Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
GoTo, hasil merger Gojek dan Tokopedia.

GoTo, hasil merger Gojek dan Tokopedia.

'Market Cap' GoTo Tetap Terbesar

Kamis, 15 Juli 2021 | 06:10 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id – Nilai kapitalisasi pasar (market cap) Gojek-Tokopedia (GoTo) tetap terbesar, sekalipun market cap PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT Global JET Express (J&T Express), dan PT Tinusa Travelindo (Traveloka) digabung menjadi satu.

Selain Bukalapak dan GoTo, dua perusahaan rintisan (start-up) teknologi berstatus unicorn, yaitu Traveloka dan J&T Express juga berpotensi mencatatkan sahamnya (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pada 2020, market cap GoTo diperkirakan mencapai US$ 18 miliar. Kemudian, J&T Express sebesar US$ 7,8 miliar, Bukalapak senilai US$ 5,3-6,05 miliar, dan Traveloka US$ 2,75 miliar. Jika market cap J&T Express, Bukalapak, dan Traveloka digabungkan, nilainya US$ 16,6 miliar.

Nilai tersebut diyakini jauh lebih besar pada 2021 mengingat adopsinya yang makin menggeliat di tengah pandemi Covid-19. “Angkanya GoTo pasti akan lebih besar dibandingkan tahun 2020 karena perkembangan pandemi Covid. Tapi, kalau semuanya akan masuk ke market, most likely nilainya juga akan lebih besar daripada perkiraan kita tahun 2020,” kata Komisaris BEI Pandu Patria Sjahrir dalam acara bertajuk Meet The Expert: Energizing Market through Company Public Offering, Rabu (14/7).

Sebagai contoh, Bukalapak yang menjadi perusahaan e-commerce berstatus unicorn asal Indonesia pertama yang melantai di BEI menempati posisi 15 besar peringkat kapitalisasi pasar terbesar per 30 Juni 2021. Peringkat ini melonjak dari posisi tahun lalu yang berada di 20 besar.

Bukalapak dengan kode ticker BUKA menawarkan maksimum 25.765.504.851 lembar saham atau sebanyak 25% saham ke publik dengan target dana penawaran umum hingga Rp 21,90 triliun. Saham Bukalapak ditawarkan kepada publik dengan harga penawaran berkisar antara Rp 750-850 setiap saham.

Bila keempat perusahaan ini masuk bursa pada tahun lalu, maka berpotensi akan meningkatkan bobot MSCI Index yang saat ini dikuasai 22 perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar US$ 95,30 miliar bertambah menjadi sebanyak 26 perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar US$ 103,32 miliar.

Animo Besar

Terkait IPO Bukalapak, Pandu secara khusus mengatakan bahwa animo investor terhadap saham ini amatlah besar. Tak hanya dari investor ritel, investor luar negeri pun sambungnya juga mengapresiasi langkah Bukalapak untuk IPO dan hal itu nampak dari minatnya yang besar.

”Yang saya dengar dari teman-teman underwriter, demand-nya amat besar buat saham BUKA ini. Sebagian besar dari luar negeri dan minat investor ritel juga cukup besar, jadi tinggal nanti kemampuan underwriter untuk balance antara local demand dan foreign demand karena ini IPO terbesar kita dalam sejarah per hari ini,” ungkap Pandu.

Menurutnya, minat asing terhadap saham Bukalapak amatlah masuk akal. Hal itu tak terlepas dari potensi pasar e-commerce di Indonesia yang didukung oleh bonus demografi dan juga Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia bahkan ASEAN.

Sebelumnya, Presiden Direktur Bukalapak Rachmat Kaimuddin mengatakan, manajemen melihat Bukalapak sebagai perusahaan “All Commerce”, dibandingkan sekedar menjadi sebuah platform e-commerce masyarakat sehari-hari. Dengan fokus memberdayakan 13,5 juta UMKM luring dan daring melalui pemanfaatan teknologi, saat ini Bukalapak yang dimulai di kamar kos 11 tahun yang lalu telah membantu lebih dari 7 juta UMKM luring dan memungkinkan toko kelontong tradisional didigitalkan yang tergabung dalam Mitra Bukalapak. Bahkan, dalam masa yang tidak menentu selama pandemi ini, ketangguhan dan sifat inovatif dari platformnya diklaim telah mampu membuka peluang baru untuk tambahan 4 juta pelaku UMKM di sepanjang tahun 2020.

Berdasarkan riset Frost & Sullivan, Bukalapak bahkan merupakan platform e-commerce yang paling banyak memiliki jaringan mitra di Indonesia. Tahun lalu, sekitar 27% dari TPV Bukalapak berasal dari mitra. Per akhir Desember 2020, jumlah mitra yang terdaftar sebanyak 6,9 juta dengan pertumbuhan penjualan per mitra setelah bergabung mencapai tiga kali lipat, berdasarkan estimasi internal perusahaan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN