Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Manajer Investasi Beralih dari Saham Bank ke Teknologi?

Selasa, 13 Juli 2021 | 06:31 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Kinerja saham-saham di sektor teknologi yang tengah marak saat ini menjadi pilihan investor ketimbang saham di sektor perbankan. Manajer investasi cenderung mengalihkan portofolionya dari sektor old economy ke sektor new economy, yang umumnya didominasi oleh saham berbasis teknologi.

Head of Investment PT Avrist Asset Management Ika Pratiwi Rahayu mengatakan, saham di sektor teknologi bisa menjadi momentum pertumbuhan baru di bursa saham. Menurutnya, bank milik negara yang mendominasi saham perbankan di bursa Tanah Air belum memiliki katalis baru.

“Kenaikan saham yang terjadi di beberapa bank saat ini lebih didominasi oleh sentimen digital dan aksi korporasi yang berkaitan dengan hal itu,” ujar Ika kepada Investor Daily, Senin (12/7).

Dia menjelaskan, fokus utama bank besar saat ini adalah adanya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang bisa menekan pertumbuhan perekonomian. “Ekonomi yang terdampak ini yang nantinya berhubungan langsung dengan industri perbankan," ungkap dia.

Sejumlah perbankan milik negara yang akan melakukan rights issue memang bertujuan untuk memperkuat permodalan. Hal ini juga masih terkait dengan perlambatan ekonomi yang berpotensi meningkatkan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) perbankan.

Seperti diketahui, sebanyak tiga bank milik negara, yakni PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berencana melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.

Namun, rencana rights issue tersebut dinilai tidak cukup menjadi katalis positif untuk mengangkat harga saham bank terkait karena prospek saham di sektor teknologi dinilai lebih menjanjikan.

Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menambahkan, rencana rights issue tiga bank negara tersebut bisa berdampak positif bagi pergerakan harga sahamnya. Pasalnya, rencana rights issue itu bisa meningkatkan pendapatan bank ke depannya.

Namun, Sukarno menilai, dampaknya tidak sebagus seperti saham teknologi yang saat ini cukup marak. Sedangkan bank saat ini berada dalam kondisi untuk berjuang menuju pemulihan.

“Rencana rights issue tiga bank negara tersebut bisa berdampak positif bagi pergerakan harga sahamnya, dan bisa meningkatkan pendapatan bank ke depannya. Dalam jangka panjang, saham bank masih menarik, terlebih yang memiliki fundamental yang solid," terang dia.

Kendati demikian, Sukarno mewanti investor agar melihat pergerakan harga terlebih dahulu sebelum masuk ke saham teknologi. Pasalnya, pergerakan harga saham teknologi cenderung tinggi sehingga berisiko untuk masuk sekarang. "Tunggu harga koreksi dulu dan terbentuk sinyal buy kembali," ungkap dia.

Salah satu saham teknologi yang menurut Sukarno masih bisa dikoleksi adalah PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA). Saham ini dinilai masih relatif murah dengan target harga terdekat Rp 4.000 dan target jangka menengah Rp 5.000.

Masih Menarik

Associate Director of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, rights issue yang dilakukan oleh beberapa bank milik negara merupakan hal yang menarik. Apalagi, bank yang akan melakukan rights issue adalah bank BUKU IV atau bank dengan modal inti di atas Rp 30 triliun, sehingga permodalan menjadi sesuatu yang dibutuhkan.

Misalnya BNI, yang berencana melakukan rights issue untuk mewujudkan rencana menjadi bank digital. Sementara, BTN berencana memperkuat rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) melalui rights issue.

Sementara, BRI melakukan rights issue untuk membentuk holding ultramikro dengan mengakuisisi Pegadaian dan PNM, sehingga hal ini akan berdampak positif bagi BRI dalam mengembangkan sektor ritel. Tidak hanya itu, BRI akan meningkatkan CAR untuk menjaga permodalannya tetap terjaga.

"Secara jangka pendek, sentimen rights issue bank milik negara ini masih cenderung positif, tergantung dari pandangan pasar dan investor," ujar dia.

Meski demikian, senada dengan analis sebelumnya, Nico memandang saham teknologi akan jauh lebih unggul tahun ini. Dia merekomendasikan beberapa saham yang patut dilirik investor. Saham itu adalah PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dengan target harga Rp 3.500, PT BRI Agroniaga Tbk (AGRO) dengan target harga Rp 2.500, dan PT Bank Jago Tbk (ARTO) dengan target harga Rp 15.000.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN