Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung mendokumentasikan layar elektronik yang menampilkan pergerakan IHSG, di Bursa Efek Indonesia, di Jakarta. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pengunjung mendokumentasikan layar elektronik yang menampilkan pergerakan IHSG, di Bursa Efek Indonesia, di Jakarta. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

HUT PASAR MODAL KE-43 (BAGIAN 3 - HABIS)

Mengukir Rekor Baru di Pasar Modal Lewat Digitalisasi

Sabtu, 8 Agustus 2020 | 14:05 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

Tanggal 10 Agustus 2020 adalah Hari Ulang Tahun (HUT) Pasar Modal Indonesia ke-43. Hal itu terhitung sejak diaktifkannya kembali pasar modal pada 10 Agustus 1977. Sebab itu, Investor Daily menerbitkan tiga tulisan berseri pada 6-8 Agustus. Tulisan ini adalah bagian ketiga atau terakhir.

***

Krisis selalu menghadirkan dua sisi, termasuk dalam dunia investasi. Di media sosial kerap muncul lelucon dalam bentuk meme yang berseru jika tahun 2020 sebaiknya dihapus dari sejarah saking kacaunya. Namun, Bursa Efek Indonesia (BEI) justru mengukir sejumlah rekor baru. Salah satu faktor pendorongnya adalah digitalisasi.

Pasar modal Indonesia ternyata sudah memiliki 3,02 juta single investor identification (SID) per 31 Juli 2020. Jumlah itu meningkat 21,77% dari akhir tahun lalu yang sebanyak 2,48 juta SID. Hal ini membuktikan ada kenaikan signifikan investor khususnya ritel selama pandemi Covid-19.

Pelaku pasar tentu tidak lupa saat IHSG terperosok tajam 4,9% dalam sehari ke level 3.989,52 pada 23 Maret 2020. Setelah itu, efek kejut memang belum reda, tapi sejatinya banyak investor yang sudah move on.

IHSG tercatat kembali menggeliat masuk ke level psikologis 5.000 dan mencetak nilai transaksi tertinggi Rp 13,53 triliun dengan rekor frekuensi tertinggi, yakni 930.509 kali pada 8 Juni 2020. Periode Juni turut merekam rekor baru yang lain, yakni pertama kalinya volume transaksi investor ritel melebihi investor institusi secara bulanan.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Octavianus Budiyanto mengatakan, kenaikan jumlah investor yang berujung pada membesarnya volume transaksi, sebagian besar terbantu oleh program simplikasi pembukaan rekening efek elektronik. Program tersebut oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi diluncurkan pada kuartal I-2019.

“Kalau bicara soal digitalisasi dan efek dari simplikasi pembukaan rekening ini, saya angkat jempol untuk OJK. Perusahaan sekuritas juga bisa lebih efisien dari sisi operasional karena tidak perlu buka banyak kantor cabang di daerah,” jelas dia kepada Investor Daily, Jumat (7/8).

Kemudahan pembukaan rekening menjadi titik tolak baru, dimana sejumlah sekuritas kian berlomba-lomba menjaring investor ritel. PT Indo Premier Sekuritas adalah salah satu yang paling gesit. Di Indonesia, Indo Premier adalah perusahaan pertama yang mengenalkan terobosan baru berupa pembukaan rekening efek tanpa perlu tanda tangan basah calon investor sejak Oktober 2018. Prosesnya pun kurang dari 1 jam.

Saat pandemi, relaksasi tersebut kian terasa bagi investor ritel. Hal ini ditambah lagi oleh faktor uang yang menganggur. Saat toko dan pusat belanja mempersingkat jam operasional, masyarakat jadi punya dana untuk berinvestasi. Kualitas investor dalam literasi keuangan juga dinilai meningkat.

“Teman-teman di asosiasi banyak yang bilang, investor sudah paham mana yang saham gorengan dan mana yang berkualitas. Mereka ternyata punya banyak waktu untuk mengedukasi diri sendiri selama pandemi,” kata Octavianus.

Pergeseran model bisnis selama pandemi turut diakui oleh sejumlah sekuritas. Sekretaris Perusahaan PT BNI Sekuritas Dedi Arianto mengatakan, pihaknya mencatat terjadi kenaikan investor ritel sekitar 40 ribu nasabah baru selama masa pandemi. Pada pertengahan Juli 2020, jumlah akun online trading BNI Sekuritas, yakni Bions, sekitar 160-an ribu.

Sementara itu, PT Mandiri Sekuritas telah memperoleh peningkatan lebih dari 26 ribu nasabah baru segmen ritel selama semester I-2020. Saat ini, perseroan memiliki 145 ribu nasabah baru yang terdorong oleh peluncuran sistem online account opening (OAO) versi ke-3 pada Februari lalu. Sebanyak 80% nasabah Mandiri Sekuritas tercatat berasal dari akun online.

Direktur Mandiri Sekuritas Theodora VN Manik mengatakan, pihaknya menargetkan perolehan untuk investor ritel bisa mencapai sebesar 150 ribu nasabah. Hal itu seiring dengan perseroan yang tengah melakukan perbaikan platform digital agar mudah untuk digunakan. 

Adapun digitalisasi di pasar modal melahirkan pula asosiasi baru, yakni Perkumpulan Agen Penjual Reksa Dana Online (Paperdo). Sekretaris Jenderal Paperdo Fahmi Arya mengatakan, asosiasi ingin membangun ekosistem yang sehat di industri reksa dana dengan cara saling berkolaborasi.

Pihaknya mengakui, sejumlah oknum di media sosial belakangan membuat nuansa berinvestasi menjadi keruh dengan argumen yang menyerang kelemahan sebuah produk investasi. “Industri ini bisa lebih berkembang tanpa harus saling menjatuhkan orang lain,” ujar dia.

Lebih Kreatif

Tahun ini, OJK berencana lebih mempermudah masyarakat dalam melakukan transaksi reksa dana. Skema yang dilakukan adalah mengoptimalkan penggunaan uang elektronik (e-money) sebagai transaksi pembayaran industri reksa dana. Rencananya, akan ada sentralisasi pembayaran secara elektronik dengan memanfaatkan Investment Fund Unit Account (IFUA) yang diadministrasikan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Uang elektronik sebagai transaksi pembayaran bisa menambah alternatif pembayaran reksa dana di luar perbankan. Dengan banyaknya alternatif pembayaran, maka pelaku industri reksa dana bisa meraih investor ritel secara masif dan mudah melalui ekosistem e-commerce yang sudah menggunakan e-money sebagai sistem pembayaran.

Ekosistem digital di pasar modal juga semakin dimeriahkan oleh penawaran umum perdana saham secara elektronik (electronic initial public offering/e-IPO) mulai tahun depan. Hal ini akan menjadi salah satu tolak ukur transparansi.

Pandemi memang belum berakhir dan sampai saat ini belum ada yang memastikan kapan wabah Covid-19 benar-benar bisa lenyap. Untuk menjaga kesehatan fisik dan akal sehat, lebih baik tidak kehilangan harapan. Tak ada pula larangan untuk berandai-andai terhadap peluang investasi ke depan.

Seperti optimisme dalam film The Social Network yang mengisahkan saat berdirinya Facebook. Begini salah satu dialog di film tersebut, “A million dollars isn't cool. You know what's cool? A billion dollars.”

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN