkan telah menerima kelebihan permintaan sebanyak 3,5 kali lipat, yang menunjukkan bahwa investor sangat ingin mendukung perubahan progresif di Indonesia menuju sektor energi yang lebih ramah lingkungan,” jelas dia.

Sebelumnya, global bond bertenor 40 tahun milik Pertamina yang dirilis Februari lalu juga diburu investor. Tenor sepanjang itu baru pertama kali diterbitkan oleh korporasi Indonesia. Manajemen Pertamina menilai, penerbitan tenor yang panjang membuat perseroan lebih mudah dalam mengelola maturity obligasi.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN