Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang) dan Ruas Jalan Tol Padalarang-Cileunyi (Padaleunyi) mulai 5 September 2020, pukul 00.00 WIB

Tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang) dan Ruas Jalan Tol Padalarang-Cileunyi (Padaleunyi) mulai 5 September 2020, pukul 00.00 WIB

Menghitung Dampak Pengetatan PSBB terhadap Pendapatan Jasa Marga

Jumat, 2 Oktober 2020 | 04:34 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id – Kinerja keuangan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) diproyeksi sesuai harapan tahun ini, meskipun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan pengetatan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Kebijakan tersebut ternyata tidak berdampak besar terhadap trafik jalan tol perseroan berdasarkan hasil perhitungan selama sepekan penerapan.

Analis Danareksa Sekuritas Maria Renata mengungkapkan, realisasi trafik tol perseroan mencapai 81,3% dari total trafik new normal, bahkan hanya turun berkisar 10%. “Realisasi tersebut lebih baik dari perkiraan semula dengan penurunan hingga 30%,” tulis dia dalam riset terbaru.

Adapun pengetatan PSBB di Jakarta diperkirakan minimal selama enam pekan. Menurut Maria, dengan potensi penurunan pendapatan senilai Rp 45 miliar per dua pekan, diperkirakan total kehilangan pendapatan perseroan tidak akan terlalu besar dan masih sejalan dengan perkiraan terkait target kinerja keuangan sepanjang tahun ini.

“Berdasarkan perkiraan tersebut, saham JSMR dipertahankan dengan rekomendasi beli dan target harga Rp 5.200. Target tersebut juga mempertimbangkan realisasi kinerja keuangan yang masih sesuai ekspektasi, meskipun Jakarta menerapkan pengetatan PSBB,” jelas dia.

Tol Jasa Marga
Tol Jasa Marga

Maria memperkirakan penurunan laba bersih Jasa Marga menjadi Rp 838 miliar tahun ini dan diharapkan melonjak menjadi Rp 1,85 triliun pada 2021, dibandingkan tahun 2019 senilai Rp 2,2 triliun.

Pendapatan perseroan juga diperkirakan turun menjadi Rp 10,6 triliun tahun ini, sedangkan tahun depan ditargetkan naik menjadi Rp 13,03 triliun.

Adapun pendapatan tahun 2019 senilai Rp 10,98 triliun. Kalaupun pengetatan PSBB di Jakarta berlangsung hingga empat pekan, pendapatan Jasa Marga masih diperkirakan lebih tinggi sebesar Rp 317 miliar dibandingkan perkiraan semula, dan lebih tinggi Rp 271 miliar apabila pengetatan PSBB berlanjut hingga enam pekan. Angka tersebut masih menunjukkan pendapatan yang lebih besar 2,6-3% dibandingkan perkiraan awal Danareksa Sekuritas senilai Rp 10,6 triliun.

Sementara itu, analis CGSCIMB Sekuritas Indonesia Michael Audie Benas dan Aurelia Barus mengungkapkan, pengetatan PSBB di Jakarta akan berdampak negatif terhadap pendapatan jalan tol Jasa Marga.

Penerapan tersebut akan membuat trafik ruas tol perseroan turun, sehingga berimbas terhadap likuiditas dana perseroan.

Selain faktor tersebut, kinerja keuangan Jasa Marga  terpengaruh oleh penundaan kenaikan tarif ruas tol, khususnya ruas tol Padalarang- Cileunyi dan Cikampek-Purwakarta- Padalarang menjadi tahun depan.

PT Jasa Marga (Persero) Tbk optimis konstruksi Tol Serpong-Cinere selesai pada akhir Oktober tahun ini. (sumber : Jasa Marga)
PT Jasa Marga (Persero) Tbk optimis konstruksi Tol Serpong-Cinere selesai pada akhir Oktober tahun ini. (sumber : Jasa Marga)

Sedangkan pengoperasian empat ruas tol baru sejak Juni atau lebih cepat dari ekspektasi semula menjadi sentimen positif, termasuk rencana integrasi pembayaran ruas tol Jakarta-Cikampek layang dengan ruas non-layang pada kuartal IV-2020.

Sejumlah faktor tersebut mendorong CGS-CIMB Sekuritas memangkas target pendapatan Jasa Marga tahun ini dari Rp 10,52 triliun menjadi Rp 9,29 triliun.

Begitu juga dengan proyeksi laba bersih direvisi turun dari Rp 1,03 triliun menjadi Rp 318 miliar. Tahun lalu, perseroan berhasil meraup laba bersih Rp 2,2 triliun dan pendapatan Rp 10,98 triliun.

Revisi turun target kinerja keuangan tersebut mendorong CGS-CIMB Sekuritas memangkas target harga saham JSMR dari Rp 5.600 menjadi Rp 4.900.

Target tersebut telah mempertimbangkan pengetatan PSBB yang diperkirakan berlangsung lebih lama dan kebijakan pemerintah yang kurang kondusif terhadap industri jalan tol.

Perbaiki Arus Kas

Jalan Tol Jasa Marga. Foto: IST
Jalan Tol Jasa Marga. Foto: IST

Jasa Marga telah menerbitkan surat berharga komersial (SBK) atau commercial paper senilai Rp 1 triliun. Dana hasil emisi tersebut akan dimanfaatkan perseroan untuk memperbaiki arus kas dalam jangka pendek.

SBK ini ditawarkan dengan skema bunga diskonto sebesar 6-7% per tahun. Sedangkan tenor mencapai dua belas bulan sejak tanggal penerbitan SBK atau tanggal pelunasan pada 13 Oktober 2021.

“Dana hasil penerbitan SBK juga akan digunakan sebagai modal kerja dan belanja modal perseroan, namun tidak terbatas pada pemeliharaan jalan tol dan sarana penunjang jalan tol. Dana juga untuk peningkatan fasilitas jalan tol dan sarana penunjang jalan tol,” jelas manajemen Jasa Marga dalam pengumuman resmi.

Lebih lanjut manajemen perseroan menyebutkan, apabila dana hasil penerbitan SBK belum digunakan seluruhnya, penempatan sementara dana hasil penerbitan SBK tersebut harus dilakukan perseroan dengan memperhatikan keamanan dan likuiditas serta dapat memberikan keuntungan finansial yang wajar bagi perseroan.

SBK Jasa Marga ini telah meraih peringkat A1+ dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Adapun PT BNI Sekuritas ditunjuk sebagai penata laksana penerbitan SBK. Sesuai dengan rencana, periode penawaran SBK telah berlangsung sejak 18 September 2020 hingga 7 Oktober 2020.

Sedangkan, pembayaran dari investor ke Jasa Marga serta distribusi secara elektronik di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dijadwalkan pada 14 Oktober 2020.

Adapun, tanggal perolehan persetujuan dari Bank Indonesia telah didapatkan sejak 17 September 2020.

Sebelumnya, Corporate Finance Group Head Jasa Marga Eka Setya Adrianto mengatakan, pihaknya masih memfokuskan untuk menerbitkan instrumen obligasi sebagai pendanaan bagi proyek-proyek perseroan.

“Rencananya produk ini seperti discounted bond dan sifatnya tidak lebih dari satu tahun atau tenor maksimal satu tahun,” ujarnya.

Eka menambahkan, karena SBK merupakan produk baru, perseroan tidak akan menargetkan jumlah besar dari aksi pendanaan tersebut.

Selain menjadi alternatif pendanaan, penerbitan SBK ditujukan perseroan untuk menyemarakkan produk baru yang telah diterbitkan Bank Indonesia.

Sebagai informasi, SBK adalah instrumen pasar uang yang memfasilitasi perusahaan menerbitkan surat utang jangka pendek tanpa jaminan di pasar uang. Tenor SBK ini tergolong pendek, yaitu satu bulan, tiga bulan, sembilan bulan, dan 12 bulan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN