Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (Lonsum). Foto: Laporan tahunan.

PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (Lonsum). Foto: Laporan tahunan.

Lonsum Masuki Masa Panen Laba

Selasa, 8 Desember 2020 | 04:42 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Berlanjutnya kenaikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) bakal melambungkan laba bersih PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) atau Lonsum tahun ini, bahkan bisa melampaui perkiraan semula. Hal itu mendorong sejumlah perusahaan sekuritas untuk merevisi naik proyeksi laba bersih Lonsum tahun 2020-2021.

Sinarmas Sekuritas menaikkan proyeksi laba bersih Lonsum dari Rp 332 miliar menjadi Rp 457 miliar tahun ini. Sedangkan perkiraan pendapatan direvisi turun dari Rp 3,66 triliun menjadi Rp 3,49 triliun. Peningkatan target laba bersih sejalan dengan revisi naik target margin keuntungan bersih perseroan tahun ini dari 9,1% menjadi 13,1%.

Begitu juga dengan target laba bersih Lonsum tahun 2021 direvisi naik hingga 51% dari Rp 432 miliar menjadi Rp 652 miliar. Perkiraan pendapatan perseroan juga direvisi naik tipis dari Rp 3,93 triliun menjadi Rp 3,94 triliun. Hal ini sejalan dengan revisi naik target margin bersih dari 11% menjadi 16,5%.

Analis Sinarmas Sekuritas Andrianto Saputra mengungkapkan, lonjakan harga CPO membuahkan kenaikan pesat laba bersih Lonsum sebesar 427,4% menjadi Rp 277 miliar hingga kuartal III-2020.

Lonsum
Lonsum

Lonjakan laba ini melampaui perkiraan Sinarmas Sekuritas. Penopang utama lonjakan berasal dari kenaikan harga jual CPO dibandingkan volume penjualan yang turun hingga September 2020.

“Kami mempredisi kenaikan permintaan CPO berlanjut, seiring dengan keinginan Pemerintah Tiongkok untuk meningkatkan volume pembelian CPO guna menggantikan minyak kedelai. Peningkatan permintaan juga sejalan dengan implementasi B30 di Indonesia,” tulis Andrianto dalam risetnya.

Peningkatan harga jual juga bakal dipengaruhi penurunan suplai CPO global akibat sejumlah faktor, antara lain kekurangan tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit Malaysia, penerapan SOP baru industri sawit di Sabah, Malaysia, dan perkiraan hujan lebat selama La Nina yang akan memangkas produksi sawit.

Sebab itu, Andrianto merevisi naik harga CPO tahun ini dari 2.300 ringgit Malaysia per ton menjadi 2.700 ringgit Malaysia per ton. Begitu juga dengan perkiraan harga CPO tahun 2021 direvisi naik dari 2.450 ringgit Malaysia per ton menjadi 3.050 ringgit Malaysia per ton.

Berbagai faktor tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas merevisi naik target harga saham LSIP menjadi Rp 1.470 dengan rekomendasi beli. Target harga tersebut jug merefleksikan  valuasi sekitar EV/hektare (ha) sebesar US$ 5.000.

Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Andreas Kenny mengungkapkan, lonjakan laba bersih Lonsum hingga kuartal III-2020 dipengaruhi oleh kenaikan harga jual CPO yang membuat margin keuntungan kotor perseroan naik menjadi 29,6%.

Hal itu membuat laba bersih perseroan mencapai Rp 276,3 miliar hingga September atau melampaui ekspektasi. Lebih tepatnya, sekitar 101,5% dari proyeksi BRI Danareksa Sekuritas.

Menurut Andreas, lonjakan harga jual ditambah nilai tukar mata uang yang lebih baik dan penurunan biaya produksi seiring penerapan efisiensi bakal mendorong kenaikan laba bersih yang signifikan tahun ini. Sebab itu, dia merevisi naik target laba bersih Lonsum tahun 2020 dan 2021. Namun sebaliknya, target pendapatan direvisi turun.

Adapun target laba bersih Lonsum tahun ini dinaikkan hingga 60% menjadi Rp 430 miliar dibandingkan perkiraan semula Rp 272 miliar. Sedangkan perkiraan penjualan direvisi turun dari Rp 3,49 triliun menjadi Rp 3,23 triliun.

Revisi naik target laba bersih sejalan dengan dinaikkannya target harga jual CPO perseroan tahun ini dari Rp 8.043 per kilogram (kg) menjadi Rp 8.206 per kg.

Begitu juga dengan targetlaba bersih Lonsum tahun 2021 direvisi naik dari Rp 448 miliar menjadi Rp 463 miliar. Namun, perkiraan pendapatan direvisi turun dari Rp 4,07 triliun menjadi Rp 3,73 triliun. Revisi pendapatan sejalan dengan penurunan target volume produksi CPO perseroan dari 419 ribu ton menjadi 259 ribu ton.

Revisi naik target laba perseroan tahun ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham LSIP dengan target harga direvisi naik dari Rp 1.450 menjadi Rp 1.500. Target harga tersebut juga mempertimbangkan posisi kas internal perseroan yang kuat.

Belanja Modal

Sawit TBS. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
Sawit TBS. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Sebelumnya, Presiden Direktur Lonsum Benny Tjoeng mengatakan, perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/ capex) sebesar Rp 500 miliar tahun ini. Dana capex akan diserap untuk perawatan dan peremajaan tanaman yang belum menghasilkan, serta pembangunan infrastruktur pendukung.

Sebagian capex juga ditujukan untuk ekspansi pabrik sawit baru di Kalimantan Timur. “Saat ini, progres pekerjaan pabrik di Kalimantan tersebut sedikit terlambat, semula diharapkan bisa selesai akhir tahun ini, tapi April 2021 kemungkinan baru bisa commissioning,” jelas dia.

Menurut Benny, aktivitas penanaman baru Lonsum sudah mencapai sekitar 700 ha, sedangkan penanaman kembali untuk tanaman buah seperti kakao, teh, dan karet sekitar 1.000 ha.

Sejauh ini, perseroan fokus pada bisnis yang sudah ada atau belum berniat masuk ke biodiesel. “Untuk biodiesel belum kami putuskan, tentunya kami bicarakan dengan internal dulu,” ujar dia.

Lonsum tercatat mengusai total area tertanam 115.236 ha per Juni 2020, dimana sebanyak 82% merupakan lahan tertanam kelapa sawit. Rinciannya, 85.629 ha merupakan lahan yang menghasilkan, sedangkan 9.416 ha belum menghasilkan. Perseroan memiliki tanaman kelapa sawit muda dengan umur di bawah 7 tahun seluas 11 ha untuk mendukung pertumbuhan di masa depan. Pada tanaman lain seperti karet, kakao dan teh, Lonsum menguasai lahan tertanam inti seluas 20.191 ha. Untuk operasional, perseroan didukung oleh 12 pabrik kelapa sawit berkapasitas 2,6 juta ton tandan buah segar (TBS) per tahun.

Fasilitas produksi lainnya adalah 1 pabrik kakao, 1 pabrik teh, serta 4 lini karet remah dan 3 lini karet lembaran.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN