Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Indeks saham teknologi

Indeks saham teknologi

Masuki Era New Economy, Prospek Saham Teknologi Kinclong

Senin, 4 Oktober 2021 | 16:49 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, Investor.idAssociate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menuturkan, sejauh ini saham-saham teknologi memiliki prospek yang sangat cerah. Apalagi, Indonesia merupakan pasar terbesar baik dari segi potensi ekonomi maupun jumlah perusahaan rintisan (startup) terbanyak.

Prospek yang cerah ini tentu juga didorong oleh animo masyarakat yang tidak ingin ketinggalan di pasar new economy. Tak heran jika transaksi ekonomi dan keuangan digital yang terus meningkat diyakini menjadi salah satu peluang untuk mendorong perekonomian Indonesia agar lebih baik di tengah pandemi Covid-19

“Pada 2020, kita diundang kepada “pernikahan” teknologi dan ekonomi yang menghasilkan anak digital ekonomi. Apalagi pada akhirnya, Bukalapak, sebagai perusahaan unicorn pertama berhasil melantai dan mencatatkan perolehan dana yang sesuai dengan targetnya. Itu artinya, sektor teknologi akan men-drive dalam beberapa waktu kedepannya, apalagi infrastruktur masih terus berkembang dan membutuhkan teknologi sebagai jembatannya,” katanya kepada Investor Daily, belum lama ini.

Indonesia sebagai negara berkembang, ambah Maximilianus, tentu membutuhkan hampir semua sub sektor dari teknologi untuk membantu perkembangan pemerataan pembangunan nasional. Oleh sebab itu, sektor teknologi memiliki prospek saham yang cerah, karena di satu sisi memang dibutuhkan sektor ini untuk tumbuh dan berkembang. Baik itu di sisi infrastruktur IT, data center, cloud data, hardware, maupun software.

“Bisnis konsultan IT pun terus berkembang, sebagai solusi dari permasalahan perusahaan perusahaan yang ada di Indonesia. Sehingga siapa yang bisa menciptakan ekosistem bisnis teknologi khususnya dalam perihal IT Solution, ini akan menjadi salah satu yang akan dibutuhkan bagi perkembangan dan penerapan implementasi teknologi bagi perusahaan perusahaan di Indonesia,” jelas Maximilianus.

Lebih lanjut, dengan prospek sub sektor yang dimiliki oleh emiten di bidang teknologi, apabila ternyata sejauh ini sektor tersebut dibutuhkan dalam perkembangan teknologi di Indonesia, tentu hal tersebut memberikan dampak terhadap pembangunan ekosistem teknologi kedepannya. Dengan demikian, selama hal tersebut berkesinambungan maka hal tersebut akan memberikan potensi bagi emiten bersangkutan.

“Apalagi jika emiten tersebut memiliki ekosistem teknologi, tentu hal ini akan memberikan nilai tambah tersendiri,” tambah dia.

Maximilianus mengatakan, apabila semua unicorn melantai di bursa, bukan tidak mungkin potensi tersebut semakin besar. Apalagi seperti diketahui, sejak 2020 hingga 5 tahun mendatang, sektor teknologi akan kian beraksi untuk melantai terkait dengan mendapatkan pendanaan. Hal tersebut tentu saja akan menambah bobot dari market cap teknologi yang saat ini justru masih berada di 5%. Apabila Bukalapak dan GoTo melantai dengan konsep free float yang akan diberlakukan bursa maka komposisi sektor teknologi di bursa akan berada di kisaran 16%, dan tentu akan terus bertambah seiring dengan banyak perusahaan teknologi yang akan melantai.

Terkait rekomendasi saham, Maximilianus menambahkan, dari jajaran saham-saham teknologi, dia menjagokan saham seperti PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL), dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK). Menurutnya ketiga saham tersebut menarik untuk dicermati di mana ada target Rp 1.500 untuk BUKA, MTDL target Rp 4.000, dan EMTK dengan target Rp 3.000 per lembarnya.

Sementara itu, analis Reliance Sekuritas Anissa Septiwijaya menuturkan, prospek saham teknologi memang masih positif ke depan terlebih di tengah era digitalisasi yang masif. Selain itu, dengan listing PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) juga menjadi angin segar bagi sektor tersebut.

Tak hanya itu rencana GoTo dan beberapa unicorn lainnya yang berencana untuk IPO juga akan memberikan antusiasme bagi pasar saham Indonesia terutama untuk sektor tersebut bisa dibilang baru dan saat ini tengah menarik setelah datangnya BUKA.

Beberapa yang cukup diminati dan menjadi perhatian menurutnya di sektor teknologi, yaitu e-commerce, perusahaan data center, penjualan barang teknologi seperti ponsel dan perusahaan kecil yang mendukung transaksi online.

Adapun, dalam memilih saham yang akan diinvestasikan investor, imbau Anissa, perlu melihat kinerjanya secara fundamental. Selain itu, investor juga perlu melihat rencana dan strategi perusahaan ke depan. Apakah perusahaan melakukan inovasi-inovasi agar tidak kalah saing dengan kompetitor.

”Memang jika dilihat masih banyak perusahaan di sektor teknologi yang pergerakan sahamnya likuiditasnya masih kecil dan cenderung fluktuatif, oleh karena itu investor perlu memperhatikan kondisi fundamental juga terlebih kebutuhannya untuk investasi. Sektor ini juga masih cenderung baru sehingga perlu penyesuaian dan evaluasi lebih lanjut kedepan. Selain itu jumlah saham di sektor ini juga masih relatif sedikit apalagi jika ingin mencontoh bursa di AS saya kira diperlukan waktu yang tidak sebentar,” pungkas Anissa.

Sedangkan, Anissa mengatakan, saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL) menurutnya masih amat menarik. Bahkan, secara fundamental, kedua emiten ini memiliki posisi keuangan yang kuat dan cenderung stabil. Dia pun memasang target harga untuk TLKM di Rp 4.030 dan EXCL Rp 3.250 per lembarnya pada akhir tahun ini.

Dorong IPO

Di lain pihak, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menyampaikan, BEI senantiasa adaptif dan terus mendorong perusahaan yang bergerak pada sektor teknologi, seperti centaur, unicorn, dan decacorn untuk go public.

“Terkait dengan persiapan BEI untuk kelanjutan rencana IPO centaur, unicorn, dan decacorn, BEI selalu tanggap terhadap perkembangan dan perubahan model bisnis perusahaan-perusahaan di Indonesia dan mencoba untuk bersifat adaptif dan proaktif," ungkapnya.

Beberapa hal yang dilakukan BEI untuk rencana IPO dimaksud adalah aktif berkoordinasi dengan OJK dalam proses penyusunan Rancangan Peraturan OJK (RPOJK) tentang Penerapan Klasifikasi Saham Dengan Hak Suara Multipel di Indonesia.

Tambah Nyoman, BEI juga dalam proses melakukan perubahan Peraturan I-A untuk membukakan "pintu-pintu" atau opsi yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai sektor industri, termasuk perusahaan-perusahaan teknologi yang valuasi nya sudah mencapai centaur, unicorn, dan decacorn, dengan tetap memperhatikan kualitas perusahaan tercatat.

”BEI berharap kedua peraturan tersebut dapat segera difinalisasi untuk kemudian segera dapat digunakan oleh stakeholder pasar modal Indonesia,” kata Nyoman.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN