Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi PT Bakrie Telecom, Tbk (BTEL)

Ilustrasi PT Bakrie Telecom, Tbk (BTEL)

Masih Disuspensi, Saham Bakrie Telecom Berpotensi Delisting

Selasa, 19 Januari 2021 | 15:30 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id – Saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) berpotensi dihapus atau delisting dari papan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pasalnya, suspensi saham emiten Grup Bakrie tersebut akan genap mencapai 2 tahun pada 27 Mei 2021.

Sebelumnya, saham Bakrie Telecom disuspensi oleh otoritas bursa sejak 27 Mei 2019. Sementara menurut peraturan bursa, BEI bisa menghapus saham emiten apabila emiten tersebut mengalami kondisi atau peristiwa yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha emiten, baik secara finansial ataupun secara hukum.

Kemudian, saham emiten juga dapat dihapus, yang akibat suspensi di pasar reguler dan tunai, hanya diperdagangkan di pasar negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir. “Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka saham Bakrie Telecom telah disuspensi selama 20 bulan dan masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada tanggal 27 Mei 2021,” tulis keterangan BEI, Selasa (19/1).

Sebagai informasi, suspensi panjang ini bermula saat Bakrie Telecom mengantongi opini tidak memberikan pendapat (disclaimer) selama dua tahun berturut-turut untuk laporan keuangan 31 Desember 2018 dan 31 Desember 2017. Ketika itu, opini disclaimer ini dipicu oleh belum tuntasnya penyelesaian utang wesel senior perseroan.

Di laporan keuangan 2018, Krisnawan, Nugroho & Fahmy selaku kantor akuntan publik menjelaskan, opini tersebut akibat mereka tidak memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, untuk menyediakan suatu basis bagi opini audit.

Utang wesel senior Bakrie Telecom tercatat di terbitkan oleh anak usaha perseroan yakni Bakrie Telecom Pte Ltd yang merilis guaranteed senior notes senilai US$ 250 juta pada 7 Mei 2010. Surat utang ini berbunga 11,50%. Kemudian pada 2011, Bakrie Telecom Pte Ltd kembali merilis wesel senior sejumlah US$ 130 juta.

Tahun lalu, manajeman Bakrie Telecom mengumumkan rencana usaha untuk tahun 2020-2021. Perseroan berupata melanjutkan layanan produk yang ada saat ini dengan sifat pendapatan yang berkelanjutan, yakni voice communication, contact center, dan internet service provider (ISP).

Manajemen mengaku, telah menerima letter of intent dari sebuah proyek gedung baru dengan 56 lantai untuk memberikan layanan komunikasi voice dan ISP. Proyek pembangunan gedung tersebut ditargetkan selesai dan beroperasi di kuartal III-2021 sehingga letter of intent akan komersialisasi.

“Seiring dengan penambahan gedung-gedung kantor baru di Jakarta di daerah central business district (CBD) dan non-CBD, maka perseroan akan terus gencar melakukan penetrasi penjualan varian produk dan jasa terhadap gedung-gedung baru tersebut,” tulis manajemen.

Bahkan, manajemen Bakrie Telecom bernilai ekspansi dengan target pasar keluar wilayah DKI Jakarta, dimulai dengan wilayah Banten dan Jawa Barat. Perluasan ekspansi target pasar tersebut telah dimulai dengan realisasi layanan aktif di Bekasi.

Hingga kuartal III-2020, Bakrie Telecom mencatat rugi bersih Rp 60,16 miliar, berbanding terbalik dari laba bersih Rp 7,17 miliar pada kuartal III-2019. Kerugian tersebut karena pendapatan usaha bersih turun 24,6% menjadi Rp 3,03 miliar dari Rp 4,02 miliar.

Seiring itu, beban usaha turun menjadi Rp10,72 miliar hingga kuartal III-2020 dari kuartal III-2019 sebear Rp 27,30 miliar dan rugi usaha tercatat turun menjadi Rp 7,68 miliar dari rugi usaha Rp 23,27 miliar. Namun, terdapat peningkatan beban keuangan menjadi Rp 71,56 miliar dari sebelumnya yang Rp 15 juta dan laba selisih kurs mencapai Rp24,28 miliar, turun dari sebelumnya Rp 195,82 miliar.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN