Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ilustrasi emas PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA). (ist)

Ilustrasi emas PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA). (ist)

Krisis Global di Depan Mata, Emas Jadi Primadona?

Jumat, 30 September 2022 | 15:57 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id – Perang, tekanan inflasi, dan kenaikan suku bunga agresif yang dilakukan sejumlah bank sentral akan membawa ekonomi global ke jurang resesi tahun 2023. Tanda-tanda krisis sudah terasa, terlihat pada jatuhnya harga aset keuangan, mulai dari saham hingga obligasi.

Di tengah krisis yang di depan mata, langkah apa yang perlu diambil investor? Apakah emas akan jadi primadona saat krisis global?

Ekonom MNC Sekuritas Tirta Citradi menuturkan, investor akan cenderung defensif dalam mengatur alokasi aset di portofolionya. Banyak yang menilai bahwa era “cash is king” dimulai lagi saat harga aset-aset keuangan global berguguran. Adapun aset berupa saham dan obligasi global masih berpeluang melanjutkan tren koreksi, karena risiko ketidakpastian tetap tinggi.

“Dalam kondisi ini, investor yang bijak akan mengalokasikan 5-10% portfolio dalam bentuk emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Coba bayangkan nilai Rp 1.000 tahun 2010 itu setara dengan Rp 1.629 sekarang. Artinya, uang di masa lalu jauh lebih berharga dari masa sekarang, karena inflasi rata-rata mencapai 4,12% per tahun. Secara sederhana, nilai uang relatif terhadap barang dan jasa susut hampir 63%,” tutur Tirta, Jumat (30/9/2022).

Lebih lanjut Tirta menjelaskan, jika hanya menyimpan cash, investor akan rugi. Sebagai bagian dari manajemen risiko, di sinilah peran emas muncul. Pada 2010, harga rata-rata emas masih sekitar Rp 350 ribu per gram, sedangkan sekarang Rp 863 ribu per gram. Artinya, imbal hasil emas mencapai 7,62% per tahun, melampaui inflasi 4,12%.

“Terkait pelemahan harga emas, hal ini terjadi karena dolar AS menguat. Namun, perlu diingat, rupiah juga melemah. Depresiasi rupiah terhadap dolar AS juga dapat memicu kenaikan inflasi, sehingga harga emas domestik yang dipatok dalam rupiah akan cenderung lebih tahan banting. Hal ini selama 2013-2015. Tahun 2013, harga emas dunia secara rata-rata melemah 15,41%, tetapi harga emas domestik hanya melemah 6,2%,” kata Tirta.

Tahun berikutnya, kata dia, harga emas dunia secara rata-rata melemah 10,28%. Tetapi, harga emas di dalam negeri malah naik 2,42%. Hal ini terjadi karena nilai tukar rupiah juga melemah terhadap dolar AS kala itu.

Tirta menjelaskan, emas sebenarnya mata uang, layaknya dolar AS dan rupiah. Bedanya, suplai emas lebih terbatas, sehingga bisa jadi aset minim risiko sekaligus lindung nilai. Sementara itu, uang volume serta harganya bisa diatur oleh bank sentral.

Sejalan dengan Tirta, Direktur Utama PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), emiten yang bergerak di bidang manufaktur perhiasan emas terintegrasi di Indonesia, Sandra Sunanto menjelaskan, di tengah ancaman krisis, emas adalah safe haven yang sebenarnya menjadi pilihan, serta telah memiliki proven track record bagi masyarakat Indonesia.

Menurut dia, tingginya minat masyarakat berinvestasi emas secara berkala, apalagi di tengah penurunan harga emas saat ini, menjadi pendorong kontribusi pertumbuhan volume penjualan produk EmasKITA dan Kencana yang diproyeksikan mencapai 60% akhir 2022.  

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com