Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi komoditas CPO. (Foto: Kemenperin/Beritasatu.com)

Ilustrasi komoditas CPO. (Foto: Kemenperin/Beritasatu.com)

Mekanisme Pasar Dinilai Bisa Jaga Ketersediaan CPO di Dalam Negeri

Sabtu, 18 Juni 2022 | 08:37 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Pemerintah diminta dapat menjamin penerapan Domestic Market Obligation (DMO) untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, menyusul kebijakan menerapkan mekanisme pasar untuk perdagangan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda menilai kebijakan DMO sebesar 20% sudah relatif ideal karena diperkirakan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan baku minyak goreng di dalam negeri.

Advertisement

“Dari sisi produsen tidak terlalu memberatkan bagi produsen untuk menyisihkan 20% untuk domestik. Sebanyak 80% sisanya bisa untuk ekspor,” jelas Nailul Huda, dikutip Sabtu (18/6/2022).

Baca juga: Harga CPO Melemah, Lanjutkan Tren Bearish 

Dia mengatakan, produsen minyak sawit menyambut baik kebijakan pemerintah menerapkan mekanisme pasar untuk harga CPO karena memang harga minyak sawit dan turunannya sedang naik di pasar internasional.

“Artinya produsen sawit bisa meraup keuntungan yang besar jika bisa ekspor kembali. Turunannya bisa meningkatkan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani,” tambah Nailul Huda.

Di sisi lain, dia mengatakan memang masih ada tantangan yang harus dihadapi perusahaan sawit karena selama ini ekspor masih dibatasi, sehingga pembeli di luar negeri sudah ada yang beralih ke Malaysia.

Namun, Nailul meyakini Indonesia akan dapat kembali mengisi pasar dan bersaing dengan Malaysia untuk mendapatkan posisi eksportir CPO terbesar dunia. Kinerja perusahaan sawit menjadi faktor kunci kemampuan Indonesia mempertahankan posisi sebagai eksportir CPO yang mencapai 55%-57% kebutuhan dunia.

Baca juga: Keran Ekspor CPO Dibuka, Potensi IPO Perusahaan Sawit Dinilai Makin Besar

Sementara itu, Wakil Direktur Utama perusahaan sawit PT Nusantara Sawit Sejahtera (NSS) Kurniadi Patriawan mengatakan, NSS masih fokus menyediakan minyak sawit untuk kebutuhan pasar dalam negeri.

“Selagi masih ada perkembangan di dalam negeri, kami akan mengutamakan dalam negeri. Industri makanan, minyak goreng, dan biodiesel itu pasarnya masih sangat luar biasa di dalam negeri. Selama itu bisa mendukung, kami akan dukung dalam negeri,” jelas Kurniadi.

Pada tahun 2021, NSS memiliki lahan sekitar 26.231 hektare (ha) dan sedang dalam proses pengembangan lahan plasma fase 1 seluas 2.500 ha hingga tahun 2024. Rata-rata umur tanaman baru sekitar 7 tahun, sehingga masa produksi tanaman masing sangat panjang. Perusahaan, jelasnya, juga memiliki satu pabrik kelapa sawit (PKS) dengan kapasitas 60 ton per jam saat ini.

Setelah IPO, NSS menargetkan untuk mengembangkan lahan inti siap tanam seluas 20.000 ha dan lahan plasma seluas 9.500 ha, serta membangun 4 pabrik baru sehingga kapasitas produksi meningkat menjadi 270 ton per jam dari saat ini sekitar 60 ton per jam. Dengan pengembangan kapasitas bisnis ini, produksi tahunan ditargetkan meningkat menjadi di atas 23 ton per ha per tahun.  

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN