Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kantor Pusat PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). (Foto: Perseroan)

Kantor Pusat PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). (Foto: Perseroan)

Laba Per Saham Unilever (UNVR) Bisa Turun Karena Ini....

Senin, 9 Mei 2022 | 15:32 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Perusahaan penasihat investasi PT Nilzon Kapital Advisor menilai laba per saham (earning per share/EPS) PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) akan turun apabila manajemen tidak menunda pengakuan beban pada tiga bulan pertama 2022.

"Kami menemukan hal yang sangat menarik dari laporan keuangan UNVR pada kuartal pertama tahun 2022 yang baru saja terbit. Kenaikan laba sebesar 19,03% year-on-year ternyata hampir seluruhnya bukan disebabkan oleh kesuksesan operasional, melainkan karena hilangnya beban 'biaya jasa dan ETS' secara mendadak dari laporan keuangan. Biaya tersebut sejatinya dicatatkan secara konsisten oleh UNVR dan dibayarkan kepada pihak terafiliasi, namun tidak pada Q1 tahun ini," kata President and Principal Advisor Nilzon Kapital Frizon Akbar Putra, Senin (9/5/2022).

Adapun, ketiadaan beban biaya jasa dan ETS UNVR nilainya mencapai Rp 337 miliar. Frizon menyebut ketiadaan indikator tersebut pada laporan kinerja sebuah emiten bukan terjadi kali ini sana. "Sejarah menunjukkan bahwa 'biaya jasa dan ETS' kemungkinan akan ditunda ke kuartal berikutnya, bukan dihilangkan," ujarnya.

Baca juga: Unilever (UNVR) Akui Kenaikan Harga Komoditas Pengaruhi Komponen Biaya Hingga 20%

Frizon mencontohkan, pada kuartal II-2012 silam beban biaya nasa juga tidak ada pada laporan kinerja UNVR. Akan tetapi, biaya tersebut ternyata membengkak pada kuartal berikutnya. Jika dirata-rata, biaya jasa yang hilang hanya ditunda pencatatannya.

Merujuk pada kejadian 10 tahun silam, Nilzon Kapital menyebut investor harus bersiap akan kemungkinan adanya akumulasi beban biaya jasa dan ETS pada kuartal selanjutnya pada 2022.

"Investor sebaiknya memperhatikan dengan seksama klarifikasi atau keterbukaan informasi yang mungkin akan disampaikan oleh manajemen UNVR terkait alasan dibalik nilai beban 'biaya jasa dan ETS' yang tidak biasa di Q1 2022, terutama apakah karena adanya penundaan pengakuan beban atau ada alasan lain," ujarnya.

Pada pengungkapan yang ada di laporan keuangan UNVR, tercatat tarif 'biaya jasa dan ETS' yang dibebankan kepada UNVR untuk dibayarkan kepada perusahaan terafiliasi adalah sebanyak- banyaknya sebesar 3% dari total penjualan setahun kepada pihak ketiga untuk 'biaya jasa' dan ditambah 1% dari penjualan bersih domestik tahunan untuk 'biaya ETS'.

Baca juga: Unilever Indonesia (UNVR) Cetak Kenaikan Laba 19% pada Kuartal I 2022

Di dalam risetnya, Nilzon Capital mengestimasi 'biaya jasa dan ETS' mungkin akan menjadi Rp 421,8 miliar secara prorata jika memang benar bahwa biaya tersebut hilang hanya karena masalah timing pengakuan beban. Jumlah tersebut dihitung berdasarkan perkalian antara persentase historis aktual dari tarif 'biaya jasa dan ETS' selama Q2-Q4 2021 sebesar 3,89% dengan penjualan yang berhasil dibukukan oleh UNVR pada Q1 2022 sebesar Rp 10,83 triliun.

Principal Advisor Nilzon Capital John Octavianus menilai, kinerja UNVR masih tertinggal jauh di belakang sister companies-nya di berbagai negara. UNVR juga tertinggal dibandingkan semua regional Grup Unilever kecuali Eropa dan tertinggal dari perusahaan induknya sendiri, Unilever PLC.

"Walaupun penjualan bersih naik 5,40% YoY, UNVR masih belum berhasil mengimbangi kenaikan biaya bahan baku yang melonjak 12,45% YoY dan menurunkan marjin laba kotor sebesar 379 bps dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu," pungkasnya.

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN