Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengangkutan batu bara di laut. Foto ilustrasi: Defrizal

Pengangkutan batu bara di laut. Foto ilustrasi: Defrizal

Menakar Dampak Penurunan Harga Batubara terhadap Kinerja Indika

Parluhutan Situmorang, Selasa, 20 Agustus 2019 | 13:49 WIB

JAKARTA, investor.id - Berlanjutnya tren pelemahan harga jual batubara global masih menekan prospek usaha PT Indika Energy Tbk (INDY) sepanjang tahun ini. Sedangkan bisnis lainnya juga belum mampu mengimbangi tren penurunan sektor pertambangan batubara perseroan.

Hal ini mendorong Sinarmas Sekuritas untuk memperkirakan penurunan laba bersih Indika menjadi US$ 29 juta tahun ini, dibandingkan raihan tahun lalu sebesar US$ 80 juta. Begitu juga dengan pendapatan diperkirakan turun dari US$ 2,96 miliar menjadi US$ 2,53 miliar pada 2019.

Analis Sinarmas Sekuritas Richard Suherman mengatakan, meskipun rata-rata harga jual batubara telah turun drastis hingga semester I-2019, potensi penguatan belum terlihat dalam beberapa bulan mendatang. “Kami masih berhati-hati terhadap outlook sektor batubara dalam jangka pendek. Bisnis ini masih penuh tantangan ke depan,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Sinarmas Sekuritas mematok target rata-rata harga jual batubara di pasar global sekitar US$ 80 per ton tahun ini dan diperkirakan kembali turun menjadi US$ 75 per ton pada 2020. Hal ini memperbesar kemungkinan bahwa tingkat keuntungan perseroan belum pulih tahun ini akibat harga jual batubara yang berpotensi masih melemah sampai penghujung tahun ini.

Terkait pencapaian kinerja keuangan perseoran semester I-2019, Richard mengatakan, pencapaian pendapatan Indika tersebut setara dengan 53,3% dari target yang kami tetapkan untuk tahun ini. Sedangkan pencapaian laba bersihnya merefleksikan 43,1% dari target yang yang ditetapkan Sinarmas Sekuritas dan hanya 39,6% dari target konsensus analis.

Indika membukukan penurunan laba bersih sebesar 83,4% dari US$ 76,31 juta menjadi US$ 12,66 juta hingga semester I-2019. Penurunan sejalan dengan tren pelemahan pendapatan perseroan dari US$ 1,44 miliar menjadi US$ 1,38 miliar. Besarnya penurunan laba bersih, dibandingkan pendapatan dipengaruhi atas anjloknya margin kotor (gross margin) dari 26,1% menjadi 17%. Sedangkan margin laba bersih (net margin) turun drastis dari 5,3% menjadi 0,9%.

Sinarmas Sekuritas menyebutkan bahwa anjloknya perolehan laba bersih sejalan dengan penurunan rata-rata harga jual batubara di pasar global bersamaan dengan peningkatan beban pokok produksi. Hal ini memicu penurunan margin keuntungan perseroan. Penurunan tingkat keuntungan perseroan datang dari bisnis batubara melalui PT Kideco Jaya Agung. Sedangkan bisnis lainnya, PT Petrosea Tbk, PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS), dan PT Tripatra Engineers and Constructors masih menunjukkan tren penguatan hingga akhir Juni 2019. Namun penguatan tersebut belum mampu mengimbangi penurunan bisnis batubara perseoran.

Berbagai faktor tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi netral saham INDY dengan target harga Rp 1.700. Target harga tersebut mengimplikasikan perkiraan PE tahun 2020 sekitar 5,9 kali.

Sebelumnya, Indika mengantongi fasilitas pinjaman senilai US$ 150 juta dari sejumlah bank asing dan domestik. Pinjaman tersebut akan digunakan untuk membeli kembali (buyback) sebagian obligasi global (partial redemption) sebesar US$ 215 juta.

Sekretaris Perusahaan Indika Energy Adi Pramono mengatakan, perseroan menandatangani perjanjian fasilitas bersama anak-anak usaha perseroan dan pihak perbankan yang terlibat pada 17 Juli 2019. Anak-anak usaha tersebut adalah adalah PT Indika Inti Corporindo, PT Tripatra Engineers and Constructors, PT Tripatra Engineering, dan Tripatra Pte Ltd. “Standard Chartered Bank Ltd, Citibank cabang Jakarta, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) bertindak sebagai arrangers dan sebagai para pemberi pinjaman,” jelasnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN