Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perumahan Publik

Perumahan Publik

Masuk Tahun Tikus Logam, Saham Properti dan Tambang Logam Berpotensi “Cuan”

Sabtu, 25 Januari 2020 | 09:09 WIB
Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Jakarta, investor.id - Memasuki tahun Tikus Logam kalender China, ada dua sektor yang diperkirakan analis punya peruntungan baik di tahun tersebut, yaitu bisnis properti dan tambang logam. Korelasinya, karena tahun tikus logam diyakini mengandung unsur tanah yang paling dominan.

Keyakinan ini disokong kebijakan penurunan suku bunga acuan sebesar 100 bsp tahun lalu, dan beberapa pelonggaran LTV diharapkan menjadi faktor penting bagi geliat dua sektor tadi.

Dikatakan Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee, jajaran katalis bagi sektor properti dan tambang logam lebih banyak dari itu. Menurutnya tahun lalu sentimen bisnis masih dipengaruhi oleh pemilu, membuat orang menahan diri berinvestasi di properti, sedangkan tahun 2020 setahun setelah pemilu orang mulai berpikir investasi.

Goyangnya investasi di produk asurasi dan reksadana juga sedikit banyak membuka angin segara bagi investasi properti. Peluang orang mengalihkan investasi sangat terbuka. Investor akan berhati-hati dengan penawaran fixed rate industri asuransi akibat kasus Jiwasraya.

Melihat karakteristik produk dari beberapa perusahaan asuransi yang menawarkan fixed rate lumayan tinggi tetapi melakukan penempatan di investasi saham dan pasar modal yang cenderung berisiko membuka kekawatiran kasus sama terjadi di beberapa perusahaan asuransi.

Industri Reksa dana juga terpukul akibat rontoknya lebih dari 35 produk reksadana dari beberapa Manajer Investasi di akhir tahun lalu. Selama ini investor percaya investasi reksa dana berisiko lebih rendah dari pada membeli sendiri saham.

“Investor kami perkirakaan akan memilih investasi yang menjajikan dan perlu waktu untuk memulihkan trauma yang ada. Sikulus sektor properti kami perkirakan akan mencapai puncak di tahun 2012-2014 dan lalu berangsur turun, maka dari tahun lalu kami melihat awal periode kenaikan sektor properti,” papar Hans dikutip dari hasil riset yang diterima Majalah Investor, Jumat (25/1/2020).

Disampaikan Hans, target top sektor poperti akan terjadi di tahun 2023-2025 dengan awal kenaikan dari 2020. Selain membeli properti langsung investor juga dapat membeli beberapa saham atau produk turunnnya seperti real estate investment trust (REIT) melalui pasar modal.

“Kami merekomendasikan BSDE Rp 1.550, DUTI Rp 5.820, Rp LPCK 1.450, PWON Rp 625 dan APLN Rp. 1320 sebagai pilihan sektor properti,” katanya.

Sementara dari sektor logam rekomendasi diarahkan pada produk Emas, Nikel dan Timah sebagai pilihan. Emas memang terbantu akibat naiknya tensi geopolitik di Timur tengah. Emas dan beberapa mata uang kuat dunia sering dianggap aset safe haven ketika terjadi kenaikan risiko pasar global. Selain perang kekawatiran resesi ekonomi dunia akibat perang dagang membawa keuntungan bagi emas.

Sedangkan Nikel mendapat angin segar dari kenaikan harga akibat kebijakan Indonesia melarang ekspor Nikel mentah. Ini mengurangi pasokan dunia. Selain itu pemerintah China juga mengambil tindakan mengamankan cadangan nikel nya.

“Timah juga kami perkirakaan menarik akibat perubahan pada peta kendaraan dunia dimana kendaraan listrik menjadi kebutuhan di masa depan. Kebutuahan Timah akan meningkat,” katanya.

Komoditas Nikel dan Timah diperlukan untuk komponen pembentukan batrai yang merupakan masa depan energi dunia.

“Kami merekomendasikan ANTM Rp 850, INCO Rp 4.180, MDKA Rp 1.520 dan TINS Rp 340 sebagai pilihan di sektor ini,” imbuhnya.

Lebih jauh, sentimen positif dua sektor tadi diyakini akan berimbas baik pada sektor turunan yang ikut terangkat akibat akibat kenaikan dua sektor ini.
 

 

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN