Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang karyawan bekerja pada jalur produksi silinder di sebuah pabrik di Hangzhou, provinsi Zhejiang, Tiongkok timur pada 17 Januari 2020. ( Foto: STR / AFP )

Seorang karyawan bekerja pada jalur produksi silinder di sebuah pabrik di Hangzhou, provinsi Zhejiang, Tiongkok timur pada 17 Januari 2020. ( Foto: STR / AFP )

FOKUS PASAR:

Melihat Data Ekonomi Maret 2020, Perekonomian Tiongkok Diproyeksikan Tumbuh Kembali

Nabil Alfaruq, Rabu, 15 April 2020 | 09:19 WIB

JAKARTA, investor.id  — Tiongkok telah merilis data ekonomi di bulan Maret 2020 yang menunjukan surplus neraca perdagangan sejumlah US$ 19,9 miliar dibanding bulan sebelumnya yang mengalami defisit sebesar US$ 7,09 miliar.

Surplusnya neraca perdagangan Tiongkok memberikan angin segar di tengah pandemi wabah virus corona (Covid-19) yang telah menekan perekonomian Tiongkok. Hal ini juga diharapkan perekonomian Tiongkok dapat bangkit kembali yang sudah menurun dari bulan Maret lalu.

“Meskipun mengalami suplus, pelaku pasar beranggapan kemungkinan kinerja perdagangan masih bisa saja tertekan dalam beberapa bulan kedepan mengingat ditengah krisis kesehatan atas Covid-19 yang terjadi di seluruh negara, sehingga akan mengganggu rantai pasokan dan menekan ekonomi, serta menyebabkan guncangan pada sisi penawaran dan permintaan,” tulis Pilarmas Sekuritas dalam riset harian di Jakarta, Rabu (15/4).

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat jumpa pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Jakarta, Selasa (14/4/2020). BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat jumpa pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Jakarta, Selasa (14/4/2020). BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia

Sementara itu dari dalam negeri, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo melalui RDG BI pada hari selasa kemarin telah menyampaikan strategi BI untuk melewati masa-masa sulit di tengah perlambatan dunia saat ini.

Bank Indonesia dalam penyampaian strategi tersebut menyebutkan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada 4,5%.

Pilarmas Sekuritas menilai hal ini cukup bijak, meskipun BI masih memliki celah lagi, namun melihat kondisi saat ini dinilai belum begitu diperlukan.

Kemudian, Bank Indonesia kembali menurunkan giro wajib minimum dan membebaskan kewajiban tambahan giro terkait pemenuhan Rasio Intermediasi Makroprudensial atau RIM perbankan. Dengan kebijakan baru tersebut, likuiditas perbankan diproyeksikan akan bertambah sekitar Rp 117 triliun.

Selain itu BI juga kembali menurunkan GWM rupiah sebesar 200 basis poin untuk bank umum konvensional, serta 50 bps untuk bank syariah, dan juga memberlakukan kewajiban tambahan giro untuk pemenuhan RIM kepada seluruh bank untuk periode 1 tahun. Kedua kebijakan ini berlaku mulai 1 Mei 2020.

Menurut Perry, penurunan GWM maupun tidak melakukan kewajiban tambahan RIM akan kembali menambah injeksi likuiditas sekitar Rp 117,8 triliun. Tambahan likuiditas tersebut terdiri atas Rp 102 triliun yang berasal dari penurunan GWM dan Rp 15,8 triliun dari pembebasan ketentuan RIM.

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Di lain sisi, Bank Indonesia juga memperluas cakupan ekspansi operasi moneter dengan menyediakan term repo tak hanya bagi perbankan, tetapi juga korporasi.

Sementara untuk memperkuat manajemen likuiditas perbankan serta terkait penurunan GWM rupiah tersebut, BI turut menaikkan rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) sebesar 200 bps untuk Bank Umum Konvensional dan 50 bps untuk Bank Umum Syariah/Unit Usaha Syariah. Kebijakan ini mulai berlaku 1 Mei 2020.

Kenaikan PLM tersebut wajib dipenuhi melalui pembelian SUN/SBSN yang akan diterbitkan oleh pemerintah di pasar perdana. Dengan demikian, Perry menilai, seluruh rasio PLM dapat langsung direpokan ke Bank Indonesia, sehingga hal tersebut dapat menambah pembiayaan defisit fiskal oleh pemerintah.   

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN