Menu
Sign in
@ Contact
Search
(kiri) Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income, (kanan) Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist, dan (bawah) Samuel Kesuma, Senior Portfolio Manager, Equity dalam acara Indonesia Market Outlook 2H- 2022: Approaching the Tipping Points, Selasa (9/8/2022).

(kiri) Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income, (kanan) Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist, dan (bawah) Samuel Kesuma, Senior Portfolio Manager, Equity dalam acara Indonesia Market Outlook 2H- 2022: Approaching the Tipping Points, Selasa (9/8/2022).

Mau Tau Pandangan Tim Investasi Manulife Soal Proyeksi Finansial Terkini, Ini Dia...

Selasa, 9 Agustus 2022 | 14:57 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menyampaikan bahwa Indonesia masih berada dalam siklus pemulihan ekonomi pada semester II-2022, berbeda dengan negara maju yang cenderung mengalami normalisasi. Selain itu, secara umum, volatilitas pasar ke depan diperkirakan membaik karena banyak negara dan kawasan sudah mulai mendekati titik puncak dari segi inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta kebijakan moneter.

Pandangan tim investasi MAMI ini disampaikan Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income, Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist, dan Samuel Kesuma, Senior Portfolio Manager Equity dalam acara Indonesia Market Outlook 2H- 2022: Approaching the Tipping Points, Selasa (9/8/2022).

Samuel mengungkapkan bahwa kondisi makro yang suportif mendukung pasar saham. Dipengaruhi kekhawatiran perlambatan ekonomi global akibat pengetatan moneter yang agresif, investor asing membukukan aksi jual yang cukup menyeluruh di kawasan Asia, termasuk Indonesia.

Baca juga: IHSG Berpotensi Uji Level 7.150 di Sesi II

“Namun kondisi makro Indonesia yang lebih solid disertai dengan pertumbuhan earnings perusahaan yang diperkirakan tumbuh pada laju yang sehat, diharapkan dapat mendorong pergerakan pasar saham, terutama ketika sentimen global sudah lebih membaik,” ujar Samuel.

IHSG hingga akhir tahun ini diyakininya pun akan tembus level psikologis barunya di 7.600. Adapun, koreksi IHSG yang terjadi pada Juli di mana IHSG sempat ambles ke 6.600 dinilainya lebih karena faktor global. Adapun, sektor yang menurutnya saat ini menarik bagi investor adalah teknologi dan komoditas.

“IHSG 7.600 dengan asumsi laba korporasi 12% pada tahun ini,” kata Katarina.

Katarina mengungkapkan, perekonomian utama dunia, seperti Amerika Serikat, Eropa dan Tiongkok, cenderung mengalami normalisasi pada semester ini.  Namun, Indonesia masih akan berada dalam siklus pemulihan ekonomi. Hal ini tercermin dari proyeksi pertumbuhan ekonominya yang kokoh dan tidak mengalami revisi signifikan. Bisa disimpulkan bahwa siklus ekonomi Indonesia berbeda dibandingkan negara maju, dan merupakan hal yang positif bagi Indonesia.

Baca juga: Rupiah Lanjutkan Kenaikan ke Posisi Rp 14.870 per Dolar AS

Menurut Katarina, indikator ekonomi Indonesia pun menunjukkan potensi penguatan lebih lanjut. Risiko resesi di Indonesia menjadi berkurang karena kondisi fiskal serta perekonomian Indonesia terjaga baik. Hal ini berbeda dengan kebanyakan negara. Beragam indikator ekonomi masih menunjukkan pemulihan ekonomi yang kuat. Hal tersebut terlihat antara lain dari kontribusi konsumsi domestik yang besar, keyakinan konsumen dan penjualan ritel, angka pengangguran yang menurun, serta pertumbuhan kredit yang terus meningkat hingga mencapai 10,3% di bulan Juni 2022.

Katarina menjelaskan, kenaikan suku bunga Bank Indonesia juga dapat menjadi katalis positif bagi pasar. Rupiah menunjukkan resistensi yang kuat, dalam arti pelemahannya (-5,1% YTD 26 Juli 2022) tidak setajam mata uang lain seperti Yuan Tiongkok (-6,4%), Ringgit Malaysia (-7,0), Euro (-11,0%), Yen Jepang (-19,0%), dan lain sebagainya. Namun, di tengah agresivitas The Fed, respon BI (berupa kenaikan suku bunga acuan) tetap dibutuhkan untuk menjaga daya saing aset finansial Indonesia. Normalisasi suku bunga BI diperkirakan tidak akan terlalu agresif sebagai upaya untuk menjaga pemulihan ekonomi di tengah inflasi yang relatif terkendali.

“Rupiah naik ke Rp 15.000 per dolar AS jangan kaget, kemungkinan besar terjadi karena faktor teknikal. Tapi, kita relatif jauh lebih baik dibanding negara lain yang depresiasinya lebih tajam. Depresiasi juga ada plusnya bisa bantu ekspor kita,” pungkasnya.

Baca juga: Penerbitan Obligasi dan Sukuk Tembus Rp 90,2 Triliun

Sementara soal obligasi, Ezra menjelaskan bahwa normalisasi suku bunga BI di tengah pengetatan global yang agresif dapat mendukung pasar obligasi dan nilai tukar rupiah. Sentimen juga akan menjadi semakin positif ketika tingkat inflasi, terutama di Amerika Serikat dan Eropa, sudah mencapai puncak. Akhir dari siklus kenaikan Fed Funds Rate sudah mulai terlihat.

“Dalam jangka menengah, kami memperkirakan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun bisa kembali ke kisaran 6,5%-7%,” sebut Ezra.

Di tengah pemulihan ekonomi Indonesia yang masih terus berjalan, Ezra mengingatkan risiko yang perlu dicermati investor. Dari sisi eksternal, perkembangan konflik geopolitik dan lonjakan kasus Covid-19 di Tiongkok menjadi risiko utama yang yang perlu dicermati, karena memiliki dampak yang siginifikan pada tekanan inflasi. Hal ini dapat mempengaruhi laju perubahan kebijakan moneter dan pembelian aset. Sementara dari sisi internal, perkembangan harga minyak dunia dan komoditas utama ekspor memberikan dampak yang besar terhadap beban subsidi energi dan nilai tukar rupiah.

Di samping itu, laju pertumbuhan kredit menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati, mengingat selama ini bank menjadi pembeli mayoritas SBN. Kebijakan BI untuk menaikkan GWM secara bertahap juga harus dicermati efeknya dalam mengurangi likuiditasi di pasar.

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com