Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Garuda Indonesia. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Garuda Indonesia. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Kuartal I, Garuda akan Terbitkan Sukuk Global US$ 500 Juta

Farid Firdaus, Senin, 27 Januari 2020 | 10:04 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) berencana menerbitkan sukuk global minimal US$ 500 juta pada kuartal I-2020. Perseroan akan mengejar penyelesaian limited riview laporan keuangan 2019 guna merealisasikan aksi korporasi tersebut.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, sukuk global akan menjadi prioritas lantaran perseroan menghadapi utang jatuh tempo sukuk global senilai US$ 500 juta pada 3 Juni 2020. Proses penerbitan nantinya turut melewati persetujuan dewan komisaris perseroan.

“Kita mesti selesaikan utang ini secepatnya. Yang prioritas global sukuk, kita akan negosiasi,” jelas dia kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dalam rencana pelunasan kembali utang (refinancing),  semula perseroan memang merancang penerbitan sukuk global atau instrumen lainnya dengan nilai maksimum US$ 900 juta. Perseroan sempat mengumumkan rencana ini pada Desember 2019, dan berniat meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 22 Januari lalu.

Namun, PwC yang ditunjuk Garuda untuk melakukan limited review laporan keuangan 2019 belum menuntaskan pekerjaan tersebut menjelang RUPSLB. Akhirnya, perseroan tidak memasukkan agenda itu pada RUPSLB. Pada rancangan awal, nilai emisi sukuk global yang ditargetkan perseroan adalah US$ 750 juta.

Irfan menyadari struktur keuangan Garuda menjadi salah satu fokus utama dirinya ketika menjabar direktur utama yang baru. Selain sukuk global, perseroan akan mencari alternatif pendanaan yang lain, dan bernegosiasi dengan kreditur untuk mencari utang baru.

Dari sisi operasional, Irfan juga menyoroti keberadaan anak dan cucu perusahaan. Maskapai nasional ini setidaknya memiliki tujuh anak perusahaan dan 19 cucu perusahaan di berbagai bidang seperti maskapai penerbangan berbiaya murah (low cost carrier/LCC), ground handlinginflight cateringmaintenance facility, jasa teknologi informasi. Kemudian jasa reservasi, perhotelan, transportasi darat, e-commerce & market place, jasa ekspedisi kargo, hingga tour & travel.

“Untuk anak usaha, kami akan lihat (kaji), sudah ada rekomendasi untuk segera dieksekusi beberapa bisnis ini. Apakah anak usaha masuk kembali ke induknya dan jadi bagian usaha tersebut, untuk mengurangi eksposur jumlah cucu," jelas dia.

Irfan menambahkan, pihaknya berusaha untuk menemukan skema yang tepat terkait pemangkasan anak dan cucu perusahaan. Konsolidasi dipastikan akan dilakukan seiring dengan arahan dari Menteri BUMN Erick Thohir.

Salah satu anak usaha yang paling disoroti dan hasil bentukan manajemen lama adalah PT Garuda Tauberes Indonesia (GTI) yang bergerak di pemograman dan jasa konsultasi computer.

“Tahuberes ini belum jalan, sejak ribut-ribut di manajeman lama yang lalu, perusahaan itu sama sekali belum jalan. Kita akan analisa satu-satu anak usaha,” jelas dia.

Pakta Integritas

Sementara itu, Irfan mengakui membutuhan sejumlah figur dari manajemen lama untuk membantunya menyelesaikan persoalan Garuda. Sosok dari manajemen lama dipekerjakan supaya ada kesinambungan. Pihaknya menjamin seluruh jajaran Garuda tak ada lagi yang melakukan penyelewengan jabatan dengan cara kesepakatan Pakta Integritas.

"Pakta Integritas ini akan kita tekankan untuk tidak melakukan penyalahgunaan wewenang atasan kepada bahwaan. Kita akan melakukan tindakan tertentu jika terbukti ada penyelewengan," tegas dia.

Pada kesempatan sama, Komisaris Utama Garuda Triawan Munaf menambahkan, pihaknya siap memperhatikan hal-hal kecil yang berkembang di masyarakat, serta membuka pintu selebar-lebarnya untuk masukan agar ke depannya perseroan menjadi lebih baik.

Selain persepsi, lanjut diam dewan komisaris akan terus memperhatikan kinerja perseroan agar tetap memberikan pelayanan yang terbaik kepada konsumen.

“Semua kami bicarakan, kami kaji yang penting ke depannya karena bisnis maskapai adalah bisnis kebahagiaan, jangan dibebani hal yang negatif, jadi antara persepi dan kinerja harus seimbang, kinerja yang baik akan memproyeksikan persepi yang baik juga,” ujarnya.

Seperti diketahui, Fuad Rizal yang kini diminta menjabat sebagai direktur keuangan dan manajemen risiko Garuda Indonesia merupakan direksi lama yang dipertahankan pada kepengurusan baru.

Ketika skandal penyelendupan motor Harley Davidson dan Sepeda Brompton terkuak yang melibatkan sejumlah direksi Garuda Indonesia yang lama, Fuad harus menjabat sebagai Plt Direktur Utama sejak 9 Desember 2019.

Selain Fuad, Garuda juga memustukan mengambil empat direksi baru yang lain dari internal perseroan. Mereka adalah  Direktur Operasi Tumpal Manumpak Hutapea, Direktur Human Capital Aryaperwira Adileksana, Direktur Niaga dan Kargo M. Rizal Pahlevi, dan Direktur Teknik Rahmat Hanafi.

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN