Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Produk baja PT Krakatau Steel Tbk. Foto: PTKS

Produk baja PT Krakatau Steel Tbk. Foto: PTKS

Krakatau Steel Bidik Dana hingga US$ 600 Juta dari Divestasi dan IPO Saham Anak Usaha

Selasa, 27 Juli 2021 | 06:03 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) membidik dana segar US$ 200-300 juta dari divestasi 20-30% saham anak usahanya, PT Krakatau Sarana Infrastruktur, pada kuartal III-2021. Perseroan juga menargetkan perolehan dana US$ 200-300 juta dari penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham subholding tersebut pada kuartal I-2022.

“Ya. Ini (angkanya) oke untuk yang strategic investor,” kata Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim kepada Investor Daily, Senin (26/7). Namun, dia enggan menjelaskan lebih lanjut karena belum waktunya untuk diungkap ke publik. “Nanti saja, lagi proses,” ujarnya.

Adapun Indonesia Investment Authority (INA), PT Danareksa, PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF), dan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) dikabarkan berminat membeli saham divestasi Krakatau Sarana Infrastruktur.

Namun, Sekretaris Perusahaan Danareksa Putu Dewika Angganingrum juga belum bersedia menjelaskan lebih rinci. “Masih kami explore dan evaluasi di internal. Akan kami informasikan nanti lebih lanjut. Karena belum final dari tim internal kami evaluasinya,” ucapnya.

Sementara itu, sebelumnya Chief Risk Officer INA Marita Alisjahbana mengatakan, pihaknya sedang melirik banyak sektor mulai dari rantai pasok logistik, help care, green investing, energy power, konsumer, jasa keuangan, dan tourism. Meskipun, untuk fase awal, infrastruktur seperti jalan tol, bandara, dan pelabuhan menjadi sektor yang tahapan pengkajiannya sudah cukup jauh.

“Saat ini, kami sedang melihat jalan tol yang sudah jadi untuk mencari investor asing. Karena kalau itu sudah terjadi akan menjadi turn over untuk menginvestasikan jalan tol baru atau infrastruktur baru. Tapi yang jelas, sekarang ini banyak yang dilihat oleh kami. Karena kami mencari aset untuk ditawarkan kepada investor," tutur Marita, baru-baru ini.

Krakatau Steel sendiri telah membuka penawaran awal kepada investor strategis terkait divestasi saham Krakatau Sarana Infrastruktur sejak awal semester II-2021, dimana saat itu masih bernama PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC). Perseroan menargetkan aksi korporasi tersebut terjadi pada Agustus-September 2021.

Krakatau Sarana Infrastruktur merupakan subholding yang terdiri atas PT Krakatau Bandar Samudera (KBS), PT Krakatau Daya Listrik (KDL), dan PT Krakatau Tirta Industri (KTI). Per 30 September 2020, nilai aset sebelum eliminasi KDL tercatat US$ 245,38 juta, KBS senilai US$ 224,91 juta, dan KTI sebesar US$ 98,42 juta. Sementara, nilai aset KIEC sendiri mencapai US$ 178,46 juta.

Krakatau Steel telah melakukan penambahan modal terhadap KIEC dengan cara penyetoran modal dalam bentuk lainnya (inbreng) saham perseroan di masing-masing anak usahanya, yakni KBS, KDL, dan KTI. Langkah ini sebagai persiapan KIEC yang akan berubah menjadi Krakatau Sarana Infrastruktur dan melangsungkan IPO saham pada kuartal I-2022.

Dengan penatausahaan anak usaha tersebut, maka terdapat pengalihan 99,99% saham perseroan pada KBS, KDL dan KTI sebagai setoran modal perseroan dalam bentuk lainnya kepada KIEC yang merupakan perusahaan terkendali perseroan, dimana Krakatau Steel memiliki 99,99% saham KIEC. Adapun harga penyertaan untuk KBS sebesar Rp 3,85 triliun, KDL Rp 3,74 triliun, dan KTI Rp 2,08 triliun. Beralihnya saham ini efektif mulai 30 Juni 2021.

Menurut Silmy Karim, subholding sarana infrastruktur memiliki fondasi yang kuat secara finansial. Penggabungan empat perusahaan tersebut memiliki pendapatan Rp 3,4 triliun dan nilai EBITDA sebesar Rp 1 triliun pada tahun 2020 dan akan terus berkembang seiring dengan pertumbuhan kebutuhan kawasan industri di Indonesia.

“Dari pembentukan subholding ini diproyeksikan menghasilkan pendapatan hingga Rp 7,8 triliun dalam lima tahun mendatang. Sementara, untuk EBITDA diproyeksikan meningkat mencapai Rp 2,2 triliun pada 2025,” tutur dia.

Anak-anak usaha yang tergabung dalam subholding ini memiliki keunggulan-keunggulan tersendiri. Misalnya, KIEC yang mengelola 3.250 hektare lahan industri dengan 920 hektare lahan industri yang tersedia untuk pengembangan tiga tahun ke depan. KDL memiliki kapasitas 120 MW dan saat ini tengah membangun fasilitas energi terbarukan melalui energi surya terapung yang mulai beroperasi pada tahun 2023.

Lalu, KTI merupakan perusahaan penyedia jasa air industri terintegrasi terbesar di Indonesia dengan kapasitas 3.000 liter per detik di Cilegon. Sedangkan KBS memiliki kapasitas bongkar muat pelabuhan sebesar 25 juta ton per tahun.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN