Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM)

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM)

VALUASI SAHAM MURAH DAN TERUS TRANSFORMASI KE DIGITAL TELCO

Lahirkan Unicorn Baru, Laba Telkom Diproyeksikan Melesat

Selasa, 3 Agustus 2021 | 11:08 WIB
Lona Olavia ,Emanuel Kure (emanuel.kure@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Keberhasilan Telkom mendorong startup yang didanainya menjadi unicorn membuktikan bahwa monetisasi bisnis digitalnya mulai membuahkan hasil. Dengan bisnis yang besar dan kuat di sektor teknologi yang kini tumbuh pesat, saham emiten telekomunikasi itu valuasinya dinilai murah dan berpotensi harganya melejit kembali.

Selain investasi lewat anak usahanya ke 50 lebih star tup mulai menguntungkan, saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) juga menarik karena dividennya besar. Laba Telkom diproyeksikan tumbuh kuat, seiring transformasi yang terus dilakukan BUMN ini ke digital telco.

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengatakan, yang sedang hype adalah emiten sektor berbasis teknologi dan fenomena bank-bank digital yang ramai mendapat valuasi premium dari pasar.

Pasalnya, sektor ini dinilai memberikan pertumbuhan yang tinggi. “Fenomena bank-bank digital yang ramai mendapat valuasi premium dari pasar atau emiten-emiten sektor teknologi, hal itu tidak lepas karena prospek pertumbuhan yang bisa diberikan.

Di sisi lain, banyak saham-saham first liner mengalami kondisi yang sama dengan TLKM, seperti UNVR yang sahamnya terus turun, serta saham consumer good lainnya INDF yang harga sahamnya tidak banyak bergerak dalam 5 tahun terakhir.

Namun, kalau melihat harga saham TLKM saat ini, menurut saya sangat menarik karena bisnisnya yang kuat dan besar di sektor yang menjadi makin kuat (sejak era pandemi). Valuasi yang murah dan nilai dividen yang besar  merupakan alasan kenapa saham ini menarik,” kata dia saat dihubungi Investor Daily, Senin (2/8).

Alfred Nainggolan, Kepala Riset Praus Capital. Sumber: BSTV
Alfred Nainggolan, Kepala Riset Praus Capital. Sumber: BSTV

Alfred memperkirakan laba bersih TLKM tahun ini mampu tumbuh double digit, di kisaran 10-12%. Dengan asumsi level price to earnings ratio (PER) di 18 kali, target harga TLKM berkisar Rp 4.100-4.200 dalam 12 bulan ke depan dan potensi dividen tahun buku 2021 sebesar Rp 180 per saham.

Pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, kemarin, saham TLKM ditutup naik 2,16% ke level Rp 3.310. Namun, harga ini masih jauh di bawah rekor tertinggi saham Telkom sekitar Rp 4.800 per unit pada 2 Agustus 2017.

Sementara itu, market capitalization Telkom sekitar Rp 328 triliun atau terbesar ketiga setelah PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), dengan dividend yield sekitar 5,08%. Sedangkan kapitalisasi pasar BCA Rp 727 triliun dan BRI Rp 457 triliun

No 1 di Asia Tenggara

Potensi pendapatan dan laba Telkom
Potensi pendapatan dan laba Telkom

Analis Ciptadana Sekuritas Gani mengatakan, keberhasilan Grup Telkom melahirkan lagi unicorn baru, Nium, akan menjadi sentimen positif bagi kinerja saham Telkom.

Pasalnya, keberhasilan Nium sebagai startup yang menjadi unicorn memberikan pembuktian bahwa monetisasi digital bisnis yang menjadi bagian besar bisnis Telkom mulai membuahkan hasil.

Dengan keberhasilan tersebut pasar akan melihat potensi startup lainnya yang bisa didorong Grup Telkom untuk menjadi unicorn. Bila semakin banyak, maka kontribusi dalam peningkatan laba dan nilai aset TLKM akan semakin signifikan.

Nium merupakan unicorn pembayaran business to business (B2B) pertama dari Asia Tenggara.

Unicorn adalah startup dengan minimal valuasi US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14,1 triliun, sedangkan yang sudah US$ 10 miliar disebut decacorn.

“Dengan berinvestasi di perusahaan- perusahaan digital, saham Telkom jadi kembali menarik. Ini mengingat dampaknya positif ke Telkom, karena Grup Telkom salah satu investor awal di Nium (tahun 2018), saat valuasinya masih rendah,” katanya.

Investor nantinya tidak hanya melihat Telkom sebagai perusahaan penyedia infrastruktur telekomunikasi, tetapi juga menjadi one stop digital telco provider. Apalagi, di era sekarang, Telkom harus terus mendiversifikasi bisnis agar tidak hanya fokus di bidang infrastruktur telekomunikasi, namun juga berinvestasi di perusahaan-perusahaan digital dengan potensi pertumbuhan tinggi.

Gani menilai, TLKM memiliki prospek yang menarik tahun ini. Setelah tahun lalu hanya membukukan pertumbuhan kinerja yang minim, pada tahun ini, perusahaan pelat merah tersebut diproyeksikan bisa mencatatkan pertumbuhan mid-single digit. Perbaikan di seluruh segmen akan menjadi faktor utama yang mendongkrak kinerja TLKM.

“Kami melihat, target manajemen TLKM tahun ini yang mematok pertumbuhan kinerja konsolidasi pada kisaran mid-single digit dan margin EBITDA yang stabil, dapat tercapai. Hal itu seiring adanya perbaikan kinerja pada seluruh segmen bisnis TLKM. Proyeksi Ciptadana Sekuritas pun sejalan dengan target TLKM, sehingga dapat diartikan pada pertumbuhan earnings per share (EPS) atau laba per saham sebesar 6,4% secara tahunan,” ucapnya.

Untuk pendapatan tahun 2021, Gani memproyeksikan TLKM bisa membukukan hingga Rp141,7 triliun. Sedangkan untuk laba bersihnya bisa mencapaiRp 22,13 triliun.

Selama tahun 2020, TLKM membukukan pendapatan konsolidasi senilai sekitar Rp 136,46 trilliun, naik tipis sekitar 0,7% dibanding tahun 2019. EBITDA tahun 2020 tercatat Rp 72,08 triliun, tumbuh double digit sebesar 11,2%. Sedangkan laba bersih sekitar Rp 20,80 triliun, tumbuh double digit sekitar 11,5%.

2018, Investasi Nium

Direktur Utama PT Telkom Tbk Ririek Adriansyah
Direktur Utama PT Telkom Tbk Ririek Adriansyah

Direktur Utama PT Telkom Tbk Ririek Adriansyah mengatakan, Nium yang merupakan platform layanan keuangan global itu didukung pendanaannya oleh anak usaha Telkom, MDI Ventures, sejak 2018, lewat pendanaan di putaran Seri C pada Oktober 2018. Pendanaan tersebut bertujuan mendukung Nium dalam ekspansinya di Indonesia, dengan menyediakan platform serta mengamankanlisensi pembayaran hingga mengoperasikan layanan remitansi B2B.

Hingga kini, total dana yang dikumpulkan oleh Nium, yang semula bernama InstaReM, hampir US$ 300 juta dan mencatat valuasi di atas US$ 1 miliar, sehingga menjadi unicorn pembayaran B2B pertama dari Asia Tenggara. Hal itu dicapai setelah pada putaran Seri D, Nium mengumpulkan pendanaan US$ 200 juta yang dipimpin oleh investor teknologi yang berbasis di AS, Riverwood Capital.

Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah dalam keterangan tertulis Sabtu (31/7) mengatakan, melalui Telkom- Group dan MDI Ventures, perusahaan-perusahaan Indonesia dapat memanfaatkan platform Nium untuk melakukan transaksi keuangan dari mana saja di dunia melalui satu platform.

Selain itu, dukungan infrastruktur telekomunikasi dengan jangkauan luas yang dimiliki TelkomGroup juga sangat membantu penyediaan kelancaran layanan digital dan fintech di Indonesia.

Tambah Investasi Gojek

Logo PT Telkom Indonesia.
Logo PT Telkom Indonesia.

Sementara itu, sebelumnya, anak usaha Telkom yang lain -- PT Telekomunikasi Selular -- melakukan investasi di Gojek sebesar US$ 150 juta atau sekitar Rp 2,17 triliun pada November 2020. Berikutnya pada sekitar Mei lalu, Telkomsel ini kembali menginvestasikan dana senilai sekitar US$ 300 juta atau Rp 4,3 triliun di Gojek sehingga total menjadi sekitar Rp 6,47 triliun.

Gojek yang sekarang menjadi decacorn bergabung dengan Tokopedia menjadi GoTo dan akan listing di bursa Indonesia maupun bursa Amerika Serikat, dengan nilai raihan IPO saham diperkirakan sekitar US$ 2 miliar.

Telkomsel bahkan me nyatakan sebelumnya, perusahaan masih memiliki opsi untuk menambah investasinya hingga US$ 450 juta, setahun setelah investasi yang dilakukan pada tahun lalu.

MDI Disuntik US$ 500 Juta

VP Investasi MDI Ventures Aldi Adrian Hartanto
VP Investasi MDI Ventures Aldi Adrian Hartanto

Saat dihubungi Investor Daily, VP Investasi MDI Ventures Aldi Adrian Hartanto memaparkan, MDI merupakan corporate venture capital (CVC) yang berstatus anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. MDI terus bergerak cepat dalam menggarap pengembangan ekosistem digital.

Apalagi, MDI Ventures telah disuntik dana segar senilai US$ 500 juta, yang berasal dari kas internal Telkom untuk beberapa tahun ke depan.

Pendanaan tersebut diharapkan dapat mewujudkan ambisi menjadi perusahaan modal ventura pertama di Indonesia yang memiliki dana kelolaan investasi lebih dari US$ 1 miliar.

”US$ 500 juta ini kami mendapat komitmen dari tahun 2020, untuk beberapa tahun ke depan. Di mana harapannya, kami akan bisa deploy semua maksimal di tahun 2023,” katanya kepada Investor Daily, Senin (2/8).

Dana tersebut akan difokuskan pada pendanaan perusahaan teknologi di beberapa sektor, yang pada prinsipnya bisa mendukung ekosistem digital Telkom. Langkah tersebut bisa memicu MDI Ventures meraih revenue per tahun US$ 5-10 juta.

Didirikan pada 2015, perkembangan MDI Ventures cepat, dengan berinvestasi di lebih dari 44 startup dari 12 negara, dengan total dana kelolaan senilai lebih dari US$ 830 juta.

Di Indonesia, lanjut dia, MDI Ventures berperan penting dalam pertumbuhan sejumlah perusahaan rintisan, antara lain Kredivo, Cermati, Tanihub, Nium, Alodokter, Fabelio, Bahaso, dan Paxel.

”Kami saat ini total di sekitar hingga US$ 830 juta. Ini dibagi dari beberapa fund di bawah kelolaan kami seperti MDI, TMI, Centuari, dan Arise, dengan investor baik dari internal Telkom maupun eksternal investor dari dalam dan luar negeri,” ucapnya.

Alfred menuturkan, dalam laporan keuangan TLKM, anak usaha perseroan yaitu MD Investama yang menjadi pemilik Nium, per 31 Maret 2021, memiliki total aset sebesar Rp 3,45 triliun. MD Investama banyak berinvestasi di startup teknologi.

Berbeda dengan sektor bisnis yang lain, industri telekomunikasi dan digital justru terdampak positif dengan adanya pandemi Covid-19.

Pasalnya, pandemi yang membawa perubahan terhadap kebutuhan dan gaya hidup masyarakat telah mendorong tingkat adopsi digital masyarakat meningkat signifikan.

Oleh karena itu, kinerja Telkom diproyeksikan naik. Untuk sahamnya, secara teknikal, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyebut, dalam jangka menengah TLKM masih berpeluang menguat selama tidak kembali ke bawah level support di Rp 3.000 dan akan lebih menarik bila TLKM sanggup menembus resistance 3.570.

”Apabila resistance tersebut dapat ditembus, maka TLKM kami perkirakan dapat menguji area 3.600-3.750 sebagai targetnya,” katanya.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana

Transformasi Digital Telkom

Pengamat telekomunikasi Muhammad Ridwan Effendi memaparkan, selain bergerak di layanan telekomunikasi, Telkom juga mengembangkan berbagai layanan digital. Ini seperti platform aplikasi, investasi di startup, platform cloud, IoT, dan data center.

Langkah yang dilakukan oleh Telkom tersebut juga untuk mewujudkan transformasi digital di Indonesia.

Muhammad Ridwan mengatakan, transformasi digital yang dilakukan oleh Telkom adalah langkah yang tepat. Ini karena Telkom harus segera beradaptasi

dengan perkembangan dunia digital saat ini. “Saya pikir mereka (Telkom) sudah on the right track,” kata Ridwan kepada Investor Daily, Senin (2/8). (jm/ant/sumber lain/en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN