Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pialang memantau jalannya perdagangan saham di Mandiri Sekuritas, Jakarta, baru-baru ini.  Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID

Pialang memantau jalannya perdagangan saham di Mandiri Sekuritas, Jakarta, baru-baru ini. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID

Mandiri Sekuritas dan NH Korindo Merajai Perdagangan di BEI

Farid Firdaus, Rabu, 14 Agustus 2019 | 10:33 WIB

JAKARTA, investor.id – Sebanyak 13 perusahaan efek atau sekuritas yang mayoritas sahamnya dikuasai asing menguasai 42,4% dari total transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama Januari-Juli 2019. Sementara itu, Mandiri Sekuritas menempati posisi pertama, Merrill Lynch terdepak, dan NH Korindo kembali masuk dalam daftar 20 sekuritas teraktif berdasarkan nilai perdagangan.

Hal tersebut terungkap dalam data BEI yang dirilis Selasa (13/8). Laporan teranyar ini menyatakan, total transaksi yang tercatat di BEI mencapai Rp 2.722,4 triliun dengan volume perdagangan 4,13 triliun unit selama Januari-Juli 2019.

Sebanyak 20 sekuritas teraktif berdasarkan nilai perdagangan tersebut mewakili 63% dari total transaksi. Sebanyak tujuh sekuritas dalam negeri masuk ke dalam daftar tersebut. Secara nilai perdagangan, Mandiri Sekuritas tercatat paling banyak sebesar Rp 251,06 triliun. Namun, secara volume perdagangan, NH Korindo yang juara, yakni sebanyak 389,1 miliar unit atau tiga kali lipat dari volume perdagangan Mandiri Sekuritas yang sebesar 128,6 miliar unit.

Sebagai informasi, Merrill Lynch sebelumnya masih berada di posisi 17 berdasarkan nilai perdagangan sesuai data Januari-Juni 2019. Namun, lantaran perusahaan ini telah resmi menghentikan operasi perdagangan efek sejak Juli lalu, maka posisi 20 broker teraktif pun turut bergeser.

Tercatat, NH Korindo yang sempat berada di posisi paling buncit berdasarkan data Januari-Mei 2019, lalu keluar dari jajaran broker teraktif menurut data Januari-Juni 2019, kini kembali masuk daftar.

Namun, apabila mengacu data pada Juli saja, Mirae Asset Sekuritas berada di posisi teratas secara nilai perdagangan, kemudian disusul oleh Mandiri Sekuritas. Sedangkan NH Korindo tetap tercatat yang paling aktif secara volume perdagangan selama Juli kemarin.

Lebih lanjut, Deutsche Sekuritas Indonesia yang dikabarkan bakal melepas kursi anggota bursa masih membukukan nilai transaksi perdagangan Rp 70,72 triliun selama Januari-Juli 2019 atau berada di posisi 11, turun dari posisi 9 pada periode Januari-Juni 2019.

Baru-baru ini, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Laksono Widodo mengatakan, selama setahun ke depan, Merrill Lynch dan Deutsche diberikan waktu untuk bernegosiasi dengan sekuritas lain yang berminat mengambil alih kursi bursa mereka.

Transaksi tersebut dilakukan secara business to business (B2B). Apabila hingga tenggat waktu tidak ada yang berminat membeli kursi bursa dengan skema B2B, maka BEI akan melakukan lelang sebulan satu kali selama enam bulan.

“Sebenarnya Merrill yang sudah mengumumkan resmi, sedangkan Deutsche belum. Tapi mereka berdua sudah menyatakan akan menghentikan operasi perantara efek di sini,” jelas dia.

Sepengetahuan pihaknya, lanjut Laksono, Merrill Lynch mengalihkan transaksi nasabahnya kepada sekuritas asing lain. Dengan demikian, perginya dua sekuritas asing ini tidak serta merta membuat transaksi investor asing di Indonesia berkurang.

Selain Merrill dan Deutsche, terdapat PT Nomura Sekuritas yang juga terlihat mengurangi aktifitas perdagangannya. Namun, Nomura tetap menjalankan fungsi dan mengisi kursi anggota bursa. Berkurangnya transaksi dari Nomura di perkirakan lantaran adanya restrukturisasi di kantor pusat sekuritas asal Jepang tersebut.

Secara terpisah, Komisaris Independen Mirae Asset Sekuritas Indonesia Samsul Hidayat juga meyakini, transaksi saham dari mantan nasabah Merrill dan Deutsche diambil alih oleh sekuritas asing. Pasalnya, investor asing memiliki kecenderungan melakukan transaksi saham melalui broker asing juga.

“Mungkin ada sekitar 20-an sekuritas asing di Indonesia. Jadi sekuritas ini akan menangkap peluang dari keluarnya Merrill dan Deutsche karena portofolio saham harus dialihkan,” tutur dia.

Menurut Samsul, apabila ada sekuritas asing yang keluar, hal itu bukan berarti mereka menilai pasar Indonesia kurang menarik. Pasalnya, para sekuritas ini masih dimungkinkan mencari pelanggan dari Indonesia melalui cabangnya di negara tetangga seperti Singapura.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN