Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR). Foto: Perseroan.

PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR). Foto: Perseroan.

Meski Tidak Auto Reject Atas, Saham Adaro Minerals (ADMR) Kembali Naik

Jumat, 14 Januari 2022 | 16:55 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, Investor.id - Harga saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) kembali lanjutkan penguatan, meski tidak mengalami auto reject atas (ARA), pada penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham ADMR ditutup naik Rp 55 (7,48%) menjadi Rp 790.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham ADMR bergerak dalam rentang Rp 700-890 dengan nilai transaksi Rp 303,5 miliar. Bahkan, saham ADMR sempat terkoreki di awal perdagangan hari ini. Pemodal asing merealisasikan penjualan bersih (net buy) saham ADMR mencapai Rp 2,41 miliar.

BEI sebelumnya menghentikan sementara perdagangan saham ADMR pada 13 Januari 2022 akibat lonjakan harga hingga 635% dari Rp 100 menjadi Rp 735. Sedangkan pembukaan kembali perdagangan (unsuspend) saham ADMR dilaksanakan mulai sesi I hari ini.

Terkait lonjakan harga saham ADMR, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Adaro Minerals Heri Gunawan dalam keterangan resminya di BEI menyebutkan bahwa transaksi saham perseroan di bursa murni merupakan mekanisme pasar. Perseroan tidak memiliki informasi maupun fakta penting lainnya yang material yang dapat mempengaruhi harga efek perseroan yang belum diungkapkan ke publik. “Perseroan sebagai pelaku usaha fokus untuk menjalankan kegiatan usaha,” tulisnya

Baca juga: Melonjak 635%, BEI Suspend Saham Adaro Minerals (ADMR)

Adaro Minerals sudah menggelar IPO dengan melepas sebanyak 6,05 miliar saham atau setara degnan 15%. Saham tersebut dilepas direntang harga Rp 100, sehingga total dana yang diraup dari aksi korporasi ini Rp 604,86 miliar.

Sebelumnya, Adaro Minerals melalui prospektus permintaan batu bara metalurgi berkaitan erat dengan peningkatan permintaan besi baja. Sedangkan permintaan besi baja dipengaruhi atas peningkatan aktivitas perekonomian negara. Dengan kondisi ekonomi global yang terus membaik setelah dihantam pandemi Covid-19, permintaan besi baja diperkirakan kembali meningkat.

Batu bara metalurgi dijual ke produsen baja yang digunakan untuk memproduksi pig iron/baja. Produsen baja mengubah batu bara menjadi kokas dalam oven kokas, kemudian memasukkan kokas ke blast furnace bersamaan dengan bijih besi dan fluks. Sedangkan jenis batu bara yang diproduksi perseroan adalah hard coking coal (HCC), semi hard coking coal (SHCC), dan green coal (GC).

Kondisi tersebut akan berimbas terhadap kenaikan permintaan batu bara metalurgi ke depan. Permintaan impor terbesar diperkirakan tetap berasal dari Tiongkok, India, Vietnam, dan Turki setidaknya dalam 10 tahun mendatang. Permintaan batu bara metalurgi juga diperkirakan datang dari sejumlah negara lainnya.

Baca juga: Saham ADMR Auto Reject Atas, Asing Crossing Rp 346,51 Miliar

Adaro Minerals memproyeksikan bahwa permintaan batu bara metalurgi bakal meningkat dari 331 juta ton pada 2020 menjadi 401 juta ton pada 2040. Sedangkan Tiongkok tercatat sebagai importir terbesar sebanyak 80 juta ton pada 2020, India sebanyak 62 juta ton, dan Jepang sebanyak 55 juta ton.

Ketiga negara tersebut diprediksi tetap menjadi importir batu bara metalurgi hingga tahun 2040 dengan perkiraan impor Tiongkok meningkat menjadi 79 juta ton, India bakal mencapai 109 juta ton, dan Jepang kemungkinan mencapai 48 juta ton.

Adaro Minerals sebelumnya menyebutkan bahwa cadangan dan sumber daya batubara yang dimiliki masih melimpah, yakni sebanyak 170,7 juta ton cadangan dan 980 juta ton sumber daya. Cadangan besar tersebut membuka peluang pertumbuhan bagi perseroan.

Hingga Agustus 2021, pendapatan Adaro Minerals menunjukkan lonjakan menjadi US$ 206,62 juta, dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 74,79 juta. Sedangkan laba tahun berjalan bertumbuh menjadi US$ 44,99 juta hingga Agustus 2021, dibandingkan periode sama tahun lalu dengan rugi periode berjalan US$ 18,63 juta. Total aset perseroan mencapai US$ 811 juta, liabilitis US$ 761,96 juta, dan ekutias mencapai US$ 49,03 juta.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN