Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lippo Karawaci. Foto: whatsnewindonesia.com

Lippo Karawaci. Foto: whatsnewindonesia.com

Kuartal I-2020, Lippo Karawaci Raih Kenaikan Pendapatan 8,5%

Selasa, 30 Juni 2020 | 13:37 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id – PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) membukukan kenaikan pendapatan sebanyak 8,5% menjadi Rp 3,10 triliun hingga kuartal I-2020, dibandingkan kuartal I-2019 senilai Rp 2,86 triliun.

Pertumbuhan pendapatan didukung kuatnya pertumbuhan bisnis real estate development sebesar 12,3% secara tahunan menjadi Rp 678 miliar yang bersumber dari pengakuan pendapatan Orange County yang dalam tahap penyelesaian.

Pendapatan perseroan turut dikontribusikan dari penjualan lahan komersial dan rumah toko serta penjualan lahan industri yang telah mendorong pendapatan anak usaha PT Lippo Cikarang (LPCK) sebesar 44% secara tahunan menjadi Rp 574 miliar hingga kuartal I-2020.

Sedangkan kontribusi terbesar pendapatan berasal dari segmen bisnis healthcare yang terus bertumbuh. Bisnis ini mencatatkan peningkatan pendapatan sebesar 9,7%, menjadi Rp 1,88 triliun pada kuartal I-2020, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 1,71 triliun. Tanda positif lainnya berasal dari peningkatan pra penjualan perseroan sebesar 13% menjadi Rp 703 miliar pada kuartal I-2020, dibandingkan kuartal I-2019 senilai Rp 623 miliar.

CEO Lippo Karawaci John Riady mengatakan, pada kuartal I-2020, perseroan terus menunjukkan kemajuan transformasinya. Pra penjualan mencapai 28% dari target tahun 2020 sebesar Rp 2,5 triliun. Lebih penting lagi, pra penjualan perseroan didorong kesuksesan peluncuran Waterfront Estates di Cikarang.

“Pada semester II-2020, perseroan akan meluncurkan proyek perumahan tapak baru di kota mandiri Lippo Village di Karawaci yang menyasar segmen kelas menengah dengan harga yang sangat menarik. Pada masa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, kami akan terus berhati-hati dalam mengelola arus kas dan tetap fokus pada keunggulan operasional di bisnis core, properti, dan healthcare,” jelas dia dalam keterangan resmi, Selasa (30/6).

Sebagai informasi, komplek apartemen Orange County telah memasuki masa penyelesaian pembangunan dan mencatatkan pendapatan Rp 279 miliar di kuartal I-2020 atau meningkat 62% dari kuartal I-2019 Rp 172 miliar.

Selain itu, penjualan lahan industri sebesar Rp 59 miliar serta penjualan lahan komersial dan rumah toko sebesar Rp57 miliar di kuartal I-2020, dibandingkan tidak ada penjualan pada kuartal I-2019, turut mendorong pertumbuhan pendapatan Lippo Cikarang

Pada bisnis kesehatan, Siloam Hospitals mencatat pertumbuhan pendapatan yang sehat di kuartal I-2020 sebesar 9,7% menjadi Rp 1,88 triliun dari Rp 1,71 triliun di tahun sebelumnya. Perolehan ini berkontribusi terhadap 77,5% dari total pendapatan recurring di kuartal I-2020 dibandingkan dengan kontribusi sebesar 75,9% di kuartal I-2019.

Pada kuartal I-2020, Siloam mengoperasikan 37 rumah sakit di seluruh Indonesia. Secara keseluruhan, pendapatan Lippo Karawaci dari segmen bisnis real estate management & services meningkat 7,3% menjadi Rp2,4 triliun, yang merupakan 77% dari total pendapatan di kuartal I-2020 dibandingkan dengan 77,9% di kuartal I-2019.

Lippo Karawaci membukukan laba bruto sebesar Rp 1,33 triliun di kuartal I-2020 dari Rp 1,24 triliun di kuartal I-2019. Ketiga pilar bisnis perseroan melaporkan peningkatan laba bruto. Real estate development mencatat peningkatan laba bruto sebesar 10,4% menjadi Rp 337 miliar di kuartal I-2020 dari Rp 305 miliar di kuartal I-2019. Sedangkan real estate management & services mencatat pertumbuhan laba bruto 5,6% menjadi Rp 958 miliar di kuartal I-2020 dari Rp 907 miliar di tahun sebelumnya.

EBITDA Lippo Karawaci di kuartal I-2020 meningkat 50,4% menjadi Rp705 miliar dari Rp 469 miliar di kuartal I-2019. Adapun, perseroan harus melakukan penyesuaian dengan adanya adopsi PSAK 73 baru-baru ini. PSAK 73 menyebabkan perubahan dari beban sewa ke biaya bunga, sehingga EBITDA tampak menjadi lebih tinggi.

Dampaknya sebesar Rp 128 miliar yang menyiratkan normalisasi EBITDA sebesar Rp 577 miliar atau naik sebesar 23% secara tahunan. Pilar real rstate development memimpin pertumbuhan EBITDA dengan peningkatan 108% menjadi Rp 148 miliar di kuartal I-2020 dari Rp 71 miliar di kuartal I-2019.

Disamping itu, Siloam membukukan pertumbuhan EBITDA yang kuat sebesar 31,3% menjadi Rp 304 miliar (marjin 21,5%) di kuartal I-2020 dari Rp 231 miliar (marjin 17,9%) di kuartal I-2019.

John mengatakan, secara keseluruhan marjin EBITDA telah membaik menjadi 23% di kuartal I-2020 dari 16% di kuartal I-2019. Namun, sesuai dengan kebijakan akuntansi mark to market, perseroan mengalami rugi selisih kurs sebesar Rp 2,39 triliun di Lippo Karawaci pada kuartal I-2020, karena rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS. Perseroan melaporkan rugi bersih konsolidasian sebesar Rp 2,12 triliun, dibandingkan dengan laba bersih sebesar Rp 50 miliar pada periode sama tahun lalu.

“Melihat perkembangan nilai tukar saat ini, kami perkirakan adanya penyesuaian selisih kurs yang menguntungkan di kuartal dua tahun ini, sesuai dengan kebijakan akuntansi mark to market,” jelas dia.

Pada kuartal I-2020, Lippo Karawaci memperkuat posisi kasnya dan memperbaiki jatuh tempo utangnya dengan pembiayaan kembali obligasinya dari 2022 menjadi 2025. Saldo kas dan setara kas pada kuartal I-2020 sebesar Rp5,36 triliun dibandingkan dengan Rp4,69 triliun pada akhir tahun 2019.

Perseroan meningkatkan saldo kas sebesar Rp 860 miliar dengan melepas posisi lindung nilai yang ada dan menggantinya dengan lindung nilai collar pada Rp 15.000 hingga Rp 17.500 serta menambah kas sebesar Rp356 miliar dari pelepasan saham First REIT di kuartal I- 2020.

Lippo Karawaci mencatat total utang yang lebih tinggi dalam rupiah, mencapai Rp14,54 triliun dibanding dengan Rp12,25 triliun pada akhir tahun 2019, terutama disebabkan oleh pelemahan rupiah. Pada kuartal I-2020, rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS sebesar 17,7% menjadi Rp16.367 dibandingkan Rp13.901 pada akhir tahun 2019.

Alhasil, rasio utang bersih terhadap ekuitas perseroan menjadi 0,29 kali pada kuartal I-2020 dibandingkan dengan 0,22 kali pada kuartal IV-2019. Perseroan menjajaki peluang untuk mendiversifikasi sebagian utang dari dolar AS, dengan lebih banyak utang dalam mata uang rupiah, karena saat ini utang berdenominasi dolar AS sebesar 91% dari total utang.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN