Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu pabrik PT Kino Indonesia Tbk (KINO).

Salah satu pabrik PT Kino Indonesia Tbk (KINO).

Menghitung Kontribusi Bisnis Hand Sanitizer Kino Indonesia

Parluhutan Situmorang, Jumat, 24 April 2020 | 05:00 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Kino Indonesia Tbk (KINO) mengalihkan fokus produksinya dengan merambah bisnis pembersih tangan (hand sanitizer). Bisnis baru tersebut diharapkan menjadi bantalan terhadap ekspektasi penurunan permintaan di sejumlah segmen usaha perseroan, semisal produk perawatan tubuh, minuman, dan farmasi.

Analis Trimegah Sekuritas Darien Sanusi mengungkapkan, produksi hand sanitizer setelah wabah Covid-19 melanda Indonesia menjadi peluang baru bagi perseroan di tengah tingginya permintaan dan kekurangan pasokan produk pembersih tangan dalam beberapa bulan terakhir.

“Kami melihat lonjakan kapasitas produksi hand sanitizer perseroan setiap bulan sejak Januari tahun ini. Produksinya tidak membutuhkan belanjamodal yang besar dan menghasilkan margin keuntungan setara dengan perawatan tubuh. Ini bisa berdampak positif bagi perseroan,” tulis Darien dalam risetnya, baru-baru ini.

Kino Indonesia.
Kino Indonesia.

Lonjakan volume produksi dan penjualan produk itu bakal membuat kontribusi hand sanitizer terhadap pendapatan perseroan melonjak dari 0,1% menjadi 8% tahun ini. Permintaan produk pembersih tangan tersebut diproyeksikan terus bertumbuh, meskipun sejumlah daerah memberlakukanPembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Produk hand sanitizer diperkirakan menjadi andalan perseroan tahun ini. Peningkatan permintaan juga dipengaruhi oleh penguatan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan diri dan hampir 72,4% konsumen telah menganggarkan dana khusus untuk pembelian produk pembersih tangan,” jelas Darien.

Sementara itu, mengenai target pertumbuhan pendapatan dan laba bersih tahun ini yang ditetapkan manajemen masingmasing sebesar 15% dan 30%,

Darien menyebutkan bahwa target tersebut kemungkinan bisa tercapai, apabila PSBB di sejumlah kota besar di Indonesia bisa berakhir akhir Juni tahun ini, sehingga aktivitas ekonomi kembali normal pada semester II.

Meski demikian, Trimegah Sekuritas menyoroti dampak negatif pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Sebab, pelemahan tersebut sangat berpengaruh terhadap margin keuntungan Kino, karena 30% dari total biaya dalam denominasi dolar AS.

“Kami memperkirakan kontraksi margin laba kotor perseroan sebesar 40 bps tahun ini akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan diharapkan efisiensi perseroan bisa mengimbangi peningkatan biaya tersebut,” ungkapnya.

Pabrik Kino Indonesia. Foto: IST
Pabrik Kino Indonesia. Foto: IST

Berbagai faktor tersebut mendorong Trimegah Sekuritas tetap merevisi turun target kinerja keuangan Kino tahun 2020 dan 2021. Menurut Darien, revisi turun proyeksi kinerja keuangan tersebut berdasarkan pertimbangan tren penjualan produk perseroan di tengah pandemi Covid-19 yang berimbas terhadap daya beli masyarakat.

Trimegah Sekuritas memangkas target kenaikan penjualan Kino tahun ini dari Rp 5,35 triliun menjadi Rp 5,09 triliun. Penurunan target sejalan dengan pemangkasan perkiraan penjualan segmen perawatan tubuh, minuman, dan farmasi.

Sedangkan penjualan produk pakan ternak direvisi naik dari Rp 40 miliar menjadi Rp 45 miliar tahun ini. Proyeksi laba bersih juga dipangkas dari Rp 378 miliar menjadi Rp 297 miliar. Tahun lalu, perseroan meraup penjualan dan laba bersih masingmasing Rp 4,67 triliun dan Rp 251 miliar.

Revisi turun target kinerja keuangan perseroan juga dilakukan untuk tahun 2021. Perkiraan laba bersih dipangkas dari Rp 521 miliar menjadi Rp 375 miliar.

Begitu juga dengan target penjualan direvisi turun dari semula Rp 6,03 triliun menjadi Rp 5,58 triliun Pemangkasan tersebut sejalan dengan proyeksi penurunan penjualan seluruh segmen bisnis, kecuali penjualan pakan ternak yang direvisi naik dari Rp 80 miliar menjadi Rp 85 miliar.

Sedangkan rekomendasi sa- ham KINO tetap dipertahankan beli dengan target harga Rp 4.500.

Petugas laboratorium Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membuat cairan hand sanitizer di Puspittek, Serpong, Tangerang Selatan. LIPI telah memproduksi hampir 4 ton hand sanitizer yang dibagikan gratis ke sejumlah instansi pererintah, rumah ibadah, masyarakat dan sekolah sekitar Serpong, Banten. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Petugas laboratorium Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membuat cairan hand sanitizer di Puspittek, Serpong, Tangerang  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Adapun PT Kino Investindo bertindak seba- gai pemegang saham mayoritas Kino Indonesia dengan kepemilikan 69,5%. Sisanya dikuasai Harry Sanusi mencapai 10,6% dan pemegang saham publik mencapai 19,9%.

Sebelumnya, Corporate Finance Director Kino Indonesia Budi Muljono mengatakan, pihaknya membidik pertumbuhan penjualan sebesar 15% dan laba bersih sekitar 30% sepanjang tahun 2020. Pertumbuhan tersebut akan dicapai dengan mengadalkan peningkatan kualitas produk yang sudah ada.

Perseroan akan memfokuskan optimalisasi produk yang ada guna mengejar target pertumbuhan kinerja keuangan tahun ini. Pertumbuhan juga akan dilakukan dengan pengembangan saluran distribusi dalam negeri maupun luar negeri.

“Pangsa pasar perseroan masih bisa digenjot, karena hingga kini segmen pasar produk perseroan masih underpenetrated. Hal ini mendorong perseroan terhadap optimism pertumbuhan kinerja keuangan hingga tahun ini,” ujarnya.

Hingga kini, perseroan telah melakukan penjualan ekspor ke benua Asia, Eropa, dan Afrika. Menurut Budi, pasar tujuan ekspor baru yang dijajaki adalah Negara sekitar yang memiliki budaya relatif mirip dengan Indonesia.

“Untuk menyasar ke Negara baru seperti Amerika, kami masih melihat prospeknya terlebih dahulu. Tentunya kami akan selalu melihat peluang di manapun,” ujar dia.

Kino sebelumnya menuntaskan akuisisi perusahaan India, Linanda Consumer India Private Limited. Akuisisi ini bertujuan untuk memperluas ekspansi Kino Indonesia di mancanegara. Perseroan membeli saham Linanda Consumer India dengan nilai INR 10 ribu atau Rp 2,02 juta.

Selain itu, Kino International Pte Ltd yang merupakan anak usaha Kino Indonesia juga mengakuisisi Linanda Consumer India dengan nilai INR 90 ribu atau Rp18,19 juta.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN