Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja berada di kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, belum lama ini. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pekerja berada di kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, belum lama ini. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Masih Ada Peluang Terjadi January Effect

Senin, 24 Januari 2022 | 21:05 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id) ,Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Fenomena January effect masih berpeluang terjadi, yang membawa indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia menguat pada akhir perdagangan Januari 2022.

Setidaknya tujuh sentiment positif bakal menjadi pendorong pergerakan indeks, meski ada pula sentimen negatif membayangi, seperti kekhawatiran merebaknya Covid-19 varian Omicron yang bisa menyebabkan lockdown. Pada perdagangan Jumat pekan lalu (21/1) di Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup menguat hingga 99,50 poin atau 1,50% ke posisi 6.726,37, dibanding penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Penguatan ini ditopang aksi beli investor asing. Sedangkan jika dibandingkan penutupan akhir perdagangan 2021 atau year to date (ytd), IHSG ditutup menguat 144,89 poin atau 2,20%. Khusus kelompok 45 saham unggulan yang masuk Indeks LQ45, pada akhir perdagangan pekan lalu, ditutup naik 16,42 poin atau 1,74% ke posisi 959,76.

Sedangkan secara year to date (ytd), indeks menguat 28,35 poin atau 3,04%. Sepanjang tahun 2021, IHSG menguat 10,08%, namun Indeks LQ45 melemah 0,37% ke 931,41. IHSG pada 22 November 2021 sempat menembus rekor baru di level 6.723,39, melampaui level tertinggi sebelum terjadi pandemi.

Demikian rangkuman pandangan sejumlah analis dan pelaku pasar yang diwawancara Investor Daily, pekan lalu. Mereka adalah Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji, Founder Traderindo.com Wahyu Laksono, analis Infovesta Utama Wawan Hendrayana, Penasihat Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Edwin Sebayang, dan analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada.

Menanti efek Januari
Menanti efek Januari

January ef fect masih berpeluang terjadi, seiring pertumbuhan ekonomi global dan domestik sepanjang 2021 yang diperkirakan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Sentimen kuat lainnya adalah Purchasing Managers’ Index (PMI) global dan Indonesia Desember 2021 yang tetap ekspansif, yang akan ikut memperbesar potensi January effect,” kata Nafan Aji.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan domestik yang lebih baik itu ditandai dengan kenaikan inflasi, seperti yang terjadi di Amerika Serikat dan di zona euro. Sedangkan lima sentiment positif lain yang bisa menopang terjadinya January ef fect, yang pertama, otoritas Indonesia masih menggelontorkan stimulus baik moneter maupun fiskal, ser ta mengakselerasi vaksinasi Covid-19 secara massal, termasuk booster.

Kedua, pelaksanaan Program Pengungkapan Sukarela (PPS) Wajib Pajak, yang sering disebut tax amnesty jilid II, yang menarik modal masuk. Hal ini mengimbangi efek capital outflow akibat langkah bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang akan menaikkan suku bunga acuannya.

Analis Binaartha Sekuritas M Nafan Aji. Foto: BSTV
 M Nafan Aji. Foto: BSTV

Ketiga, Indonesia terus mencatatkan kenaikan investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI). Ini menandakan iklim investasi domestik mulai kondusif seiring proyeksi pemerintah akan mengurangi restriksi, atau kemungkinan tidak menaikkan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Keempat, perkiraan laporan kinerja keuangan 2021 emiten Bursa Efek Indonesia, terutama emiten unggulan, yang naik dibanding 2020.

Kelima, kenaikan harga komoditas global seperti batu bara, minyak sawit, dan nikel tahun ini. Sedangkan sentimen negatif yang dapat menggerus peluang terjadinya Januari effect, antara lain, pertama, kekhawatiran lonjakan kasus penularan varian Omicron.

Kedua, kekhawatiran pemerintah tiba-tiba kembali menaikkan level PPKM. Ketiga, kebijakan The Fed yang akan menaikkan suku bunga acuan atau Fed funds rate, menyusul tapering of f yang sudah dilaksanakan beberapa bulan terakhir.

Pertumbuhan Global 5,5%

Investor memantau pergerakan saham di salah satu sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR
Investor memantau pergerakan saham di salah satu sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Menurut Nafan, kenaikan inflasi di Amerika Serikat serta Eropa dan kawasan yang lain mencerminkan pulihnya ekonomi. PMI manufaktur global periode Desember 2021 yang cenderung ekspansif bakal mendorong ekspor dan impor. Bank Dunia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi global pada 2021 bisa mencapai 5,5%, jauh di atas pertumbuhan ekonomi 2020 yang kontraksi 3,4%.

Sedangkan Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 3,2% - 4% sepanjang 2021, membaik dibandingkan tahun sebelumnya yang kontraksi 2,07%.

“Dengan IHSG yang menguat 1,5% pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu dan net foreign buy yang totalnya hampir Rp 6 triliun, serta kinerja ekonomi Indonesia kuartal IV-2021 yang diperkirakan tumbuh di atas 5%, semestinya bisa menjadi katalis positif January ef fect,” ujar Nafan kepada Investor Daily, Sabtu (22/1).

Para pelaku pasar juga mencermati beberapa sentimen negatif seperti lonjakan kasus varian Omicron, serta kebijakan The Fed yang akan menaikkan suku bunga acuan. Ini ditambah beberapa faktor negatif dari geopolitik, meski pengaruhnya tidak signifikan.

“Kenaikan tingkat suku bunga acuan yang dilakukan negara-negara ekonomi maju merupakan hal mutlak, tanpa melihat lagi jauhnya jarak antara suku bunga The Fed dan tingkat inflasi. Pasar memperkirakan, The Fed tahun ini akan menaikkan suku bunga acuan masing-masing 25 basis poin (bps) sebanyak empat kali yang dimulai Maret 2021, lebih cepat dari proyeksi sebelumnya,” imbuhnya. 

Morgan Stanley (MS) dalam riset terbaru memperkirakan, langkah The Fed juga akan dibarengi sejumlah bank sentral lain seperti di Inggris, yang menyiratkan kenaikan suku bunga acuan sekitar 100 bps selama 12 bulan. Demikian pula Kanada sebanyak 139 bps, Meksiko 245 bps, Polandia 150 bps, dan Selandia Baru 145 bps.

Kebijakan BI Prudent

Foto ilustrasi: Suku bunga acuan BI (BI 7 Day Reverse Repo Rate).: Investor Daily
Foto ilustrasi: Suku bunga acuan BI (BI 7 Day Reverse Repo Rate).: Investor Daily

Untuk kebijakan makro ekonomi Indonesia, kata Nafan, dijalankan oleh Bank Indonesia dengan sikap hati-hati (prudent), di antaranya dengan menahan suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di level 3,5% dan mengetatkan likuditas, melalui penaikan giro wajib minimum (GWM) mulai Maret mendatang.

Ini dilakukan untuk mendukung pemulihan ekonomi dari krisis pandemi dan mempertahankan stabilitas mata uang rupiah di tengah tingkat inflasi yang rendah.

Dari sisi fiskal, pemerintah juga terus memberikan guyuran stimulus melalui anggaran program Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN) tahun ini. Pekan lalu, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menetapkan anggaran PCPEN 2022 menjadi Rp 455,62 triliun, atau naik Rp 41,62 triliun dari semula hanya Rp 414 triliun.

Menurut Nafan, sikap BI dan pemerintah tersebut tepat. Sebab, di level domestik, masih terdapat kekhawatiran terjadinya gelombang ketiga pandemic Covid-19.

Terkendali

Karyawan melintas di depan layar elektronik yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta.  Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Karyawan melintas di depan layar elektronik yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Senada dengan Nafan, Wahyu juga melihat pergerakan IHSG selama sepekan ke depan masih tetap positif di rentang 6.480-6.754. Penguatannya cenderung sulit, namun pelemahannya juga terkendali. Nasib buruk justru terjadi Wall Street yang gagal memperoleh potensi January effect.

Menurut dia, secara teknikal indeks harga saham di Wall Street sangat buruk. Pada titik tertentu, kata Wahyu, melesunya kinerja bursa Amerika dan Eropa justru berpotensi memberikan efek positif bagi IHSG, karena dana bakal tetap mengalir ke dalam negeri dan IHSG cukup memiliki sisi tawar yang lebih baik.

Adapun saham-saham prospektif selama sepekan ke depan, menurut Wahyu, adalah saham-saham emiten energi seperti minyak bumi dan batu bara, seiring tren kebutuhan energy yang meningkat.

“Tidak ketinggalan, saham-saham berbasis teknologi juga masih bagus untuk dikoleksi para investor. Jika pun banyak investor saham teknologi yang shifting ke saham konvensional, itu hal wajar karena pandemi semakin mereda, terutama ke saham-saham yang undervalued,” ujar Wahyu.

Sudah Terjadi

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana
Head of Investment Research Infovesta Utama  

Sedangkan Wawan mengatakan, IHSG menembus level resistance 6.700 setelah pada perdagangan Jumat (21/1) ditutup menguat ke level 6.726,37. Ini berpotensi menjadi level support baru bagi pergerakan IHSG ke depan.

Wawan menjelaskan, jika berbicara mengenai January effect, ekspektasinya IHSG akan selalu naik pada bulan tersebut. “Jika seperti itu, ini sudah terjadi dengan IHSG berhasil menembus 6.700 ke atas lagi pada penutupan Jumat (21/1). Namun, secara historis, January ef fect tidak sekuat window dressing pada Desember.

Dalam 20 tahun terakhir, window dressing selalu terjadi dan IHSG tidak pernah negatif pada Desember. Namun, pada January effect, ada historisnya tidak selalu mengalami positif, ada beberapa kali mengalami kerugian juga pada Januari,” ungkapnya kepada Investor Daily, Jumat (21/1).

Wawan mengingatkan, perjalanan IHSG masih ada 10 hari lagi sampai Januari 2022 berakhir. Alhasil, masih ada potensi January effect mengalami kegagalan pada tahun ini. Kegagalan January ef fect akan terjadi, pertama, apabila tiba-tiba pemerintah kembali menaikkan level PPKM.

Keputusan ini sudah hampir pasti bakal membuat IHSG terkoreksi dalam, dan berpotensi membuat IHSG kembali berada di bawah 6.600. Oleh karena itu, jumlah penderita baru Covid-19 dari varian Omicron akan menjadi sorotan pelaku pasar ke depan. Kedua, jika laba emiten di bawah ekspektasi, hal itu bisa saja membuat IHSG terkoreksi.

Sebaliknya, sepanjang in line atau di atas ekspektasi, akan membuat IHSG naik. Kedua hal ini, menurut Wawan, yang memiliki pengaruh paling kuat terhadap Januari effect. Sedangkan kalau dari sisi tapering dan penaikan suku bunga acuan The Fed, ia menilai belum akan terjadi dalam waktu dekat. Terlebih, Fed funds rate AS diperkirakan paling cepat naik pada Maret 2022, dan Indonesia baru naik mengikutinya setelah itu.

“Tidak ada alasan BI menaikkan suku bunga saat ini, mengingat inflasi masih rendah dan tengah memburu pertumbuhan ekonomi. Sehingga, BI akan menjaga suku bunga relative rendah,” tandas Wawan.

Level Support Baru

Pekerja melintasi layar pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza
Pekerja melintasi layar pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Dengan pergerakan IHSG yang menembus 6.700 pekan lalu, Wawan menilai, akan menjadi level support baru IHSG dan diharapkan level tersebut akan tetap bertahan hingga akhir Januari ini. Hal ini membutuhkan katalis positif seperti ekspektasi pertumbuhan laba emiten dan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga.

Tren kenaikan harga komoditas, menurut dia, juga akan secara signifikan memengaruhi pergerakan IHSG, terutama di saham sektor energy yang merupakan kontributor utama komoditas, sekitar 10%. Apalagi, kenaikan harga komoditas mempunyai multiplier effect ke sektor lain.

Bahkan, akan membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia positif, karena pemerintah akan mempunyai peningkatan pendapatan. Pendapatan yang meningkat memacu pemerintah lebih yakin untuk membuat kebijakan pendukung. Misalnya, program insentif pengurangan PPnBM, yang pada akhirnya akan memengaruhi sektor lain, seperti otomotif dan keuangan.

Skala Ringan

Edwin Sebayang, Penasihat Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) dalam diskusi Zooming with Primus - Berebut Dana di Pasar Modal, live di Beritasatu TV, Kamis (16/9/2021). Sumber: BSTV
Edwin Sebayang, Penasihat Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI)   Sumber: BSTV

Edwin Sebayang juga mengatakan, January effect pada tahun ini masih berpeluang terjadi, namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Sebab, pada tahun ini hanya terjadi dalam skala ringan atau mild.

Terlebih, pada 2022 dihadapkan pada kondisi adanya potensi taper tantrum. Ini akibat adanya kenaikan suku bunga oleh The Fed, yang diperkirakan akan terjadi mulai Maret mendatang,” ungkap dia kepada Investor Daily, pekan lalu.

Tidak hanya itu, lanjut Edwin, inflasi dunia juga tengah melonjak, terutama didorong oleh kenaikan harga-harga komoditas. Padahal, komoditas tersebut merupakan bahan baku utama yang dipergunakan oleh industri untuk berproduksi.

“Terakhir, adanya kekhawatiran pasar akan efek kenaikan angka Covid- 19 akibat Omicron, tak terkecuali di Indonesia. Inilah yang membuat January ef fect hanya terjadi sangat mild atau sangat ringan,” ujar Edwin.

Mengenai investor asing yang terus melakukan net buy atau beli bersih, Edwin menilai karena switching para investor dari obligasi ke pasar saham. Hal itu terjadi karena para investor mulai melepas obligasi jangka panjang, akibat yield-nya yang tidak menarik lagi.

Kan para investor tersebut harus tetap mengembangkan dana tersebut, sehingga akhirnya jatuh pilihan ke pasar saham. Hal ini karena pasar saham secara indeks bisa tumbuh sekitar 9-10%,” kata dia.

Menurut perkiraan dia, saham yang paling diburu asing sepanjang 2022 adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 2,1 triliun. Kemudian, PT Bank Jago Tbk (ARTO) Rp 1,8 triliun, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) sebanyak Rp 817 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebanyak Rp 743,2 miliar, dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebanyak Rp 577,8 miliar.

Saham Lapis Kedua

Reza Priyambada, Pengamat Pasar Modal, Asosiasi Analis Efek Indonesia
 Pengamat Pasar Modal, Asosiasi Analis Efek Indonesia

Sedangkan Reza Priyambada menilai, January ef fect bakal senasib dengan window dressing pada akhir tahun lalu, yakni tidak seperti yang diharapkan. Hal itu karena pelaku pasar masih menahan diri, cenderung wait and see. Ini dikarenakan sentiment negatif masih terus membayangi.

“Apalagi Januari 2022 dan Desember lalu berdekatan. Kan sentimennya masih belum banyak berubah,” ucap dia kepada Investor Daily, Jumat lalu.

Saat ini, lanjut Reza, pelaku pasar lebih melihat sentimen-sentimen jangka pendek. Bahkan, jika masuk ke saham pun akhirnya hanya hit and run, serta hanya akan memburu saham-saham lapis kedua dan ketiga. Jadi, lanjut dia, tidak heran apabila saham big cap tidak mengalami banyak kenaikan pada saat ini. Padahal, saham big cap biasanya diandalkan untuk mendorong kinerja IHSG.

“Saat ini yang malah mengalami kenaikan saham lapis kedua dan ketiga. Selain itu, saham-saham yang baru melantai atau IPO juga banyak berkontribusi pada kenaikan IHSG. Misalnya ADMR yang saham baru dan melejit,” tandasnya.

Reza menambahkan, pelaku pasar juga cenderung memanfaatkan momentum dalam trading. Misalnya pada saat larangan batu bara kembali dibuka, pelaku pasar akhirnya memanfaatkan hal ini untuk masuk ke saham-saham sektor tersebut.

Hal serupa juga terjadi saat BI mempertahankan BI7DRR dan memutuskan untuk mulai mengetatkan likuiditas mulai Maret mendatang, dengan menaikkan Giro Wajib Minimum.

“Pelaku pasar memanfaatkan hal ini sebagai momentum untuk masuk ke saham-saham sektor properti, bank, otomotif, dan semen,” ucap Reza.

Nafan menambahkan, tercapainya January effect akan ditopang dengan naiknya harga saham-saham blue chip seperti PT Astra International Tbk (ASII), PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), bank-bank anggota Himbara, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA).

Saham-saham emiten ini diperkirakan mampu mendorong kinerja pertumbuhan IHSG.

“Kalau masih terjadi suatu risiko yang bisa mengurangi keyakinan para investor dalam berinvestasi, para pelaku pasar bisa mencermati aksi korporasi saham-saham lapis dua dan tiga. Jika harga saham blue chip terkoreksi, para investor juga bisa mendapatkan harga lebih menarik atau discount untuk reakumulasi jika mindset investasi mereka jangka panjang,” papar dia.

Investor memantau pergerakan saham di monitor salah satu sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR
Investor memantau pergerakan saham di monitor salah satu sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Berkaca dari laporan keuangan emiten unggulan pada 2021 yang naik dibandingkan 2020, semestinya hal itu bisa menjadi katalis positif pendorong saham-saham blue chip. Tren positif, lanjut Nafan, juga masih akan diperlihatkan oleh saham-saham berbasis teknologi dan bank digital, yang akan menjadi primadona selama pandemic masih terjadi.

Di sisi lain, karena price to book value (PBV) saham-saham teknologi dan digital bank di atas lima kali, hal itu biasanya mengakibatkan mereka belum bisa dimasukkan sebagai top picks. Jika kemudian pandemi menunjukkan pemulihan dan tren kembali bergerak pada old economy, maka fundamental saham-saham teknologi perlu dicermati oleh para pelaku pasar. Sebab, pergeseran tersebut bakal mengakibatkan tren kembali ke saham-saham berkapitalisasi besar dan memiliki fundamental solid,” ucap dia.

Nafan menambahkan, kenaikanharga komoditas global seperti batu bara, minyak sawit, dan nikel pada tahun ini juga akan menopang tercapainya January effect, seiring dampak yang baik pada emiten terkait. Tren kenaikan harga terlihat dari tingginya permintaan komoditas global di 2022, yang umumnya dimanfaatkan untuk mendukung industrialisasi. (ns/en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN