Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi pasar surat utang. (Foto: Pixabay)

Ilustrasi pasar surat utang. (Foto: Pixabay)

Lelang SBSN Bisa Capai Rp 25 Triliun, Bagaimana dengan Harga SUN?

Senin, 8 Februari 2021 | 06:02 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id — Harga Surat Utang Negara (SUN) diproyeksikan bergerak menguat terbatas pekan ini. Sementara, lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan target indikatif Rp 12 triliun berpotensi mencapai Rp 22-25 triliun.

Director of Fixed Income PT Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Maruto mengatakan, pergerakan harga SUN pekan depan akan dipengaruhi oleh kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat yang masih diperpanjang, dan beberapa daerah yang melakukan pengetatan dengan menerapkan sistem ganjil genap.

“Pemerintah saat ini sudah cukup kesulitan untuk membendung pertumbuhan Covid-19 terutama di kota besar. Tidak hanya di kota besar saja, di daerah pun juga sama dan harian kita juga tinggi,” ujar dia kepada Investor Daily, Minggu (7/2).

Dengan kondisi tersebut, para pelaku pasar menganggap pandemi ini masih belum berakhir. Di satu sisi, pelaku pasar juga tengah menunggu efektivitas dari vaksinasi Covid-19. Saat ini vaksinasi telah dilakukan pada tenaga kesehatan (nakes) dan dinilai masih membutuhkan waktu untuk mencapai masyarakat.

“Vaksin ini efektivitasnya belum terlihat dan para pelaku pasar tengah menunggu, jadi dari sentimen tersebut resiko ketidakpastiannya cukup tinggi, sehingga market cukup berhati-hati,” ujar dia.

Namun demikian, suku bunga Indonesia dan global saat ini tengah mengalami tren suku bunga rendah. Menurut Ramdhan instrumen Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) ataupun Surat Berharga Negara (SBN) akan menarik karena instrumen yang terukur dan likuiditas yang dimiliki sangat baik. Selain itu, resiko yang ada di pasar saat ini tinggi yang disebabkan pandemi Covid-19 belum selesai.

“Dengan demikian, harga SUN pekan ini berpotensi menguat terbatas dan market kita relaitf akan flat. Kemudian, untuk yield 10 tahun saya memproyeksikan 6,1%-6,2%,” ujar dia. 

Head of Economics Research PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Fikri C Permana mengatakan, harga SUN pekan ini akan menguat dengan yield 10 tahun berada di rentang 6,0%-6,1%. “Melihat kemungkinan yang ada, saya melihat pekan ini harusnya sudah menurun yield nya, tapi mungkin ada beberapa sentimen yang akan menjadi perhatian para pelaku pasar,” ujar dia.

Fikri mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih rendah dibandingkan perkiraan spike recovery ekonomi yang diharapkan, yakni berada di 2,19%. Hal ini akan memberikan resiko tambahan bagi surat utang Indonesia, disamping ada kemungkinan pelemahan pendapatan negara dari pajak karena pemulihan ekonomi yang rendah.

Sedangkan dari global, yield US treasury saat ini sudah berada di 1,1%-1,2% dan belum akan turun dalam beberapa waktu terakhir. Fikri menilai, akan ada game changer pada Rabu dan Kamis mendatang, seiring dengan hasil inflasi US dan Crude Oil Inventory serta pernyataan budget deficit di AS yang akan diumumkan.

“Dari pelaku pasar selama ini forecast-nya akan ada tambahan dari bujet defisit dari AS, sehingga kemungkinan akan menurunkan yield dari US treasury dan diharapkan juga akan mendorong rupiahnya tetap terjaga dan yield dari SUN Indonesia relatif lebih rendah dari sebelumnya,” ujar dia.

Pada Selasa (9/2), pemerintah melalui Direktorat Jendral Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menjadwalkan lelang 6 seri Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan target indikatif Rp 12 triliun. Adapun 6 seri tersebut masing-masih jatuh tempo pada 10 Agustus 2021, 15 Mei 2023, 15 Oktober 2025, 15 Maret 2034, 15 Februari 2037 dan 15 Oktober 2046.

Fikri mengatakan, lelang SBSN pekan ini berpotensi tinggi dengan target indikatif yang bisa bertambah hingga Rp 2-3 triliun. Hal ini seiring dengan total penawaran lelang SUN minggu lalu yang mencapai Rp 83,79 triliun dari target indikatif Rp 35 triliun dan target maksimal Rp 52,50 triliun.

“Lelang SBSN pekan ini saya pikir investor akan memilih jangka panjang dan seri yang diincar 6-11 tahun dan tenor 15-20 tahun akan mulai dicari karena yield-nya juga cukup kompetitif,” ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN