Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tim Mandiri Capital Indonesia. Foto: Perseroan.

Tim Mandiri Capital Indonesia. Foto: Perseroan.

Mandiri Capital Agresif Suntik Modal 'Start-up'

Rabu, 25 November 2020 | 22:33 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Mandiri Capital Indonesia telah mengucurkan investasi dan penyertaan modal senilai Rp 1 triliun kepada 14 perusahaan rintisan (start-up) di sektor teknologi finansial (fintech) sejak berdiri lima tahun lalu. Tahun depan, modal ventura milik PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) ini siap terlibat pada Indonesia Impact Fund (IIF) yang memiliki target dana investasi US$ 25 juta.

Direktur Utama Mandiri Capital Indonesia Eddi Danusaputro mengatakan, selama lima tahun berdiri, investasi pada start-up mendorong berbagai inovasi dan sinergi dengan Mandiri Group. Sinergi tersebut meliputi penyaluran modal ke puluhan ribu usaha kecil menengah (UMKM), mulai dari sektor bisnis konvensional hingga pertanian.

“Kami juga membantu mengembangkan digitalisasi UMKM, baik dari sisi pembayaran maupun dukungan sistem lainnya, seperti proses akuntansi dan sumber daya manusia (HR), serta penggunaan digital signature sebagai bentuk efisiensi proses bisnis,” kata Eddi saat konferensi pers virtual, Rabu (25/11).

Sebagai informasi, portofolio investasi Mandiri Capital pada peer to peer lending antara lain Amartha, Crowde, KoinWorks, dan Investree. Sedangkan pada sistem pembayaran, investasi perseroan meliputi platform LinkAja, Yokke, PTEN, dan DAM. Selanjutya di sektor fintech, investasi dilakukan pada Mekari, PrivyID, Cashlez, Gojek, Iseller, dan Halofina.

Mandiri Capital berdiri pada 10 November 2015 bersamaan dengan keluarnya izin sebagai perusahaan modal ventura (PMV) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pendirian modal ventura oleh Bank Mandiri bertujuan sebagai jembatan untuk mendorong inovasi dan sinergi antara Mandiri Group dengan start-up yang menjadi portofolio investasi.

“Banyak start-up yang yang bisa menyelesaikan masalah dengan cepat, dimana korporasi tidak bisa. Speed start-up jauh lebih cepat. Mereka punya inovasi yang dikembangkan, dan inovasi ini seperti bisa dinikmati oleh korporasi besar,” jelas Eddi.

Dia menambahkan, pihaknya akan terus agresif menambah portofolio, sehingga dalam waktu dekat portofolio perusahaan akan menjadi 15 start-up. Pihaknya pun berharap dapat meraih keuntungan dari portofolio start-up melalui strategi, baik initial public offering (IPO) saham ataupun menjual saham kepada pihak ketiga.

Salah satu keuntungan Mandiri Capital pada portofolio investasinya adalah saat Gojek mengakuisisi start-up layanan kasir digital, Moka, pada April 2020. “Kami beli Moka sekitar tiga tahun lalu dan beberapa tahun kemudian dibeli 100% oleh Gojek. Kami mendapatkan return dalam bentuk uang dan sebagainya dalam bentuk saham Gojek,” kata Eddi.

Tahun depan, Mandiri Capital pun akan terlibat Indonesia Impact Fund (IIF) yang merupakan hasil kolaborasi dengan APEC Business Advisory Council (ABAC). Sesuai rencana, target dana investasi sebesar US$ 25 juta akan diinvestasikan kepada start-up yang memiliki dampak sosial dan lingkungan.

Adapun, dampak lingkungan dan sosial yang dimaksud merujuk pada lima tujuan sustainable development goals (SDG), yakni pengentasan kemiskinan, layanan kesehatan yang terjangkau, pendidikan yang berkualitas dan mudah diakses, peningkatan partisipasi perempuan, serta kota berkelanjutan dan perumahan yang terjangkau.

Selain IIF, Mandiri Capital juga terus mengembangkan produk pendanaan Mandiri Venture Capital. Perusahaan selalu terbuka mengundang berbagai investor untuk ikut terlibat, termasuk investor mancanegara.

Komitmen tersebut didasarkan pada laporan peta start-up dari AMVESINDO yang menyebutkan, tren investasi start-up di Indonesia didominasi pada tiga sektor, yaitu fintech, teknologi edukasi, dan software as service (SaaS).

Dari sisi keuangan, Chief Financial Officer Mandiri Capital Hira Laksamana menjelaskan, bisnis perusahaan setiap tahunnya terus bertumbuh dengan baik. Meskipun kondisi perekonomian pada tahun ini mengalami berbagai tantangan, perseroan mampu meningkatnya posisi ekuitas dan aset masing-masing sekitar Rp 1,8 triliun dan Rp 2 triliun.

“Pencapaian ini menempatkan Mandiri Capital berada di posisi terbesar pertama untuk ekuitas dan kedua untuk aset dibandingkan dengan pelaku PMV lainnya di Indonesia,” ujar Hira.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN