Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Produk baja besutan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Foto: PTKS

Produk baja besutan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Foto: PTKS

Krakatau Steel Resmi Bentuk Subholding Sarana Infrastruktur, Saham Mayoritas Dipegang PT KIEC

Senin, 5 Juli 2021 | 14:17 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk menuntaskan pendirian Subholding Sarana Infrastruktur. Perusahaan ini dibentuk dari hasil integrasi beberapa anak perusahaan Krakatau Steel yakni PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (PT KIEC), PT Krakatau Daya Listrik (PT KDL), PT Krakatau Tirta Industri (PT KTI), dan PT Krakatau Bandar Samudera (PT KBS).

Dari keterbukaan informasi, PT KBS menyertakan saham senilai Rp 3,85 triliun, PT KDL senilai Rp 3,74, dan PT KTI senilai Rp 2,08 triliun kepada PT KIEC. Dengan demikian, PT KIEC menjadi pemegang saham mayoritas dari ketiga anak usaha tersebut.

Dokumen pembentukan Subholding Sarana Infrastruktur Krakatau Steel telah ditandatangani Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim dan pemegang saham lain pada Rabu (30/6) lalu.

Silmy Karim. Foto: IST
Silmy Karim. Foto: IST

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, Subholding Sarana Infrastruktur memiliki pondasi kuat secara finansial. Integrasi empat perusahaan tersebut memiliki pendapatan Rp 3,4 triliun dan nilai EBITDA sebesar Rp 1 triliun pada 2020 dan akan terus berkembang seiring dengan pertumbuhan kebutuhan kawasan industri di Indonesia.

“Dari pembentukan subholding ini diproyeksikan menghasilkan pendapatan hingga Rp 7,8 triliun di lima tahun mendatang. Sementara EBITDA diproyeksikan meningkat mencapai Rp 2,2 triliun pada 2025,” kata Silmy dalam keterangan resminya, Senin (5/7).

Ia menambahkan, pembentukan Subholding Sarana Infrastruktur Krakatau Steel merupakan bagian dari transformasi Krakatau Steel untuk meningkatkan value perusahaan melalui pengelolaan yang lebih baik dan pengembangan yang fokus dan terukur.

Pada 2020, puluhan perusahaan multinasional dan domestik ternama berinvestasi dengan potensi pertumbuhan yang lebih besar di tahun mendatang.

Beberapa industri itu di antaranya Semen Indonesia, Holcim, Pupuk Indonesia, Posco, Nippon Steel, PT Timah, Asahimas, Lotte Chemical, Chandra Asri, Indofood, Charoen Pokphand, JAPFA, Astra Internasional, Indonesia Power, dan masih banyak lainnya.

Anak-anak usaha yang tergabung dalam Subholding Sarana Infrastruktur juga memiliki keunggulan-keunggulan seperti PT KIEC mengelola 3.250 hektar lahan industri di mana 920 hektar lahan tersedia untuk pengembangan tiga tahun ke depan. Terlebih, area kawasan industri yang dikelola PT KIEC juga merupakan salah satu dari lima kawasan industri terbesar di Indonesia.

Selanjutnya, PT KDL memiliki kapasitas 120 MW dan saat ini sedang fokus membangun fasilitas energi terbarukan melalui energi surya terapung yang mulai beroperasi pada 2023 mendatang.  

Perusahaan lainnya adalah PT KTI. Perusahaan penyedia jasa air industri terintegrasi terbesar di Indonesia dengan kapasitas 3.000 liter per detik di Cilegon dan penambahan 1.600 liter per detik yang saat ini dikembangkan di Gresik, Kendari, dan Sumbawa.

Terakhir, PT KBS berkapasitas bongkar muat pelabuhan sebesar 25 juta ton per tahun dengan ketersediaan 17 jeti sekaligus menjadi pelabuhan curah terbesar dan terdalam secara alami di Indonesia dengan fasilitas pergudangan yang terintegerasi dan efisien.

Menurut Silmy, keunggulan-keunggulan infrastruktur tersebut berada dalam satu kawasan industri sehingga akan membuat Sarana Infrastruktur Krakatau Steel lebih kompetitif dibanding dengan kawasan industri lain di Indonesia.

Lebih jauh, keunggulan lain kawasan industri ini juga berada di lokasi strategis dan memiliki konektivitas yang baik karena berdekatan dengan bandara internasional Soekarno Hatta, Ibu Kota Jalarta, dan terhubung dengan jalur kereta api pulau Jawa serta lokasi pelabuhan PT KBS yang merupakan perlintasan jalur logistik dunia.

"Dengan beragam keunggulan tersebut area Subholding Sarana Infrastruktur ke depan berpotensi menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK),” tutup Silmy.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN