Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bendera Tiongkok dan Amerika Serikat dalam kegiatan China International Import Expo di Shanghai, Tiongkok, baru-baru ini. AFP / Johannes EISELE

Bendera Tiongkok dan Amerika Serikat dalam kegiatan China International Import Expo di Shanghai, Tiongkok, baru-baru ini. AFP / Johannes EISELE

DANAREKSA RESEARCH INSTITUTE

Mencermati Dampak Perang Dagang dan Harga Komoditas

Jauhari Mahardhika, Selasa, 17 September 2019 | 17:09 WIB

JAKARTA, investor.id - Danareksa Research Institute menilai pasar keuangan dalam negeri masih akan digerakkan sentimen eksternal, antara lain kecamuk perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok, kenaikan harga komoditas safe haven, dan keputusan bank sentral AS (The Federal Reserve) soal suku bunga.

Head of Danareksa Research Institute Moekti Prasetiani mengatakan, perang dagang AS-Tiongkok masih terus berlanjut. Per 1 September lalu, AS menaikkan tarif impor 15% untuk barang-barang Tiongkok senilai US$ 112 miliar, seperti alas kaki, tekstil dan produk elektronik. Sebagai balasan, Tiongkok mengenakan tarif impor 5-25% untuk mobil dan suku cadang, kedelai, dan lainnya yang masuk dari AS.

Presiden AS Donald Trump dalam kaitan dengan masa kampanyenya, mengedepankan isu nasionalisme bahwa Tiongkok lah yang membuat ekonomi AS memburuk. Dengan adanya peningkatan tarif impor produk Tiongkok, maka pendapatan AS dapat meningkat yang kemudian digunakan untuk subsidi petani kedelai dan gandum; sebagai kompensasi atas dihentikannya impor produk pertanian AS ke Tiongkok.

Perang dagang AS-Tiongkok ini menyebabkan melambatnya perekonomian dunia, namun tidak akan menjadikan resesi global, sebagaimana juga diutarakan beberapa ekonom global. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal II-2019 mengalami penurunan, terendah dalam 27 tahun terakhir.

Namun, stimulus yang diberikan pemerintah Tiongkok berhasil mempertahankan output retail sales dan investasi. Sementara itu, Consumer (dan Business) Confidence Index di AS yang erat kaitannya dengan saham dan ekonomi mengalami penurunan pada Juli 2019.

“Di sisi lain, pelaku pasar juga perlu mencermati harga komoditas yang mulai naik. Selain batubara dan tembaga, semua komoditas termasuk emas, minyak sawit (crude palm oil/CPO), dan karet sudah pulih atau recovery sejak Juli 2019. Khususnya, emas yang bersama US Treasury dan Japan Treasury merupakan instrumen safe haven (asset aman) di keuangan global,” kata Moekti Prasetiani dalam keterangan tertulis.

Harga emas dunia saat ini masih berkisar US$ 1.503 per troy ounce yang terus meningkat di tengah ketidakpastian global. Kenaikan harga emas dunia ini pun menaikkan harga emas dalam negeri, yakni emas Antam ke level tertinggi Rp 726.000 per gram pada 4 September lalu. Hal ini juga berdampak pada inflasi Agustus 2019 – dengan meningkatnya harga emas dan perhiasan.

Harga minyak global terkerek naik akhir pekan lalu, setelah adanya serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi pada akhir pekan lalu. Serangan ini menyebabkan output produksi hariannya terpangkas hingga 5,7 juta barel, lebih dari setengah produksi harian Arab Saudi.

Harga minyak diperkirakan berpotensi naik hingga US$ 10 per barel, meski dampaknya bergantung pada kemampuan normalisasi output produksi. Hingga awal pekan ini, Arab Saudi menyatakan dapat menormalisasi output yang hilang sebesar 2 juta barel.

Berdasarkan asumsi APBN, setiap kenaikan harga minyak mentah dunia sebesar US$ 1 akan meningkatkan suplus anggaran pemerintah Indonesia sebesar Rp 0,3-0,5 trilliun. Kenaikan harga minyak dunia biasanya akan diikuti dengan kenaikan harga komoditas lainnya.

Sementara itu, terkait kebijakan The Fed, Moekti mengatakan bahwa Bank Sentral AS tersebut akan mengadakan sidang pada September 2019, sebelum Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI). Pada sidang tersebut, kemungkinan besar The Fed akan menurunkan tingkat suku bunganya.

Sebelumnya, pada 22 Agustus, BI menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,5% atau sebesar 25 basis poin (bps). BI akan menggelar Rapat Dewan Gubernur pada Rabu-Kamis atau 18-19 September mendatang untuk menetapkan tingkat suku bunga. Danareksa Research Institute memprediksi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI 7-Day Reserve Repo Rate akan diturunkan bunga sebesar 25 bps menjadi 5,25%.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA