Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor melihat harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Investor melihat harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Manulife: IHSG Berpeluang Tembus 7.040 Tahun Ini

Kamis, 14 Januari 2021 | 23:07 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - PT Manulife Aset Manajemen Indonesia memprediksi indeks harga saham gabungan (IHSG) tahun ini pada kisaran 6.740-7.040. Hal ini ditopang oleh mulai masuknya arus modal asing dan meningkatnya partisipasi investor ritel di pasar saham.

Senior Portfolio Manager Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia Samuel Kesuma mengatakan, IHSG tercatat menurun 5,1% pada 2020. Penurunan ini membuat Indonesia tertinggal dari negara Korea Selatan, Tiongkok, Jepang, Amerika Serikat dan negara lain yang sudah mencatat peningkatan IHSG pada 2020.

Sementara itu dari segi valuasi, Indonesia juga masih relatif murah dibandingkan negara emerging market lainnya. "Dengan valuasi yang murah dan kinerja IHSG yang masih tertinggal, investor asing mulai masuk ke pasar Indonesia," ujar dia dalam acara Media Gathering secara virtual, Kamis (14/1).

Apalagi dari sisi kepemilikan asing di pasar modal pada 2020 cenderung rendah. Sementara pertumbuhan investor ritel di dalam negeri mulai meningkat. Sehingga dengan ditopang oleh mulai masuknya investor asing dan meningkatnya partisipasi investor ritel bisa menjadi katalis positif bagi IHSG tahun ini.

Dengan melihat momentum ini, sektor saham yang berpeluang untuk menguat adalah sektor material dan energi. "Apabila pemulihan ekonomi terjadi, maka permintaan terhadap komoditas meningkat, terutama batubara dan nikel karena adanya pengembangan kendaraan listrik," papar dia.

Sektor lainnya yang juga akan meningkat adalah sektor telekomunikasi. Menurut Samuel, dengan adanya kebijakan bekerja dari rumah, sektor telekomunikasi menjadi sektor yang diuntungkan pada 2020. Sektor ini akan tetap berkembang pada 2021, seiring dengan peningkatan permintaan data dan konsolidasi di industri telekomunikasi.

Sektor terakhir yang akan berkembang adalah sektor perbankan. Samuel menjelaskan, dengan mulai normalnya aktivitas masyarakat, ekspansi pelaku usaha juga akan meningkat. Sehingga perbankan mulai meningkatkan penyaluran kreditnya yang pada akhirnya berpengaruh positif terhadap pertumbuhan laba tahun ini.

Pasar Obligasi

Sementara itu, Director and Chief Investment Officer Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazula mengatakan, pada 2020, pasar obligasi Indonesia membukukan kinerja sebesar 14,7%. Hal ini ditopang oleh pemangkasan suku bunga global, tingginya likuiditas domestik dan manajemen utang pemerintah yang baik. 

Apabila dibandingkan dengan kawasan lain, pasar obligasi Indonesia menawarkan imbal hasil riil yang superior, bahkan merupakan salah satu yang tertinggi di dunia sebesar 3,6%.

"Selain daripada menariknya imbal hasil obligasi, kinerja pasar pada kuartal keempat tahun lalu juga didukung oleh aliran dana investor asing yang mulai kembali ke pasar obligasi Indonesia pasca disahkannya Omnibus Law dan stabilnya nilai tukar rupiah," jelas Ezra.

Tingginya imbal hasil di pasar pasar obligasi Indonesia masih akan menjadi daya tarik pada 2021, terutama bagi investor asing. Menurut Ezra, hal ini didukung oleh sentimen global maupun domestik yang lebih suportif akan berpeluang meningkatkan aliran real money.

"Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah juga pendukung bagi pasar obligasi Indonesia karena secara historis, nilai tukar cenderung bergerak searah dengan pasar obligasi," kata dia.

Ezra memperkirakan bahwa imbal hasil obligasi pemerintah dengan durasi 10 tahun berpotensi menurun ke level 5,5% di tahun 2021. Ditambah dengan kupon obligasi sekitar 3%, maka tingkat pengembalian obligasi tahun ini bisa mencapai 8%-10. Hal ini tentunya lebih menarik dibandingkan suku bunga deposito di perbankan.

Perkembangan di pasar saham dan obligasi ini sejalan dengan perbaikan ekonomi global dan domestik. Chief Economist and Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengatakan, pasar finansial Indonesia akan mengalami normalisasi sehingga dana investor asing diperkirakan akan kembali masuk pada tahun ini.

Ada beberapa sentimen yang mempengaruhi antusiasme investor asing itu, yakni insiatif vaksinasi, dukungan pemerintah dan bank sentral dalam mendorong perekonomian. Potensi inflow ini sangat terbuka karena kepemilikan asing di pasar saham dan obligasi yang saat ini masih relatif rendah serta potensi imbal hasil yang masih menarik di pasar finansial Indonesia.

"Khusus pada pasar saham Indonesia, peluang inflow masih besar, mengingat netflow di bulan November 2020 baru mencapai US$ 245 juta sementara net outflow pada periode 2017 hingga Oktober 2020 sebesar US$ 6,34 miliar," ujar Katarina.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN