Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Jago. Foto: IST

Bank Jago. Foto: IST

'Market Cap' Bank Jago Dekati Bank Mandiri

Rabu, 21 Juli 2021 | 06:11 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Jago Tbk (ARTO) menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar saham (market capitalization) terbesar kelima di Bursa Efek Indonesia (BEI). Nilai market cap bank digital tersebut mencapai Rp 210 triliun pada perdagangan Senin (19/7) atau mendekati PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) di posisi empat senilai Rp 266 triliun.

Pada akhir Juni 2021, Bank Jago sempat berada di posisi tujuh dengan market cap senilai Rp 186 triliun. Namun, kurang dari sebulan, Bank Jago mampu menggeser PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Astra International Tbk (ASII). Saat itu, Unilever Indonesia berada di posisi enam dengan nilai market cap Rp 188 triliun dan Astra di posisi lima dengan market cap Rp 199 triliun. Sementara itu, posisi pertama saat ini masih ditempati oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan market cap sebesar Rp 733 triliun.

Equtiy Analyst Sucor Sekuritas Edward Lowis mengatakan, pihaknya memiliki tiga skenario target harga dan market cap untuk Bank Jago. Skenario yang paling optimistis, target harga saham Bank Jago Rp 20 ribu atau market cap sebesar Rp 277 triliun.

“Pada skenario bullish tersebut, kami melihat jumlah customer Bank Jago bisa mencapai 65 juta. Dengan target kapitalisasi pasar Rp 277 triliun, apabila tercapai, maka ada kemungkinan bisa menyalip kapitalisasi pasar Bank Mandiri,” kata dia kepada Investor Daily.

Namun, kinerja saham Bank Jago akan menghadapi tantangan dari sentimen tapering off oleh Bank Sentral AS yang terjadi lebih awal dari ekspektasi. Selain itu, kompetisi yang semakin ketat di sektor digital bank bakal mengganggu momentum pertumbuhan saham berkode ARTO tersebut. Meski demikian, Bank Jago memiliki competitive advantage dengan adanya dukungan dari GoTo sebagai salah satu pemegang saham.

Sebab itu, menurut Edward, momentum kenaikan harga saham Bank Jago masih ada. Yang perlu diperhatikan investor adalah secepat apa Bank Jago bisa mengambil pangsa pasar atau meningkatkan jumlah nasabah dan jumlah transaksi di platform digital bank perseroan.

Dari sisi kinerja keuangan, kemungkinan besar dalam beberapa kuartal ke depan Bank Jago mencatatkan kinerja yang cenderung negatif akibat besarnya customer acquisition cost dalam bentuk advertising dan promotion. Namun, yang perlu dicermati adalah seberapa efektif biaya tersebut untuk menarik nasabah baru.

“Jadi, ketika berinvestasi di saham Bank Jago adalah bicara momentum. Jika momentumnya masih bagus dengan volume perdagangan masih tinggi, saya rasa potensi upside masih akan cukup bagus,” ujar dia.

Namun, investor tetap harus berhati-hati apabila nanti momentumnya mulai hilang atau bahkan berbalik arah. Karena kalau dilihat dari sisi valuasi, saham Bank Jago bisa dibilang tidak murah lagi untuk saat ini.

Sebelumnya, Founder dan CEO Finvesol Consulting Indonesia Fendi Susiyanto menjelaskan, saat ini, Bank Jago adalah satu-satunya bank digital yang memiliki valuasi terbesar. Market cap-nya bahkan lebih tinggi dari bank besar seperti PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).

Seiring market cap yang besar tersebut, harga saham Bank Jago juga meningkat pesat. “Harga saham Bank Jago sudah mencerminkan 21 kali dari price to book value (PBV), lebih tinggi dibandingkan rata-rata bank yang mencapai 2 kali PBV," kata dia.

Kapitalisasi pasar tersebut, menurut Fendi, lambat laun akan menurun apabila tidak diimbangi dengan fundamental yang memadai. Pasalnya, bisnis bank adalah bisnis yang kinerja keuangannya bisa diteliti, yakni melalui margin bunga bersih atau net interest margin (NIM), perolehan laba, kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) atau indikator lainnya.

Karena itu, dia menilai harga saham Bank Jago sudah terlalu mahal. Sementara, kinerja keuangan Bank Jago belum bisa mengimbangi. Net profit margin (NPM) Bank Jago pada akhir Maret 2021 minus 69,82%. Bank Jago juga masih membukukan rugi Rp 38,13 miliar dengan arus kas negatif Rp 48,46 miliar. Return on equity (ROE) dan return on asset (ROA) Bank Jago juga tercatat negatif masing-masing minus 1,88% dan minus 1,64%.

Meningkatnya harga saham ARTO dan beberapa bank digital lain, menurut Fendi, lebih disebabkan oleh euforia bank digital. Fenomena ini dinilai tidak akan bertahan lama atau setidaknya hanya dalam satu tahun. Setelah fenomena berakhir, harga saham dan market cap bank digital akan kembali bergerak sesuai fundamentalnya.

Adapun sebuah bank mini atau bank digital sewajarnya memiliki market cap sekitar Rp 5-30 triliun. Sementara, harga saham wajarnya setidaknya 3 kali dari book value. Dengan melihat harga wajar ini, investor ritel yang membeli saham bank digital tentunya harus berhati-hati dan tidak terlena dengan euforia dari kenaikan harga saham sesaat.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN