Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang investor memantau pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta, beberapa waktu lalu. Foto ilustrasi:  Investor Daily/David Gita Roza

Seorang investor memantau pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta, beberapa waktu lalu. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

FOKUS PASAR:

Meski Surplus Meningkat, Tingginya Defisit Tiongkok Batasi Gerak Indeks

Senin, 18 Januari 2021 | 09:27 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id - Fokus pasar pada awal pekan ini tertuju pada pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan surplus neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2020. Membaiknya neraca perdagangan Indonesia juga meningkatkan Consumer Confidence menjadi 96,5 poin dari sebelumnya 92,0 poin.

PIlarmas Sekuritas menjelaskan, pada akhir tahun 2020 lalu, Indonesia berhasil mencatatkan surplus nilai ekspor naik sebanyak 8,39% secara bulanan dan 14,63% secara tahunan.

“Sedangkan impor menurun 0,47% secara bulanan dan naik 14% apabila dibandingkan dengan data keseluruhan tahun 2019,” jelas Pilarmas dalam riset harian, Senin (18/1).

Lebih lanjut, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) merincikan Indonesia memperoleh surplus perdagangan dari Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 1,23 miliar. Akan tetapi, meningkatnya impor dari Tiongkok berjumlah US$ 550,1 juta pada Desember 2020 lalu, menjadi penyumbang defisit terbesar US$ 1,12 miliar, hal yang sama juga diberikan oleh Australia yaitu US$ 260,2 juta dan Brasil US$ 203,3 miliar.

Adapun berdasarkan pangsa pasarnya, Tiongkok masih memegang porsi tertinggi, yaitu 34,28% dari total impor pada periode tersebut, diikuti dengan pangsa ekspor nonmigas tertinggi sebesar 21,39% dari total ekspor.

“Sehingga surplusnya neraca perdagangan tersebut tidak direspon positif oleh pelaku pasar dimana IHSG ditutup dalam zona merah. Kami melihat saat ini pelaku pasar telah melakukan perhitungan dimana kenaikan harga sejak Senin telah merefleksikan data tersebut,” ujar Pilarmas.

Dengan demikian, Pilarmas mengatakan, pekan ini IHSG diproyeksikan bergerak lebih terbatas, sejalan dengan para pelaku pasar yang akan mencermati strategi Bank Indonesia (BI) dalam mengatasi hal tersebut untuk menjaga stabilitas moneter.

Meski demikian, Pilarmas berharap peresmian Sovereign Wealth Fund atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI) Indonesia yang aktif pada bulan Januari dapat menjadi trigger positif bagi pergerakan saham. Selain itu, pelantikan Joe Biden diharapkan memberikan harapan baru bagi AS di tengah situasi dan kondisi sulit akibat Covid-19.

“Sebab itu, pidato Joe Biden akan sangat dinantikan oleh dunia. Pada minggu ini, fokus akan terpecah menjadi tiga isu utama menarik dan menjadi acuan para investor untuk berinvestasi,” pungkas Pilarmas.

Sementara itu, Goldman Sachs Group Inc. memproyeksikan perekonomian AS pada tahun ini akan menunjukan perbaikan apabila program stimulus sebesar US$ 1,9 triliun yang direncanakan oleh Presiden terpilih Joe Biden berhasil dilakukan.

Goldman menjelaskan, dengan adanya stimulus ini perekonomian AS dapat menjadi sentimen positif bagi perekonomian AS. Pihaknya memproyeksikan peluang pertumbuhan mencapai 6.6%, lebih baik dari sebelumnya yang berada di 6.4%. Membaiknya perekonomian tentu dapat meringankan tingkat pengangguran pada akhir tahun 2021, menjadi 4.5%, dari sebelumnya 4.8%.

“Perbaikan proyeksi tersebut sejalan ekspektasi dan harapan yang akan dilakukan oleh Joe Biden untuk Amerika yang dibantu oleh Partai Demokrat yang mendominasi mulai dari DPR hingga Senat. Hal ini sejatinya meningkatkan peluang persetujuan stimulus untuk berbagai sektor,” papar Pilarmas.

Di sisi lain, kabar stimulus ini nyatanya tak mampu mengangkat kinerja Dow Jones yang ditutup menurun hingga 177,3 poin atau 0,57% ke level 30814 pada akhir pekan lalu.

Indeks lainnya semisal Nasdaq tercatat menurun 114,1 poin atau 12,999, kemudian indeks Standard & Poor 500 terkoreksi 0,72% di level 3768, lalu FTSE turun 0,97% pada level 6,736, CAC melemah 1,22% dan terakhir Indeks IDX dan LQ45 masing-masing terpangkas 0,85% dan 1,36%.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN