Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Foto: Perseroan.

PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Foto: Perseroan.

Krakatau Steel: Divestasi Anak Usaha Jadi Prioritas

Farid Firdaus, Rabu, 19 Februari 2020 | 20:34 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) memastikan rencana divestasi anak-anak usahanya masuk dalam rencana aksi korporasi tahun ini. Perseroan tengah menyiapkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) dan divestasi sebagian saham PT Krakatau Daya Listrik (KDL).

Direktur Keuangan Krakatau Steel Tardi mengatakan, aksi kedua anak usaha tersebut dalam tahap pengadaan profesi penunjang dan penyelesaian audit laporan keuangan tahun 2019 sebagai dasar valuasi IPO dan divestasi. Namun, pihaknya belum bisa merinci detail siapa sekuritas yang akan membantu perseroan merealisasi aksi tersebut.

“Kami tunggu dulu audit laporan keuangan 2019 selesai yang saat ini masih dikerjakan oleh kantor akuntan publik PwC,” jelas dia kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (19/2).

Sebelumnya, manajemen Krakatau Steel pernah menyebutkan KBS memang menjanjikan dari sisi valuasi. Perusahaan yang bergerak di bisnis logistik tersebut memiliki total aset sebelum eliminasi US$ 208,12 juta per September 2019.

Pada divestasi KDL, sebelumnya dikabarkan sejumlah investor tertarik mengakuisisi saham perusahaan tersebut. Sejak tahun lalu, salah satu perusahaan yang mengkaji untuk menjadi mitra strategis KDL adalah PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sebagai induk, Krakatau Steel berencana melepas mayoritas saham anak usaha tersebut. Per September 2019, total aset KDL mencapai US$ 238,76 juta

Di luar KBS dan KDL, terdapat anak usaha lain yang pernah dipertimbangkan untuk didivestasi yakni anak-anak usaha yang bergerak di bisnis non-baja seperti PT Krakatau Tirta Industri dan PT Krakatau Industrial Estate Cilegon.

Belakangan, tersiar kabar di pasar yang menyebutkan pengusaha Peter Sondakh tertarik untuk mengakuisisi aset non-baja Krakatau Steel. Peter dikabarkan akan dibantu oleh investor Tiongkok untuk merealisasikan aksi tersebut. Namun, kabar ini dibantah oleh manajemen Krakatau Steel. “Sampai saat ini kami belum ada diskusi dengan pengusaha dimaksud,” kata Tardi.

Pasca Restrukturisasi

Krakatau Steel kini bisa fokus pada kegiatan operasionalnya, setelah perseroan meraih kesekapatan dengan 10 kreditur dalam proses restrukturisasi utang senilai US$ 2 miliar pada Januari lalu.  Aksi ini dinilai mampu memberikan penghematan hingga US$ 685 juta dalam periode sembilan tahun ke depan.

Sebanyak 10 kreditur Krakatau Steel tersebut adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan porsi US$ 618,28 juta, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) senilai US$ 425,92 juta, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar US$ 337,39 juta, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) senilai US$ 238,33 juta, dan PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) sebesar US$ 138,65 juta.

Selain itu, PT Bank ICBC Indonesia dengan porsi sebesar US$ 44,26 juta, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia senilai US$ 79,83 juta, PT Bank DBS Indonesia sebesar US$ 48,61 juta, Standard Chartered Bank senilai US$ 25,62 juta, dan PT Bank Central Asia Tbk Tbk (BBCA) sebesar US$ 48,69 juta.

Skema restrukturisasi utang yang disepakati antara Krakatau Steel dengan kreditur terbagi dalam tiga skema, antara lain tranche A dengan porsi US$ 220 juta bertenor sembilan tahun atau berakhir pada 2027, tranche B sebanyak US$ 735 juta bertenor tiga tahun, serta tranche C1 dan C2 yang masing-masing senilai US$ 789 juta dan US$ 262 juta bertenor sembilan tahun.

Sebagai informasi, sebagian cicilan pokok Krakatau Steel yang sebesar US$ 926 juta semula jatuh tempo pada 2019. Dengan adanya restrukturisasi, cicilan ini berkurang dari tahun ke tahun hingga nanti berakhir pada 2027.

Sebelumnya, Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, melalui, restrukturisasi, total beban bunga selama sembilan tahun dapat berkurang secara signifikan dari US$ 847 juta menjadi US$ 466 juta. Sementara, penghematan biaya yang diraih perseroan selama sembilan tahun sebesar US$ 522 juta untuk penghematan beban keuangan dan US$ 163 juta untuk optimalisasi operasional perseroan. Selama proyek restrukturisasi ini berlangsung, operasional perseroan diharapkan berjalan lebih baik.

“Langkah selanjutnya setelah kesepakatan ini adalah kita akan memantapkan supaya operasional lebih efisien. Jadi perseroan fokus pada bisnis yang hanya berhubungan dengan baja,” jelas dia.

Silmy menerangkan, perseroan masih meninjau mana saja anak-anak usaha yang menguntungkan dan tidak menguntungkan atau yang berhubungan dengan bisnis baja dan yang tidak sama sekali. Salah satu yang disoroti adalah anak usaha yang bergerak di bisnis rumah sakit.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN