Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu lokasi tambang Adaro Energy

Salah satu lokasi tambang Adaro Energy

Lonjakan Produksi Batu Bara Adaro Energy

Parluhutan Situmorang, Sabtu, 22 Februari 2020 | 16:52 WIB

JAKARTA, investor.id - Realisasi lonjakan volume produksi batubara PT Adaro Energy Tbk (ADRO) sepanjang 2019 telah melampaui estimasi. Lonjakan tersebut diharapkan berimbas positif terhadap pertumbuhan kinerja keuangan sepanjang tahun lalu. Sedangkan kinerja keuangan tahun ini akan dipengaruhi volume produksi dan fluktuasi harga jual batubara.

Adaro Energy melaporkan bahwa total produksi batu bara perseroan bertumbuh 7,4% menjadi 58 juta ton pada 2019. Realisasi tersebut di atas ekspektasi yang semula berkisar 54-56 juta ton. Peningkatan volume didukung oleh tetap tingginya permintaan batu bara perseroan di tengah outlook harga jual komoditas yang tengah bergejolak.

“Pencapaian volume produksi sebanyak 58 juta ton telah melampaui perkiraan manajemen perseroan. Realisasi tersebut juga telah melampaui perkiraan Danareksa Sekuritas yang awalnya diperkirakan hanya mencapai 55 juta ton. Kenaikan tersebut dipicu pertumbuhan permintaan dari negara-negara Asia selatan, termasuk Indonesia,” tulis analis Danareksa Stefanus Darmagiri dalam risetnya, baru-baru ini. Lonjakan volume produksi tersebut membuat volume penjualan batu bara perseroan bertumbuh hingga 9% menjadi 59,2 juta ton tahun 2019.

Menurut Stefanus, peningkatan volume penjualan tersebut diharapkan mendongkrak raihan laba bersih perseroan tahun 2019 atau bakal melampaui pencapaian tahun 2018. Kenaikan laba juga akan ditopang atas kontribusi keuntungan tambang Kestrel yang mulai dicatatkan penuh dalam laporan keuangan perseroan pada 2019.

Gedung Adaro. Foto; IST
Gedung Adaro. Foto; IST

Terkait kinerja operasional dan keuangan sepanjang 2020, menurut Stefanus, dapat dilihat dari target volume produksi Adaro Energy sebanyak 54- 58 juta ton batu bara atau di bawah realisasi tahun 2019.

Target tersebut sama persis dengan target manajemen untuk volume produksi batu bara tahun 2019 yang mencapai 54-58 juta ton.

“Dengan perkiraan rata-rata harga jual batu bara Newcastle mencapai US$ 70 per ton dan stripping ratio sebesar 4,3 kali, EBITDA operasional perseroan diperkirakan berada pada kisaran US$ 900 juta hingga US$ 1,2 miliar. Sedangkan perkiraan EBITDA perseroan dari kami kemungkinan mencapai US$ 1,1 miliar,” jelas Stefanus.

Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham ADRO dengan target harga Rp 1.800. Target harga tersebut merefleksikan beberapa faktor fundamental, seperti diversifikasi bisnis dan peningkatan kontribusi pendapatan dari luar bisnis batubara, peluang peningkatan batu bara kalori tinggi, serta ekspektasi solidnya harga jual batu bara kalori rendah.

Target harga tersebut juga mengimplikasikan perkiraan PE tahun ini sekitar 9,6 kali. Target tersebut juga mempertimbangkan peluang laba bersih perseroan sebesar US$ 428 juta pada 2020 dibandingkan proyeksi tahun 2019 mencapai US$ 487 juta. Pendapatan diperkirakan meningkat dari target US$ 3,4 miliar pada 2019 menjadi US$ 3,35 miliar pada 2020.

Salah satu proyek pertambangan Adaro. Foto: DEFRIZAL
Salah satu proyek pertambangan Adaro. Foto: DEFRIZAL

Sementara itu, tim riset Sinarmas Sekuritas menyebutkan, Adaro Energy sedang memasuki momentum penurunan harga jual batu bara yang diperkirakan berimbas terhadap kinerja keuangan perseroan tahun 2020.

 “Kami memperkirakan penurunan harga jual batu bara perseroan sebesar 6% bisa berimbas terhadap penurunan EPS Adaro sekitar 15% tahun ini,” jelas perusahaan efek itu dalam risetnya.

Penurunan harga jual batu bara kalori tinggi, sebut Sinarmas Sekuritas, dipengaruhi oleh pelemahan permintaan dari Jepang, Korea Selatan, dan Uni Eropa. Penurunan tersebut dipengaruhi atas pelemahan harga jual gas alam yang mendorong negara-negara tersebut mengalihkan penggunaan batu bara menjadi gas.

Sedangkan permintaan batu bara kalori rendah mengalami kenaikan didukung pertumbuhan impor dari Tiongkok, apalagi setelah pemerintah negara Tirai Bambu tersebut memperketat pengawasan penambangan dan kondisi cuaca yang tidak menentu.

Sinarmas Sekuritas mempertahankan rekomendasi netral saham ADRO dengan target harga Rp 1.650. Target harga tersebut mempertimbangkan PE tahun ini sekitar 8,5 kali.

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Indonesia Dessy Lapagu mengungkapkan, pendapatan Adaro Energy diproyeksikan tumbuh moderat pada 2020-2021.

Pendapatan tahun 2020 diharapkan mencapai US$ 3,08 miliar dan diperkirakan meningkat menjadi US$ 3,38 miliar pada 2021.

Adaro Energy. Foto: Defrizal
Adaro Energy. Foto: Defrizal

“Kami memperkirakan pertumbuhan pendapatan perseroan cenderung mendatar dengan asumsi perseroan mempertahankan kenaikan volume penjualan batu bara berkisar 5,2% tahun ini dan kembali naik menjadi 4,5% tahun depan. Sedangkan harga jual batu bara newcastle juga diproyeksikan stabil pada level US$ 74-71 per ton dibandingkan harga tahun 2017-2018  sebesar US$ 86-107 per ton,” tulis Dessy dalam risetnya.

Samuel Sekuritas juga menyebutkan bahwa tambang  Krestel diproyeksikan berkontribusi sebesar 20% terhadap total pendapatan tahun ini. Kontribusinya diharapkan kembali meningkat menjadi 23% terhadap total pendapatan Adaro Energy pada 2021.

Sedangkan sumbangan tambang Kestrel Coal Resources Pty Ltd terhadap laba bersih Adaro tahun ini diproyeksikan sebesar US$80,3.

Saat ini, perseroan bertindak sebgai pemegang 48% saham tambang Kestrel dengan sisanya dimiliki oleh EMR Capital sebesar 52%.

Berbagai kondisi tersebut mendorong Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham ADRO dengan target harga Rp 1.600. Target harga tersebut merefleksikan perkriaan PE tahun ini sekitar 9,6 kali. Target tersebut juga telah mempertimbangkan perkiraan kenaikan laba bersih Adaro menjadi US$ 399 juta tahun ini dibandingkan perkiraan tahun lalu senilai US$ 311 juta. Pendapatan perseroan juga diperkirakan naik menjadi US$ 3,38 miliar pada 2020 dibandingkan proyeksi tahun lalu mencapai US$ 3,08 miliar.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN