Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu kegiatan di tambang Adaro Energy, Dok B1photo

Salah satu kegiatan di tambang Adaro Energy, Dok B1photo

Manuver Adaro Buyback Saham Saat Harga Batu Bara Melonjak

Selasa, 5 Oktober 2021 | 07:18 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Pembelian kembali (buyback) saham dan tren penguatan harga batu bara menjadi katalis positif terhadap pergerakan harga saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Potensi kenaikan harga saham perseroan juga bakal didukung oleh kinerja keuangan yang diperkirakan lebih baik dari ekspektasi semula.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengungkapkan, buyback saham sebagai refleksi bahwa harga saham Adaro belum mencerminkan fundamental bersamaan dengan kenaikan harga batu bara.

“Harga batu bara telah meningkat 137% sejak awal tahun hingga kini. Peningkatan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga saham Adaro sepanjang tahun ini yang baru mencapai 5,6%,” tulis dia dalam risetnya.

harga saham ADRO dalam satu dekade terakhir
harga saham ADRO dalam satu dekade terakhir

Sebelumnya, Adaro mengumumkan rencana buyback saham dengan alokasi anggaran hingga Rp 4 triliun untuk periode September-Desember 2021. Pendanaan buyback berasal dari kas internal. Hingga semester I-2021, kas internal perseroan mencapai US$ 1,2 miliar.

Dengan mengacu pada anggaran buyback yang senilai Rp 4 triliun dan rata-rata harga saham Adaro dalam beberapa hari terakhir pada kisaran Rp 1.510, maka jumlah saham yang berpotensi dibeli sebanyak 8,3% dari total saham perseroan.

Sementara itu, kinerja Adaro juga bakal terdongkrak seiring berlanjutnya kenaikan harga batu bara pada semester II-2021. Baru-baru ini, harga batu bara telah mencapai US$ 190 per ton.

Adapun target volume produksi batu bara perseroan diperkirakan stabil sebanyak 52-54 juta ton atau tak jauh dari realisasi tahun lalu yang sebanyak 54,5 juta ton.

Salah satu pertambangan Adaro. Foto:  DEFRIZAL
Salah satu pertambangan Adaro. Foto: DEFRIZAL

Sebelumnya, BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target kinerja keuangan Adaro tahun 2021-2022, seiring ekspektasi harga jual yang tetap solid hingga akhir tahun ini. Penguatan kinerja keuangan perseroan juga terlihat dalam laporan keuangan pada semester I-2021.

Adapun proyeksi laba bersih Adaro tahun ini dinaikkan dari US$ 292 juta menjadi US$ 441 juta. Begitu juga dengan pendapatan perseroan dinaikkan dari US$ 2,68 miliar menjadi US$ 3,18 miliar. Revisi naik ini sejalan dengan peningkatan proyeksi rata-rata harga jual batu bara perseroan dari US$ 47 per ton menjadi US$ 56 per ton pada 2021.

Selanjutnya, pada 2022, proyeksi laba bersih Adaro dinaikkan dari US$ 310 juta menjadi US$ 367 juta. Proyeksi pendapatan dinaikkan dari US$ 2,86 miliar menjadi US$ 3,11 miliar. Hal ini sejalan dengan revisi naik perkiraan harga jual batu bara perseroan dari US$ 49 per ton menjadi US$ 53 per ton. Perseroan diperkirakan mampu menjual sebanyak 54 juta ton batu bara pada tahun depan.

Di lain pihak, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Juan Harahap mengungkapkan, kenaikan rata-rata harga jual batu bara akan mendongkrak laba bersih Adaro pada paruh kedua tahun ini.

“Kami juga memperkirakan bahwa Adaro bakal mampu menaikkan volume produksi batu bara pada semester II tahun ini, sehingga bisa mengejar target sepanjang tahun ini. Peluang itu didukung oleh kondisi cuaca yang lebih baik dan pelonggaran pembatasan sosial,” tulis dia dalam risetnya.

Mengenai kinerja keuangan perseroan pada semester I-2021, dia menyebutkan bahwa perolehan laba bersih sebesar US$ 178 juta masih di bawah estimasi Mirae dan konsensus analis. Pencapaian tersebut merefleksikan 40,5% dari proyeksi Mirae dan 45% dari konsensus analis.

Adapun laba bersih Adaro tahun ini diproyeksikan naik menjadi US$ 420 juta dibandingkan tahun 2020 senilai US$  147 juta. Begitu juga dengan pendapatan perseroan diestimasi naik menjadi US$ 3,27 miliar pada 2021 dibandingkan tahun lalu US$ 2,53 miliar.

Buyback Saham

Ringkasan kinerja keuangan Adaro Energy
Ringkasan kinerja keuangan Adaro Energy

Manajemen Adaro menyebutkan bahwa buyback saham tidak akan berpengaruh negatif terhadap kinerja dan pendapatan perseroan, karena saldo laba dan arus kas yang tersedia saat ini sangat mencukupi untuk kebutuhan dana pelaksanaan buyback. Jika dana yang dialokasikan untuk buyback saham telah habis dan/atau jumlah saham yang akan dibeli kembali telah terpenuhi, perseroan akan melakukan keterbukaan informasi terkait penghentian pelaksanaan buyback.

Adapun harga buyback belum ditentukan, namun akan dilakukan pada harga yang dianggap sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Buyback saham juga tidak akan berdampak buruk bagi kegiatan usaha maupun pertumbuhan perseroan di masa yang akan datang. Dampak dari aksi ini hanya akan mengurangi jumlah aset dan ekuitas perseroan sebanyak-banyaknya Rp 4 triliun. Perseroan berharap buyback ini akan memberikan tingkat pengembalian yang baik bagi pemegang saham serta meningkatkan kepercayaan investor, sehingga harga saham perseroan dapat mencerminkan kondisi fundamental yang sebenarnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN