Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Lippo Karawaci Tbk. Foto: Perseroan.

PT Lippo Karawaci Tbk. Foto: Perseroan.

Lippo Karawaci Bidik 'Marketing Sales' Rp 3,5 Triliun

Selasa, 15 Desember 2020 | 06:37 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) membidik target pra penjualan atau marketing sales pada 2021 sebesar Rp 3,5 triliun, naik 40% dari target 2020 sebesar Rp 2,5 triliun. Selain ekspansi di dalam negeri, perseroan siap memaksimalkan pengelolaan Dana Investasi Real Estat (DIRE) melalui Lippo Malls Indonesia Retail Trust (LMIRT), anak usaha yang tercatat di Bursa Efek Singapura (SGX).

Chief Executive Officer (CEO) Lippo Karawaci, John Riady mengatakan, marketing sales perseroan  mengalami pertumbuhan yang signifikan pada kuartal III-2020, yakni sebesar Rp 1,2 triliun, melonjak 303% dibanding kuartal III-2019. Alhasil, nilai marketing sales Lippo Karawaci selama Januari-September 2020 melesat 100% menjadi Rp 2,3 triliun dibanding periode sama tahun silam. Bahkan, per Oktober mencapai Rp 2,5 triliun, melampaui target sepanjang 2020.

“Momentum ini didorong penjualan rumah tapak dengan harga mulai dari Rp 1-2 miliar, sehingga ke depan kami sangat optimistis,” kata John Riady dalam paparan publik secara virtual, Senin (14/12).

Menurut John, terdapat sejumlah faktor yang akan mendorong industri properti domestik positif tahun depan. Salah satunya, pemerintah memberikan relaksasi kepemilikan properti bagi warga negara asing (WNA) yang tertuang dalam Omnibus Law. "Selain itu, daya beli masyarakat dan minat kepemilikan rumah akan meningkat selama dua hingga lima tahun ke depan. Urbanisasi juga menjadi faktor yang bisa mendorong permintaan properti," tutur dia.

Dia menambahkan, bisnis perseroan yang lain, seperti rumah sakit, perhotelan, dan pusat belanja pun mulai menunjukkan perbaikan dibanding awal pandemi Covid-19. Anak usaha perseroan, PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), juga terus berkontribusi terhadap penanganan pasien Covid-19.

Siloam, kata John Riady, mulai menerima tes Covid pada akhir Maret 2020, dan tercatat telah memberikan lebih dari 700 ribu tes hingga September 2020. Akibat Covid-19, pendapatan per pasien rawat inap dan jalan Siloam mengalami peningkatan 50-52%. Jumlah pasien rawat inap dan rawat jalan Siloam turut menunjukkan pemulihan.

“Pertumbuhan Siloam bisa terlihat pada rata-rata laju pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) kapasitas tempat tidur. Sejak 2016 hingga kuartal III-2020, CAGR-nya naik 12%. Sedangkan jumlah ranjang Siloam telah mencapai 8.393 per akhir September lalu," papar dia.

Pada bisnis mal, menurut John Riady, jumlah pengunjung mal perlahan pulih dari dampak Covid. Meski demikian, per Oktober 2020, pengunjung mal masih berkisar 30-40% lebih rendah dibandingkan level sebelum pandemi. "Kami mengantisipasi jumlah pengunjung untuk kembali ke level normal setelah pertengahan 2021," ujar dia.

Pada bisnis perhotelan, perseroan juga mencatatkan perbaikan, kendati okupansi hotel masih rendah atau belum kembali seperti sebelum pandemi. "Saat ini, tren perjalanan domestik didukung oleh staycation dan pariwisata domestik selama libur panjang dapat meningkatkan okupansi hotel," ucap dia.

John mengungkapkan, Lippo Karawaci  berencana lebih ekspansif pada bisnis DIRE atau REIT yang dikelola LMIRT. Perseroan berharap LMIRT ke depan terus bertumbuh. Salah satu strategi untuk mencapai hal tersebut adalah mengakuisisi mal yang sudah beroperasi.

“Mal yang akan diakuisisi bisa dari milik Lippo Karawaci ataupun dari pihak lain. Intinya kami ingin meningkatkan portofolio mal yang dikelola LMIRT guna meningkatkan nilai tambah pemegang saham LMIRT,” jelas John.

Belanja Modal

Pada kesempatan sama, Direktur Lippo Karawaci, Tevilyan Yudhistira Rusli mengatakan, belanja modal pada bisnis properti akan menyesuaikan perolehan marketing sales 2021. "Sedangkan pada bisnis rumah sakit, belanja modal yang dialokasikan tahun depan berkisar Rp 550-600 miliar untuk keperluan pemeliharaan dan revamp rumah sakit," ujar dia.

Dia optimistis pendapatan berulang (recurring income) dari bisnis rumah sakit, mal, dan hotel yang menyumbang sekitar 70-80% terhadap total pendapatan Lippo Karawaci bakal semakin kokoh tahun depan.

Menurut Presiden Direktur Lippo Karawaci, Ketut Budi Wijaya, recurring income yang kuat tersebut menjadikan perseroan menonjol dibanding emiten properti lain. Dari neraca keuangan, Lippo Karawaci memiliki rasio modal terhadap utang yang solid. Perseroan tercatat tidak memiliki utang jatuh tempo yang signifikan hingga 2025.

“Manajemen keuangan kami yang disiplin ditegaskan oleh para lembaga  pemeringkat internasional, seperti Fitch Ratings yang memberikan B-, lalu Standard & Poor’s (S&P) juga memberikan B-. Adapun Moody’s memberikan B3,” jelas dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN