Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Penjualan mobil ASTRA. Foto: DOK B1photo

Penjualan mobil ASTRA. Foto: DOK B1photo

Meneropong Kinerja Astra 2022

Rabu, 22 Desember 2021 | 11:36 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Astra International Tbk (ASII) menjadi satu dari sejumlah perusahaan yang paling diuntungkan oleh beberapa kebijakan pemerintah, khususnya insentif pembebasan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) mobil sepanjang tahun ini. Perseroan juga didukung oleh penguatan segmen bisnis perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu bara.

Namun, apakah Astra International sebagai perusahaan yang paling diuntungkan masih berlanjut hingga 2022, jika pemerintah menghentikan insentif pembebasan PPnBM mobil dengan kandungan komponen dalam negeri yang sudah mencapai 80%?

Begitu juga dengan tren harga komoditas, apakah perseroan akan tetap melanjutkan pertumbuhan pada 2022?.

Harga saham ASII dalam satu dekade terakhir
Harga saham ASII dalam satu dekade terakhir

Analis Sinarmas Sekuritas Winson Pangestu mengungkapkan, pemerintah kemungkinan melanjutkan kebijakan pembebasan PPnBM penjualan mobil yang diproduksi di dalam negeri dengan menggunakan 80% komponen lokal tahun 2022. Namun, apabila insentif dicabut, penjualan mobil domestik kembali normal. Begitu juga dengan Astra International.

“Berlanjutnya pembebasan pajak akan menjadi katalis positif terhadap saham produsen mobil, namun jika hal tersebut tidak disetujui pemerintah, penjualan mobil nasional diperkirakan kembali normal,” tulis Winson.

Pemerintah sebelumnya menetapkan kebijakan pembebasan PPnBM penjualan mobil yang diproduksi di dalam negeri dengan tingkat kandungan tertentu. Insentif pajak tersebut diberikan berdasarkan kapasitas mesin setiap mobil guna mendongkrak manufaktur mobil di tengah hantaman pandemic Covid-19.

Meski belum adanya kepastian perpanjangan insentif tersebut, Sinarmas Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 7.250. Target harga tersebut mempertimbangkan ekspektasi ekonomi kembali pulih, insentif pajak, dan besarnya penguasaan pasar perseroan.

Kinerja keuangan Astra International
Kinerja keuangan Astra International

Sementara itu, analis RHB Sekuritas Indonesia Ryan Santoso melabeli emiten sektor otomotif dengan overweight. Saham pilihan teratas adalah Astra International. Hal tersebut didukung oleh peningkatan volume penjualan mobil yang mencapai level tertinggi pada November 2021 dibandingkan dalam 23 bulan terakhir.

Berdasarkan data, penjualan mobil wholesale melonjak 66,5% menjadi 790.524 unit hingga November 2021. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan semula dan telah mendekati target sepanjang tahun ini mencapai 850 ribu unit.

Pemulihan penjualan tersebut menggambarkan bahwa daya beli masyarakat mulai pulih, selain berlanjutnya insentif pajak.

“Dengan tren peningkatan daya beli masyarakat, kami memperkirakan volume penjualan mobil nasional bertumbuh 12% menjadi 950 ribu unit pada 2022. Target tersebut juga menggambarkan bahwa aktivitas ekonomi mulai stabil, peningkatan konsumsi masyarakat, dan keberhasilan pemerintah dalam memitigasi pandemi Covid-19,” tulis Ryan dalam risetnya.

Mengenai Astra International, menurut dia, terjadi peningkatan pangsa pasar (market share) penjualan mobil ke level 59,7% atau level tertinggi kedua dalam sembilan tahun terakhir. Lonjakan tersebut didukung oleh kehadiran produk baru All New Avanza/Veloz.

Berbagai faktor tersebut mendorong RHB Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 7.650. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan PE tahun 2022 sebanyak 12,1 kali dan PBV mencapai1,3 kali.

Kegiatan di pabrik Astra International. Foto: Investor Daily/DEFRIZAL
Kegiatan di pabrik Astra International. Foto: Investor Daily/DEFRIZAL

Di lain pihak, analis BRI Danareksa Sekuritas Ignatius Teguh Prayoga mengungkapkan, penjualan mobil nasional diperkirakan mencapai 830 ribu unit sepanjang tahun ini dan diperkirakan meningkat menjadi 900 ribu unit tahun 2022.

Peningkatan penjualan mobil didukung oleh kehadiran produk baru bersamaan dengan peningkatan daya beli masyarakat.

Sedangkan hingga November 2021, realisasi penjualan mobill telah mencapai 95,2% dari target tahun ini.

“Kami memperkirakan pangsa pasar penjualan mobil Astra International akan mencapai 54% pada 2021 dan mulai normal menjadi 52% pada 2022,” tulis Teguh dalam risetnya.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 8.100. Target harga tersebut mempertimbangkan perkiraan PE tahun 2021 sekitar 11,9 kali.

Target harga tersebut juga mempertimbangkan penguatan seluruh segmen bisnis perseroan, seperti pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN