Menu
Sign in
@ Contact
Search
Direktur Utama PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim/PKT) Rahmad Pribadi (kiri) tengah berbincang dengan Pemimpin Redaksi Investor Daily Primus Dorimulu (kanan) di kantor BeritaSatu Media Holdings, Jakarta, 20 September 2022.

Direktur Utama PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim/PKT) Rahmad Pribadi (kiri) tengah berbincang dengan Pemimpin Redaksi Investor Daily Primus Dorimulu (kanan) di kantor BeritaSatu Media Holdings, Jakarta, 20 September 2022.

Laba Pupuk Kaltim Tembus Rp 10 Triliun

Rabu, 28 September 2022 | 17:43 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor.id – PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim/PKT) berhasil membukukan kinerja keuangan yang impresif dengan mencetak laba Rp 10 triliun sampai akhir Agustus 2022. Sementara itu, pada 1 Januari-31 Agustus 2022, target produksi pupuk urea PKT telah terealisasi 63,43%, pupuk NPK sebesar 68,3%, dan amonia 70,71%. Saat ini, sebagian besar produk PKT tersebut menyasar pasar ekspor.

Direktur Utama PKT Rahmad Pribadi menjelaskan, sepanjang 1 Januari-31 Agustus 2022, PKT telah memproduksi pupuk urea 63,43% dari target sepanjang tahun sebesar 3,42 juta ton, NPK mencapai 68,3% dari target 250 ribu ton, amonia sebesar 70,71% dari target 2,79 juta ton.

“Alhamdulillah, PKT berhasil mencatatkan kinerja yang cukup baik. Pada 2021, PKT berhasil mencatatkan laba setelah pajak Rp 6,17 triliun. Pada semester I-2022, laba PKT mencapai Rp 9 triliun dan lebih dari Rp 10 triliun pada Agustus 2022. Pencapaian ini merupakan tertinggi sepanjang sejarah,” ungkap Rahmad Pribadi saat berkunjung ke Redaksi Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Baca juga: Produksi Pupuk PKT Tahun Ini Dekati Target 

Capaian kinerja tersebut tentunya berkat semangat, kinerja yang prima, dan kesiapan seluruh tim di PKT pada dinamika pasar dan tidak dapat dipungkri bahwa hal itu juga karena efek windfall pasar global. PKT mengapresiasi seluruh insan karyawan PKT yang siap dan sigap dalam mengambil kesempatan dan memanfaatkan sebaik-baiknya sehingga perusahaan bisa mencetak prestasi yang bersejarah sepanjang berdirinya perusahaan.

Direktur Utama PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) Rahmad Pribadi. (Beritasatu Photo/Uthan AR)

Saat ini, PKT membidik negara-negara yang terkena dampak dari naiknya harga gas bumi atau negara- negara yang mengimpor pupuk dari Rusia atau Eropa, seperti India, Meksiko, Australia, Amerika Serikat (AS), dan Amerika Selatan.

“Tentunya dengan tetap mempertahankan pasar ekspor kami lainnya, yakni negara-negara Asia Tenggara, seperti Thailand, dan Asia Timur. Dan setelah memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri terpenuhi,” jelas Rahmad.

Baca juga: PT Pupuk Kaltim Raih Penghargaan Proper Nasional Peringkat Emas dari KLHK

Negara yang menjadi tujuan ekspor urea terbanyak PKT adalah Australia, sedangkan untuk ekspor amonia adalah Tiongkok. Meski dua tahun terakhir ini, kondisi global perekonomian cukup dinamis yang dimulai dari pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina namun PKT tetap mampu memanfaatkan kondisi tersebut untuk menciptakan peluang dan pertumbuhan.

“Kami memanfaatkan keuntungan letak lokasi yang sangat strategis sehingga dapat bersaing dengan negara-negara Asia Pasifik lainnya. PKT juga melakukan beberapa inisiatif strategi serta komitmen perusahaan untuk menerapkan dan mengimplementasikan nilai-nilai environmental, social, and governance (ESG) dan green industry sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan brand image perusahaan di pasar internasional,” papar Rahmad.

Direktur Utama PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) Rahmad Pribadi menyerahkan cindera mata kepada Pemimpin Redaksi Investor Daily Primus Dorimulu usai kunjungan ke redaksi Beritasatu Media Holdings di Jakarta, Selasa (20/9/2022). (Beritasatu Photo/Uthan AR)

Ekspansi Pabrik

Dalam kesempatan itu, Rahmad Pribadi juga menjelaskan progres proyek pembangunan pabrik pupuk di Papua Barat. Proyek pendirian pabrik amonia-urea dan metanol di Papua Barat tersebut nantinya memiliki kapasitas produksi amonia sebesar 2.500 MTPD (metric ton per day), pupuk urea sebesar 3.500 MPTD, dan metanol sebesar 3.000 MTPD.

“Beberapa saat lalu, Pak Airlangga (Menko Perekonomian RI) telah menyebutkan proyek-proyek yang termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), salah satunya pabrik pupuk PKT di Papua Barat, yang memang diamanatkan kepada PKT. Hal ini tentu melihat adanya kebutuhan untuk membangkitkan sebuah industri yang dapat membuka lapangan pekerjaan dan menaikkan gairah ekonomi, khususnya wilayah Indonesia bagian timur,” jelas Rahmad.

Baca juga: Pupuk Indonesia Luncurkan Roadmap Riset Klaster Pupuk 2022-2031

Pembangunan proyek tersebut, ungkap Rahmad, bukan hanya akan menambah kapasitas produksi pupuk nasional, tapi juga mengurangi ketergantungan impor metanol di Indonesia. Rahmad menjelaskan, dengan pembangunan pabrik di Papua Barat bukan berarti PKT meninggalkan Bontang, Kalimantan Timur.

“Pabrik yang di Bontang pasti kami pelihara, tapi sebagai perusahaan kan PKT harus berkembang, menjadi perusahaan petrokimia berbasis alam dekat dengan sumber gas di Papua Barat. Kami melebarkan sayap, kami menjadi pelopor industri petrokimia di Papua Barat,” tutur Rahmad. Saat ini, pembangunan pabrik di Papua Barat sedang tahap persiapan termasuk engineering, selanjutnya pada 2023 akan masuk pembangunan infrastruktur, dan pada 2024 diharapkan sudah bisa beroperasi. (tl)

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com