Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Cashlez telah mendapat izin resmi Bank Indonesia sebagai penyelenggara Payment Gateway dengan nomor surat 21/142/DKSP/Srt/B tanggal 20 Mei 2019, dan di sepanjang tahun 2019, Cashlez juga memperluas jangkauannya ke beberapa kota besar di Indonesia.

Cashlez telah mendapat izin resmi Bank Indonesia sebagai penyelenggara Payment Gateway dengan nomor surat 21/142/DKSP/Srt/B tanggal 20 Mei 2019, dan di sepanjang tahun 2019, Cashlez juga memperluas jangkauannya ke beberapa kota besar di Indonesia.

Maret, Cashlez Gelar IPO

Prisma Ardianto, Rabu, 12 Februari 2020 | 08:21 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Cashlez Worldwide Indonesia (Cashlez) berencana melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada Maret 2020. Perusahaan financial technology (fintech) payment gateway itu bakal melepas sekitar 20% saham ke publik dengan target dana Rp 100 miliar.

Dana hasil IPO akan digunakan antara lain untuk mengakuisisi perusahaan dengan model bisnis hampir serupa.

Founder & Chief Executive Officer (CEO) Cashlez Teddy Setiawan Tee mengungkapkan, yang akan diakuisisi perseroan adalah perusahaan fintech yang bergerak di bidang transportasi dan perparkiran. Untuk menjadi pemegang saham pengendali, Cashlez bakal membeli sampai 51% saham.

“Perusahaan yang akan kami akuisisi bergerak di bidang yang sama, tapi mereka lebih spesifik membuat transaksi tol nontunai atau aplikasi untuk perparkiran. Mereka juga membuat vending machine,” kata Teddy Setiawan Tee saat berkunjung ke redaksi Investor Daily di Beritasatu Plaza, Jakarta, Selasa (11/2).

Teddy, yang masih tercatat sebagai pemegang saham pengendali Cashlez, menjelaskan, perseroan sebelumnya mendapatkan pendanaan seri A dari Sumitomo Corporation pada 2019 dan pendanaan tahap awal berbasis ekuitas (seed funding) dari Mandiri Capital pada 2017

Hingga kini, menurut Teddy Setiawan, Cashlez masih menunggu persetujuan IPO dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Perseroan menggandeng Sinarmas Sekuritas sebagai pelaksana emisi (underwriter). Dia menambahkan, proses penawaran awal atau sistem penjatahan elektronik (electronic bookbuilding) dijadwalkan pada 24 Februari 2020.

Dengan demikian, pada Maret mendatang Cashlez sudah bisa melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham Cashlez akan tercatat di papan pengembangan (development board). “Target kami, IPO dan listing bisa dilaksanakan pada akhir kuartal I atau Maret tahun ini,” tutur dia.

Teddy Setiawan mengakui, Cashlez yang didirikan pada 2015, masih tergolong perusahaan rintisan (startup) yang belum membukukan laba. “Tapi minimal pada dua tahun selanjutnya, kami janji akan menghasilkan laba,” tegas dia.

Teddy mengemukakan, perseroan memilih IPO dibanding skema pendanaan lain karena sejumlah alasan, seperti aspek pajak yang lebih menguntungkan dan lebih bersahabat. Dengan menjadi perusahaan publik, Cashlez juga akan lebih tegas melaksanakan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/ GCG), termasuk dalam hal transparansi.

“Selain itu, berkaca pada perusahaan- perusahaan fintech payment gateway di luar negeri yang sukses, banyak dari mereka yang menjadi perusahaan tercatat di bursa (listed company),” tandas Teddy yang akan menggunakan sandi saham CASH untuk Cashlez.

Kinerja 2019

Founder & Chief Executive Officer (CEO) Cashlez Teddy Setiawan Tee. Foto: asia.nikkei.com
Founder & Chief Executive Officer (CEO) Cashlez Teddy Setiawan Tee. Foto: asia.nikkei.com

Teddy Setiawan Tee juga mengungkapkan, Cashlez menutup tahun 2019 dengan pencapaian positif. Jumlah merchant perseroan tahun silam meningkat dua kali lipat menjadi 6.300 merchant dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah transaksi juga melonjak 200% secara tahunan (year to date/ytd), dengan kenaikan nilai transaksi kotor (gross transaction value/GTV) lebih dari 180%.

“Berdasarkan laporan keuangan audited, kami memproses transaksi sampai Rp 3,8 triliun sampai akhir 2019, dengan jumlah transaksi sekitar 3 juta. Kami menargetkan tahun ini menjadi Rp 10 triliun,” ujar Teddy.

Transaksi Cashlez tertinggi tahun lalu, kata Teddy, diperoleh dari metode pembayaran menggunakan kartu, diikuti pembayaran perdagangan secara elektronik (e-commerce), dan pembayaran digital, termasuk dompet elektronik (e-wallet). Transaksi tersebut naik masing-masing 182%, 180%, dan 60% dibandingkan tahun sebelumnya.

Strategi 2020

Teddy Setiawan mengemukakan, perseroan akan lebih agresif berekspansi tahun ini. Apalagi setelah proses akusisi selesai dan perseroan menggabungkan lini bisnisnya.

“Jadi, tahun ini adalah tahun yang boleh dibilang sangat agresif bagi kami dari sisi pengembangan maupun rencana bisnis. Apalagi kami akan mengakuisisi perusahaan solusi yang bergerak di bidang transpor tasi,” papar dia.

Dengan mengakuisisi perusahaan tersebut, menurut Teddy, transaksi Cashlez di payment gateway juga bakal bertambah. “Mereka adalah leader di lini transportasi, seperti tol, parkir, dan vending machine,” ucap Teddy, yang belum bersedia merinci perusahaan yang akan diakuisisi perseroan.

Di sisi lain, kata Teddy, Cashlez secara aktif terus meningkatkan mitra strategisnya dengan bank dan nonbank guna memudahkan setiap pelaku usaha menerima pembayaran nontunai terkini.

Dia menambahkan, Cashlez bekerja sama dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), PT Bank Maybank Indonesia Tbk, PT Bank BTPN Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), dan PT Bank Syariah Mandiri (BSM).

“Mitra kami akan terus bertambah seiring perkembangan bisnis dari para pelaku usaha,” tutur dia.

Cashlez juga bekerja sama dengan LinkAja, OVO, GoPay, dan Kredivo. Berkat kerja sama tersebut, Cashlez menorehkan Rekor Dunia dari Musim Rekor Dunia Indonesia (Muri) sebagai payment aggregator dengan Layanan Point of Sale (POS) dan Pilihan Pembayaran Multi-Acquiring Bank Terbanyak dalam Satu Aplikasi.

Dari sisi merchant, menurut Teddy, Cashlez juga terus mengembangkan layanan yang dibutuhkan merchant. Perseroan menargetkan penambahan 4.000 merchant tahun ini, sehingga secara total akan mencapai sekitar 10 ribu merchant.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN