Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tambang Bukit Asam. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Tambang Bukit Asam. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Lompatan Laba Bukit Asam

Sabtu, 6 Maret 2021 | 04:32 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) diperkirakan memasuki masa pemulihan seiring perbaikan ekonomi global dan domestik. Peluang itu mulai terlihat dari peningkatan volume penjualan batu bara perseroan akhir tahun lalu. Perseroan juga akan mendapatkan dukungan positif dari solidnya harga jual batu bara.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengungkapkan, berdasarkan hasil pertemuan dengan direksi Bukit Asam, volume penjualan batu bara yang solid pada kuartal IV-2020 didukung oleh kenaikan permintaan dari Tiongkok.

Manajemen juga memperlihatkan optimisme pulihnya volume produksi batu bara tahun ini dan berlanjutnya pengembangan infrastruktur tambang untuk meningkatkan volume produksi.

“Dengan perkiraan volume produksi yang lebih baik ditambah harga jual yang solid, kami memperkirakan lonjakan laba bersih Bukit Asam sebesar 47,6% tahun ini,” tulis Stefanus dalam risetnya.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) telah menandatangani
PT Bukit Asam Tbk (PTBA)

Selain peningkatan permintaan dari Tiongkok, kenaikan produksi dan penjualan batu bara Bukit Asam pada kuartal IV-2020 juga didukung oleh musim dingin akhir tahun dan pelarangan impor batu bara dari Australia.

Dari sisi biaya penambangan, perseroan tengah menjajaki negosiasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk mendapatkan diskon biaya pengangkutan batu bara pada kuartal IV-2020 dan kuartal I-2021, sehingga laba bersih perseroan diharapkan meningkat pada kuartal akhir tahun lalu.

“Berdasarkan data, biaya pengangkutan kereta batu bara merupakan komponen terbesar atau setara dengan 31% dari total biaya penambangan perseroan hingga September 2020,” jelas Stefanus.

Tahun ini, dia memperkirakan volume produksi dan penjualan batu bara Bukit Asam meningkat. Peningkatan tidak hanya didukung oleh perbaikan ekonomi global dan peningkatan permintaan batu bara global, namun juga peningkatan aktivitas ekonomi dalam negeri yang dapat berdampak pada kenaikan konsumsi listrik.

“Kami mengasumsikan peningkatan volume produksi batu bara perseroan sebesar 12% menjadi 28 juta ton tahun ini,” ungkap dia.

Bukit Asam juga memiliki sejumlah proyek penopang pertumbuhan kinerja keuangan dalam jangka panjang. Tahun ini, Bukit Asam dengan KAI menargetkan peningkatan kapasitas angkut kereta batu bara dari 25 juta ton menjadi 32 juta ton.

Harga saham PTBA satu dekade terakhir, prospek saham PTBA, dan kinerja keuangan PTBA
Harga saham PTBA satu dekade terakhir, prospek saham PTBA, dan kinerja keuangan PTBA

Dalam jangka menengah, perseroan juga akan berupaya meningkatkan kapasitas angkut kereta api dan pelabuhan dengan target menjadi 72 juta ton pada 2025. Perseroan juga melakukan diversifikasi bisnis dari bisnis batu bara ke kimia dengan target penyelesaian pada kuartal II-2024 dan akan merampungkan pembangunan pembangkit listrik mulut tambang Sumsel 8 pada kuartal I-2022.

Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham PTBA dengan target harga Rp 3.600. Target harga tersebut merefleksikan rasio PE tahun ini sekitar 11,1 kali.

Saham PTBA layak beli karena didukung oleh langkah perseroan yang mendiversifikasi bisnis ke pembangkit listrik mulut tambang dan gasifikasi batu bara. Hal itu diharapkan menaikkan volume penjualan batu bara perseroan dalam jangka panjang.

Selain itu, Bukit Asam kerap membagikan dividen setiap tahun. Dividen tahun ini diperkirakan setara dengan 75% dari total laba bersih tahun buku 2020 atau bakal mencerminkan yield 6,3%.

Tambang batubra Bukit Asam (PTBA). Foto: defrizal
Tambang batubra Bukit Asam (PTBA). Foto: defrizal

Adapun laba bersih Bukit Asam tahun ini diproyeksi melonjak menjadi Rp 3,61 triliun dibandingkan perkiraan tahun 2020 yang senilai Rp 2,45 triliun. Pendapatan perseroan juga diprediksi meningkat menjadi Rp 21,09 triliun pada 2021 dibandingkan proyeksi tahun lalu senilai Rp 17,35 triliun.

Sebelumnya, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengungkapkan, integrasi bisnis  mulai dari pertambangan batu bara, pembangkit listrik, dan hilirisasi produk batu bara akan menjadi faktor penguat pertumbuhan kinerja keuangan Bukit Asam dalam jangka panjang.

Adapun peningkatan kinerja dalam jangka pendek ditopang oleh kenaikan harga batu bara yang diyakini berlanjut.

Bukit Asam telah resmi meneken perjanjian kerja sama dengan PT Pertamina dan Air Products and Chemicals Inc untuk menggarap proyek gasifikasi batu bara. Perseroan berencana membangun pabrik gasifikasi 1,4 juta ton per tahun yang membutuhkan bahan baku batu bara sebanyak 6 juta ton per tahun.

“Nantinya, perseroan akan mendapatkan keringanan royalti 0% dari penjualan batu bara untuk pabrik gasifikasi tersebut. Hal ini tentu menjadi sentimen positif ke depannya,” tulis Andy dalam risetnya. Bukit Asam juga diuntungkan oleh tren kenaikan harga jual batu bara dalam beberapa bulan terakhir. Diperkirakan, rata-rata harga jual batu bara dunia mencapai US$ 70 per ton pada 2021 dan diharapkan meningkat menjadi US$ 75 per ton pada 2022. Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham PTBA dengan target harga Rp 3.000.

Sementara itu, Bukit Asam memastikan anggaran belanja modal (capital expenditure/ capex) pada 2021 lebih tinggi dari realisasi 2020. Perseroan juga bakal tetap membagikan dividen, meskipun kinerja tahun lalu tertekan pandemic Covid-19.

Investor Relations Bukit Asam Finoriska Citraning mengatakan, penyerapan capex perseroan hingga kuartal III-2020 mencapai Rp 700 miliar dari total anggaran Rp 2,7 triliun. Dengan demikian, anggaran tersebut diperkirakan tidak terserap maksimal sampai akhir 2020.

“Untuk 2021, capex lebih besar karena ada proyek baru yang dimulai tahun ini dan penyelesaian proyek yang sudah berjalan,” kata dia.

Salah satu proyek baru yang dimaksud adalah gasifikasi batu bara menjadi dymethil ether (DME), hasil kerja sama dengan Air Product and Chemical Inc beserta PT Pertamina (Persero). Proyek yang berlokasi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan itu akan mengolah sebanyak 6 juta ton batu bara per tahun dan diproses menjadi 1,4 juta ton DME. Hasilnya, DME bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pengganti liquefied petroleum gas (LPG).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN