Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pejaten Village. Foto: lmir-trust.com

Pejaten Village. Foto: lmir-trust.com

LMIR Trust Raih Pertumbuhan Distribusi Per Unit

Farid Firdaus, Senin, 5 Agustus 2019 | 01:16 WIB

JAKARTA, investor.id – LMIRT Management Ltd, manajer Lippo Malls Indonesia Retail Trust (LMIR Trust), membukukan pertumbuhan distribusi per unit (DPU) sebesar 1,7% menjadi 0,60 sen Singapura pada kuartal II-2019 dibandingkan periode sama tahun lalu 0,59 sen. Seiring itu, pendapatan yang dapat diatribusikan kepada pemegang unit juga meningkat 4% menjadi Sin$ 17,5 juta dibandingkan kuartal II-2018 yang sebesar Sin$ 16,8 juta.

Secara tahunan, distribusi terbaru mencerminkan imbal hasil (yield) 9,6% berdasarkan harga penutupan per 28 Juni 2019 yang sebesar Sin$ 0,24. Adapun total pendapatan kotor pada kuartal II-2019 naik 29,7% menjadi Sin$ 68,3 juta, terutama karena biaya pemulihan layanan dan utilitas yang dikumpulkan langsung dari penyewa.

Chief Executive Officer (CEO) REIT Manager James Liew mengatakan, pendapatan tersebut sebagian diimbangi oleh pendapatan sewa yang lebih rendah atau turun 5,8% yoy menjadi Sin$ 39 juta. Hal ini dipicu oleh pendapatan yang lebih rendah dari Lippo Plaza Batu dan Palembang Icon setelah berakhirnya sewa induk pada Juli 2018. Penurunan juga disebabkan oleh pendapatan sewa lepas yang lebih rendah pada kuartal II-2019.

Sementara itu, pendapatan properti bersih (NPI) naik 1,9% yoy menjadi Sin$ 44 juta pada kuartal II-2019 dibandingkan periode sama tahun lalu Sin$ 43,2 juta. Sebagian besar kenaikan ini lantaran biaya operasi yang lebih ketat dan efektif, serta pengembalian sewa positif untuk ruang sewa yang diperbarui. Peningkatan kinerja juga ditopang oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura yang stabil.

Jika dicermati secara kuartalan atau quarter to quarter (QoQ), LMIR Trust mencatatkan kenaikan DPU sebesar 9,1% menjadi 0,60 sen Singapura pada kuartal II-2019 dibandingkan kuartal I-2019 yang sebesar 0,55 sen Singapura. Sementara itu, pendapatan yang dapat diatribusikan kepada pemegang unit secara QoQ naik 8,7% menjadi Sin$ 17,5 juta pada kuartal II-2019 dibandingkan kuartal I-2019 yang sebesar Sin$ 16,1 juta. Sedangkan pendapatan sewa kotor (GRI) dan pendapatan properti bersih (NPI) masing-masing naik 4,2% dan 8,5% QoQ.

“Meskipun menghadapi tantangan makro ekonomi dan operasi saat ini, Trust ini telah memberikan kinerja kredit yang baik selama kuartal II yang didukung oleh pemulihan nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura, serta manajemen biaya yang disiplin dan inisiatif yang telah kami terapkan sepanjang tahun ini,” kata James Liew dalam keterangan resmi, Minggu (4/8).

James menambahkan, kinerja positif ini juga didorong oleh kekuatan aset dasar yang terus memberikan kinerja stabil dengan tingkat hunian yang meningkat sebesar 92,2% pada kuartal II-2019 dibandingkan kuartal I-2019 yang sebesar 91,5%, dan terhadap rata-rata pertumbuhan industri 80,7%. Hingga Juni 2019, LMIR Trust mencapai pengembalian sewa positif sebesar 4,4%.

James menambahkan, pihaknya tetap berkomitmen untuk mengoptimalkan aset aktif seperti ruang mal dan para penyewanya untuk meningkatkan kinerja. Inisiatif peningkatan aset yang luas di Sun Plaza berjalan sesuai jadwal dengan penyelesaian yang diharapkan pada 2021.

Adapun Gajah Mada Plaza yang berlokasi di Jl Gajah Mada, Jakarta Pusat, telah diidentifikasi sebagai kandidat untuk peningkatan aset yang memanfaatkan kedekatannya dengan Stasiun MRT Sawah Besar, yang diharapkan beroperasi pada 2024.

Lebih lanjut James menjelaskan, selain pertumbuhan organik, pihaknya juga terus melihat pertumbuhan secara anorganik melalui akuisisi aset berkualitas untuk meningkatkan portofolio dan menghasilkan nilai jangka panjang untuk para pemegang unit LMIR Trust.

“Selama kuartal II-2019, LMIR Trust berhasil meluncurkan obligasi lima tahun senilai US $ 250 juta, dan hasil dari penerbitan tersebut digunakan untuk sebagian besar persyaratan pembiayaan kembali Trust untuk 2019 dan 2020,” kata dia.

Setelah refinancing utang, jangka waktu utang LMIR Trust juga diperpanjang menjadi 4,3 tahun dari semula rata-rata 2 tahun. Pada 30 Juni 2019, rasio gearing LMIR Trust sebesar 35,2% atau tergolong sehat, dengan tingkat bunga 4,9 kali. Selain itu, portofolio aset Trust sepenuhnya tidak terbebani, memberikan fleksibilitas keuangan yang lebih besar.

Prospek

Sementara itu, pihaknya tetap melihat ruang pertumbuhan dari LMIR Trust dengan merujuk pada sejumlah indikator ekonomi Indonesia. Pertama, tingkat inflasi Indonesia yang turun menjadi 3,28% pada Juni dibandingkan Mei yang sebesar 3,32%. Ini masih sesuai dengan target Bank Indonesia yang sekitar 2,5-4,5%.

Selanjutnya, sentimen penurunan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), serta Bank Indonesia yang telah memangkas suku bunga acuan untuk pertama kali selama hampir dua tahun dari 6% menjadi 5,75% berpotensi merangsang pertumbuhan domestik.

Adapun PDB Indonesia tumbuh 5,1% pada kuartal I-2019, yang secara konsisten bertahan sekitar 5% dalam beberapa tahun terakhir. Bank Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan pada 2019 akan mendekati titik tengah dari perkiraan 5-5,4%.

Walaupun Indonesia mencatat surplus perdagangan berturut-turut pada Juni, ini dikoreksi oleh penurunan ekspor sebesar 9% pada bulan yang sama. Hal tersebut mencerminkan perdagangan global yang lebih lambat di tengah berlanjutnya ketegangan hubungan dagang antara AS dan Tiongkok. Namun, surplus perdagangan tersebut memberikan efek penguatan rupiah terhadap dolar Singapura yang terus terjadi sejak awal 2019.

Sementara itu, penjualan ritel di Indonesia tercatat tumbuh 7,7% pada Mei 2019 dibandingkan April 2019 yang sebesar 6,7%. Akselerasi ini terutama disebabkan oleh lonjakan permintaan musiman selama bulan Ramadan, yang menyebabkan peningkatan penjualan pakaian, suku cadang mobil, serta makanan, minuman, dan tembakau.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA