Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi perusahaan. Foto: Mohamed Hassan (Pixabay)

Ilustrasi perusahaan. Foto: Mohamed Hassan (Pixabay)

Lebih Ekspansif, Tiga Emiten Perbesar 'Capex' Tahun Depan

Selasa, 17 November 2020 | 22:28 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Sebanyak tiga emiten berencana lebih ekspansif pada tahun depan. Hal ini ditunjukkan dengan alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) yang lebih besar dibanding tahun ini.

Emiten pertama adalah PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) yang akan mengalokasikan belanja modal Rp 1 triliun tahun depan. Direktur Utama Dharma Satya Nugraha Andrianto Oetomo mengatakan, pihaknya akan menggunakan dana tersebut untuk mengatur kembali peta energi melalui pembangunan pabrik Bio-CNG.

"Dalam 2-4 tahun ke depan kami akan meng-upgrade peta energi kami melalui pabrik Bio-CNG. Dengan meng-upgrade peta energi, belanja modal kami memang naik, namun kami bisa menghemat solar 2 juta liter per tahun," ujar dia dalam Webinar Samuel Sekuritas, Selasa (17/11).

Adapun Dharma Satya Nugraha sudah membangun pabrik Bio-CNG pertama di Muara Wahau, Kalimantan Timur pada 17 September 2020. Pabrik ini bisa menghasilkan listrik 1.200 kwh dan biomethane gas sebesar 280 m3/jam. Pembangunan pabrik ini menelan biaya investasi sekitar US$ 6-6,5 juta.

Mengenai perubahan peta energi ini, Dharma Satya juga bekerjasama dengan eREX Singapore untuk mengekspor cangkang kelapa sawit (palm kernel shell) ke Jepang. Cangkang kelapa sawit ini kemudian digunakan untuk bahan baku pemabgkit listrik berbasis biomassa.

Ke depan, perusahaan juga berencana menggunakan belanja modal untuk replanting. Namun hal tersebut baru akan dilakukan pada 2023. Menurut Andrianto, melakukan replanting berbeda dengan menanam di lahan baru sehingga perusahaan harus belajar terlebih dahulu.

Selain itu, perusahaan juga berencana melakukan downstream dalam tiga tahun mendatang. Sebelum melakukan downstream, perusahaan akan mempersiapkan produksi CPO untuk downstream di atas 600 ribu ton. "Downstream kami lakukan bukan sekedar untuk menambah EBITDA margin, namun untuk menstabilkan EBITDA marjin," jelas dia.

Dengan berbagai strategi tersebut, perusahaan berharap bisa berdampak signifikan terhadap kinerja perusahaan. Sementara hingga kuartal III-2020, perusahaan mencatat laba bersih sebesar Rp 162 miliar, meningkat sekitar 162,3% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sejumlah Rp 62 miliar. 

Peningkatan laba bersih didukung pertumbuhan penjualan sebesar 10.4% menjadi Rp 4,38 triliun, dibandingkan periode sama tahun lalu senilai Rp 3,96 triliun. Kenaikan tersebut didukung peningkatan rata-rata harga jual minyak sawit (crude palm oil/CPO).

Perusahaan kedua yang juga lebih ekspansif tahun depan adalah PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA). Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty mengatakan, perusahaan mengalokasikan belanja modal sekitar Rp 300 miliar tahun depan. Belanja modal ini akan digunakan untuk merenovasi gedung baru serta meningkatkan fasilitas dan lokasi cabang menjadi lebih baik.

"Kalau untuk alat, kami biasanya menyewa, dan untuk alat yang sifatnya advance baru kami beli, namun harganya tidak akan setinggi jika kami membeli gedung baru," ujar dia.

Adapun pada tahun lalu, perusahaan juga mengalokasikan belanja modal sekitar Rp 300 miliar. Namun, dana yang terpakai hanya sekitar Rp 200 miliar. Alokasi belanja modal tahun ini digunakan untuk membeli gedung di Makassar yang akan digunakan untuk regional sales.

Sementara untuk pembukaan cabang, pada tahun ini perusahaan hanya merealisasikan pembukaan satu cabang baru di kawasan Bitung. Padahal pada awalnya, perusahaan berencana membuka lima cabang di kawasan Jakarta dan greater Jawa Tengah. "Pembukaan cabang baru kami postphone ke tahun depan," ungkap dia.

Dengan alokasi belanja modal tersebut, perseroan berharap bisa mendukung pendapatan pada tahun depan. Pihaknya menargetkan pendapatan sekitar dua kali dari target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021.

Lebih lanjut, emiten ketiga yang akan lebih ekspansif adalah PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA). Emiten pengembang kawasan industri ini akan mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 750 miliar pada tahun depan. Belanja modal ini akan digunakan untuk akuisisi lahan dan pengembangan properti industrial.

Presiden Direktur Surya Semesta Internusa Johannes Suriadjaja mengatakan, perusahaan akan menggunakan fasilitas pembiayaan dari International Finance Corporation (IFC) sebesar US$ 50 juta. "Kami akan mulai drawdown fasilitas pembiayaan tahun ini. Sedangkan sisanya akan dibiayai dari kas internal," kata dia.

Adapun pada tahun depan, Johannes lebih optimistis bisnis perusahaan akan berkembang lebih baik. Dari segi marketing sales, Surya Semesta menargetkan bisa menjual 60 ha tahun depan. Marketing sales ini berasal dari penjualan lahan di Karawang sebanyak 20 ha dan lahan di Subang sebanyak 40 ha.

Penjualan lahan di Subang akan datang dari pengembangan kawasan Subang Smartpolitan. Johannes mengungkapkan, pihaknya akan melakukan ground breaking fase pertama sekitar 400 ha pada 18 November 2020.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN