Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdagangan obligasi di bursa.

Perdagangan obligasi di bursa.

Lelang SUN Bersiap Diserbu Investor

Farid Firdaus, Senin, 20 Januari 2020 | 09:00 WIB

JAKARTA, investor.id – Harga Surat Utang Negara (SUN) berpotensi bergerak mendatar (sideways) dengan kecenderungan menguat selama pekan ini. Faktor domestik seperti penawaran yang tinggi pada lelang SUN dan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia dinilai mampu menjadi katalis positif.

Fixed Income Division Head-SVP PT Bank Sinarmas Tbk Anup Kumar mengatakan, jika penawaran yang masuk pada lelang pekan ini antara Rp 70 triliun hingga Rp 100 triliun, maka dapat dipastikan hal tersebut menjadi katalis positif bagi pasar SUN.

Sebagai pembanding, lelang perdana SUN pada 7 Januari lalu setidaknya berhasil membukukan penawaran masuk hingga Rp 81,54 triliun, atau hampir empat kali dari target maksimal Rp 22,5 triliun. “Bid to cover ratio sebesar 3,5 kali dan 5 kali juga akan menjadi katalis positif bagi pelaku pasar,” jelas dia kepada Investor Daily, Minggu (19/1).

Pemerintah memasang target indikatif sebesar Rp 15 triliun, dan target maksimal hingga Rp 22,5 triliun pada lelang pekan ini yang dijadwalkan Selasa (19/1). Seri yang dilelang adalah dua Surat Perbendaharaan Negara (SPN) yang jatuh tempo pada 22 April 2020 dan 8 Januari 2021. Selain itu, ada pula lelang lima seri SUN, yang jatuh tempo pada 15 Juni 2025, 15 September 2030, 15 Juni 2035, 15 April 2040, dan 15 Mei 2048.

Pekan ini, RDG BI dijadwalkan pada 22-23 Januari 2020. Menurut Anup, konsensus melihat bahwa BI masih akan menahan suku bunga referensinya di level 5%. Sedangkan pihaknya menilai ruang penurunan suku bunga acuan BI masih terbuka sebanyak maksimal 50 basis poin tahun ini melihat laju inflasi cukup rendah serta nilai tukar rupiah yang menguat. Dengan demikian, hal yang terpenting adalah pernyataan BI pasca RDG.

“Kita akan fokus pada pernyataan-pernyataan yang menyiratkan bahwa BI masih akan melakukan easing monetary policy atau dengan kata lain kebijakan-kebijakan bernada dovish,” jelas dia.

Adapun, apresiasi pasar obligasi pemerintah terefleksi pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih menguat pada penutupan perdagangan Jumat (17/1). Indeks tersebut naik 0,16 poin (0,06%) menjadi 273,25 dari posisi sehari sebelumnya 273,09.

Associate Director Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto berpendapat, meski telah ada kesepakatan dagang fase satu antara AS dan Tiongkok, namun kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian pada ekonomi global masih terlihat.

Hal tersebut tercermin dari para investor yang terus mengumpulkan aset-aset investasi aman, termasuk emas dan obligasi. Harga emas acuan  mengalami penguatan pada penutupan perdagangan Jumat (17/1) ke level US$ 1.556,86 per ons troi atau naik 0,28%.

Pihaknya menilai dalam jangka pendek, yield obligasi seri 10 tahun akan bergerak stabil di level-level saat ini yang sekitar 6,9%-7%. Di Januari ini, investor asing juga memiliki minat untuk terus masuk ke pasar.

“Investor sepertinya melihat perang dagang belum benar-benar berakhir karena karakter dua negara besar ini belum terprediksi. Ada data-data ekonomi AS yang mengecewakan dan mereka tentu akan menacari strategi untuk mengantisipasinya. Sementara di negara-negara lain seperti Inggris juga kurang bagus” jelas dia.

Seperti diketahui, Office for National Statistic (ONS) melaporkan inflasi Inggris di bulan Desember tumbuh sebesar 1,3% secara year-on-year (YoY), lebih rendah dari pertumbuhan bulan sebelumnya 1,5%. Kenaikan harga-harga di bulan Desember tersebut juga merupakan yang terendah sejak November 2016.

Sementara di AS, penjualan ritel di AS tumbuh 0,3% month-on-month (MoM) pada Desember, sesuai dengan prediksi pada ekonom. Di sisi lain, yang mengejutkan adalah penjualan ritel inti, yang tidak memasukkan sektor otomotif dalam perhitungan, tumbuh 0,7% secara bulanan.

Data tersebut menjadi data bagus pertama setelah sebelumnya dua data penting dari AS dirilis mengecewakan. Sebelumnya, Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis peningkatan pekerjaan pada Desember 2019 hanya mencapai 145.000 pekerjaan, jauh di bawah jumlah peningkatan pekerjaan telah direvisi November 2019 yang mencapai 256.000. Tingkat pengangguran tetap berada di angka 3,5%.

Minim Sentimen

Lebih lanjut, kata Ramdhan, belum ada sentimen baru dari dalam negeri yang bisa menggerakan SUN secara signifikan. Namun, lelang SUN yang diprediksi tetap mendapatkan minat tinggi dari para investor.

“Penawaran yang masuk kemungkinan sama seperti pekan lalu, yakni di atas Rp 50 triliun. Ada dua seri SPN, yang satu diantaranya merupakan new issuance. SPN yang jangka pendek ini punya pasar dari sektor perbankan,” ujar Ramdhan.

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) per 16 Januari 2020 menunjukkan, investor asing menguasai Rp 1.084 triliun SBN, atau 39,2% dari total beredar Rp 2.767 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA