Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu proyek Adhi Karya. Foto: Joanito

Salah satu proyek Adhi Karya. Foto: Joanito

Mengukur Perlambatan Pertumbuhan Adhi Karya

Kamis, 9 Juli 2020 | 04:30 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Adhi Karya Tbk (ADHI) masih menghadapi perlambatan pertumbuhan tahun ini akibat pandemi Covid-19. Wabah tersebut telah berimbas pada sepinya tender proyek baru konstruksi dan melambatnya pengerjaan proyek yang sedang digarap perseroan.

Analis Mirae Asset Sekuritas JoshuaMichael mengungkapkan, realisasi kontrak baru BUMN konstruksi tahun ini hanya mencapai 52% dari total target yang telah direncanakan pada awal tahun.

Hal ini didasari bahwa tender sejumlah proyek pemerintah akan mulai berlangsung mulai Agustus tahun ini, karena terhambat pandemi Covid-19. Namun, apabila pandemic memburuk, tender proyek konstruksi bisa mundur hingga kuartal III-2021. Hal itu akan membuat perolehan kontrak baru emiten BUMN konstruksi turun drastis atau diperkirakan hanya mencapai 30% dari total target tahun ini.

Sedangkan pendapatan emiten konstruksi diperkirakan turun 17% tahun ini dan 11% pada 2021.

“Begitu juga dengan raihan laba bersih diperkirakan terpangkas 56% tahun ini dan turun sekitar 21% pada 2021. Sejumlah perusahaan konstruksi juga akan terimbas penerapan PSAK 73 yang akan membuat peningkatan impairment loss,” tulis Joshua dalam risetnya, baru-baru ini.

LRT PT Adhi Karya Tbk. Foto: Perseroan.
LRT PT Adhi Karya Tbk. Foto: Perseroan.

Kondisi tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas memangkas target keuntungan Adhi Karya pada 2020 dan 2021. Sedangkan perkiraan pendapatan perseroan tahun ini direvisi naik dari Rp 12,97 triliun menjadi Rp 13,49 triliun.

Hal itu didukung oleh progress pengerjaan proyek tol perseroan yang berjalan lebih cepat dari estimasi semula. Namun, proyeksi laba bersih direvisi turun lebih dalam dari Rp 311 miliar menjadi Rp 3 miliar tahun ini.

“Kami memperkirakan perolehan laba bersih perseroan tahun ini akan lebih rendah dari estimasi semula. Pemangkasan perolehan laba bersih dipengaruhi oleh rendahnya margin keuntungan proyek LRT atau di bawah perkiraan awal,” sebut dia.

Berdasarkan data, margin keuntungan (gross margin) LRT Jabodetabek turun dari 10,1% pada kuartal IV-2019 menjadi -11,8% pada kuartal I-2020. Margin kotor proyek ini diharapkan kembali positif menjadi 5% sepanjang tahun ini.

Begitu juga dengan target penyelesaian proyek ini diperkirakan mundur dari perkiraan semula seiring dengan pandemi Covid-19.

“Kami memperkirakan progress penyelesaian proyek ini hanya mencapai 80-85% tahun ini atau di bawah estimasi semula 95%. Hal ini membuat jangka waktu pengerjaan proyek tersebut akan mundur hingga satu tahun menjadi Juni 2021,” jelas Joshua.

Adhi Karya. Foto: IST
Adhi Karya. Foto: IST

Meski demikian, Mirae Asset Sekuritas menaikkan rekomendasi saham ADHI menjadi hold dengan target harga Rp 700. Target harga tersebut telah mempertimbangkan revisi turun target perolehan kontrak baru perseroan tahun ini dari Rp 19 triliun menjadi Rp 12,5 triliun dibandingkan realisasi tahun lalu yang senilai Rp 14,7 triliun.

Sementara itu, analis Sinarmas Sekuritas Kharel Devin Fielim mengungkapkan, sektor konstruksi masih didukung oleh sejumlah sentiment positif yang diharapkan menopang kinerja keuangan tahun ini.

Semisal, Bappenas memproyeksikan belanja infrastruktur Indonesia akan bertahan sebesar 43% dari total PDB 2019. Indonesia menempati urutan ke-72 dari 140 negara terkait pembangunan infrastruktur.

Sedangkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran diperkirakan bertambah 3,7 juta akibat pandemi Covid-19.

“Kami meyakini bahwa sektor konstruksi merupakan salah satu prioritas pemerintah untuk memangkas jumlah pengangguran akibat Covid-19. Karena itu, kami memperkirakan sebanyak 9,6 juta tenaga kerja akan terserap di sektor ini pada 2021-2025 atau setara dengan 6,8-8% dari total tenaga kerja,” tulis Kharel dalam risetnya.

Selain itu, pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap proyek infrastruktur negara. Sektor konstruksi diperkirakan kembali bangkit setelah adanya relaksasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

“Di bawah PEN, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 12,2 triliun untuk mendukung pengembangan infrastruktur di beberapa BUMN,” jelasnya.

Dukungan lainnya adalah alokasi anggaran infrastruktur dalam APBN tahun ini yang mencapai Rp 378,7 triliun atau setara dengan 13,8% dari total anggaran Pemerintah Indonesia.

“Kami memperkirakan bahwa pemerintah akan melanjutkan dukungan terhadap belanja infrastruktur sebagai kunci sukses ekonomi dan lapangan kerja,” ungkap dia.

Salah satu program prioritas pemerintah adalah pengembangan Ibu Kota baru yang ditargetkan mulai awal tahun 2021. Proyek ini akan menelan investasi berkisar Rp 466 triliun yang diharapkan menjadi faktor pertumbuhan kinerja keuangan emiten BUMN konstruksi ke depan.

Sebab itu, Sinarmas Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham-saham emiten konstruksi.

Salah satu kegiatan konstruksi Adhi Karya. Investor Daily/DAVID GITAROZA
Salah satu kegiatan konstruksi Adhi Karya. Investor Daily/DAVID GITAROZA

Terkait Adhi Karya, menurut Kharel, perseroan telah mengantongi kontrak baru senilai Rp 3,2 triliun hingga Mei 2020 atau setara dengan 9,1% dari target kontrak baru 2020. Tahun ini, kontrak baru perseroan diperkirakan lebih rendah, yaitu hanya mencapai Rp 13,5 triliun, akibat penundaan sejumlah tender kontrak infrastruktur.

Selain penundaan tender proyek, Adhi Karya juga terimbas sentimen negative dari pengerjaan proyek LRT Jabodetabek yang diperkirakan melambat. Perlambatan terjadi setelah Indonesia dilanda pandemic Covid-19. Penyelesaian proyek ini diperkirakan mundur dari target awal Desember 2021 menjadi Juli 2022.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN